Antara Malin Kundang dan ‘Kundang Malin’

Sahabat,

Ini ada tulisan dari seorang teman. Tulisan yang menurut saya bagus bagi kita untuk direnungkan. Terutama bagi kita yang telah dimanahi anak.

Semoga bermanfaat.

—————

Antara Malin Kundang dan ‘Kundang Malin’

Oleh: Abi Taqy

Kita tentu pernah mendengar kisah klasik ini, Malin Kundang. Kisah seorang anak yang durhaka pada ibunya. Sang ibu yang telah berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan dan membesarkannya tak mendapatkan hak sewajarnya dari sang anak. Penghinaan yang tak terkira. Itulah yang didapat Sang Ibu. Malin Kundang sang anak yang durhaka. Sungguh, semoga itu hanya ada dalam legenda saja.

Bagimana dengan kisah sebaliknya, Kundang Malin? Mungkin anda tidak pernah mendengar nama dan kisah Kundang Malin. Demikian juga saya, tak tahu pasti. Lalu siapa dan apa yang telah terjadi dengan Kundang Malin dan apa pentingnya kita mengetahuinya?

Untuk bisa menjadi guru atau dosen, ada sekolah dan ujian khususnya. Untuk bisa berpraktek menjadi dokter dan apoteker, pun ada jenjang pendidikan yang njlimet
dan panjang. Lalu, pernahkah kita berfikir mata kuliah apa yang telah kita selesaikan untuk menjadi orang tua? Jujur saja, tak satupun. Maka, jika ada istilah anak durhaka, sesungguhnya juga banyak orang tua yang durhaka. Mendurhakai anaknya sendiri. Untuk itulah, saya mengusulkan Kundang Malin.

Sebagai kebalikan dari Malin Kundang. Satu kisah dan perlakuan mengiris hati yang sering luput dari ingatan dan benak kita. Mungkin karena para orangtua sedang berkuasa. Kuasa atas kedudukan, pengaruh, jaringan dan hartanya yang melimpah. Mungkin, persis seperti kebanyakan politisi kita. Maka, kedurhakaan kepada pihak lain termasuk kepada darah dagingnya sendiri pun sering tak terasa olehnya. Duh Gusti….

Fauzil Adhim penulis muda yang produktif mengkampanyekan pentingnya menyayangi anak-anak pernah bertutur tentang Kundang Malin ini. Inilah cukilan kisah tersebut.

“Saya teringat dengan cerita seorang kawan yang mengurusi anak-anak jalanan. Suatu ketika ia menemukan seorang anak yang babak belur mukanya dihajar sesama anak jalanan karena berebut lahan di sebuah stasiun. Wajahnya sudah nyaris tak berbentuk. Anak ini kemudian ia selamatkan. Ia rawat dengan baik dan penuh kasih-sayang.

Setelah kondisi fisiknya pulih dan emosinya pun sudah cukup baik, ia tawarkan kepada anak itu dua pilihan; dipulangkan ke rumah orangtua atau dikirim ke sebuah lembaga pendidikan. Seperti anak-anak lain di muka bumi, selalu ada perasaan rindu pada orangtua. Maka ia mengajukan pilihan dipulangkan ke rumah orangtua. Staf dari kawan saya ini kemudian berangkat mengantarkan pulang ke sebuah kota di Jawa Tengah.

Nyaris tak percaya, orangtua anak itu ternyata memiliki kedudukan yang cukup terhormat. Bapaknya seorang jaksa dan ibunya seorang kepala sekolah sebuah SMP. Rumahnya? Jangan tanya. Mereka sangat kaya. Cuma satu yang mereka tidak punya: perasaan. Melihat anaknya yang sudah dua tahun meninggalkan rumah, tak ada airmata haru yang menyambutnya. Justru perkataan yang sangat tidak bersahabat, “Ngapain kamu pulang?”. Melihat sambutan yang sangat tidak bersahabat ini, staf teman saya segera mengajak anak itu kembali ke Jogja.

Tak ada airmata yang melepas. Tak ada rasa kehilangan dari orangtua saat anak itu kembali meninggalkan rumah.Yang ada hanyalah perasaan yang remuk pada diri anak. Di saat ia ingin dididik oleh orangtua yang menjadi pendidik di SMP, yang ia dapatkan justru sikap sangat kasar. Benar-benar perlakuan yang sangat kasar, menyakitkan dan menghancurkan perasaan. Jangankan anak yang masih usia SD itu, pengantarnya yang sudah dewasa pun merasakannya sebagai penghinaan luar biasa. Penghinaan tanpa perasaan, tanpa nurani dan tanpa kekhawatiran akan beratnya tanggung-jawab di yaumil-akhir. Karena itu, tak ada pilihan yang lebih baik kecuali menyingkirkan si anak dari orangtuanya yang durhaka ” (lebih jauh, baca di sini).

Saya yakin, tak seorangpun mau menjadi Kundang Malin. Atau apapun istilahnya, orang tua yang durhaka pada anak-anaknya. Maka semoga kisah di atas menjadi cermin hidup dan pemacu bagi kita untuk ‘berkhidmat’ bagi anak-anak kita. Anak-anak yang mungkin dilahirkan dari rahim kita, atau rahim orang-orang sekitar kita. Anak-anak bangsa.

Catatan kecil berikut ini hanyalah salah satu usaha sederhana untuk belajar menjadi orangtua bagi anak-anak yang telah terlahir ke dunia. Catatan kecil sebelum kita pergi meninggalkan mereka untuk selamanya.

Pertama, Berusahalah untuk diingat menjadi orang terbaik. Silahkan tinggalkan dunia ini jika kita telah yakin akan diingat oleh anak-anak kita menjadi orang terbaik yang pernah mereka miliki. Ketika mereka merasakan bahwa menjadi keturunan kita adalah anugrah terbaik dari Sang Khalik yang patut disyukuri. Ketika kita menjadi orang terbaik bagi mereka bukan karena kemewahan yang kita wariskan.

Tapi karena kita telah menjadi kawan dan sahabat terbaik mereka dalam keseharian. Menjadi guru dan panutan mereka dalam menghadapi kesulitan. Serta menjadi pembimbing dan penuntun mereka dalam mengarungi kehidupan. Wahai para ayah dan ibu, sudahkah hal ini kita tunaikan?

Kedua, Berusahalah untuk menjadi kebanggaan orang-orang tercinta. Silahkan tinggalkan dunia ini jika kita yakin telah menjadi kebanggaan anak dan pasangan hidup kita. Menjadi kebanggaan karena prestasi dan kontribusi kita terhadap nilai –nilai kemanusiaan yang kita emban. Karena itu berprestasilah selama kita hidup di dunia. Tidak peduli berapa tahun menghirup udara di dunia. Jejak kehidupan mereka tetap diingat anak keturunan bahkan manusia sepanjang sejarah karena prestasi dan kontribusinya bagi dunia.

Karena itu pula Sang Rasul Sang Junjungan yang mulia berpesan; ..”Khairukum liyanfa’ukum linnas”, sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Seberapa banyak kontribusi dan nilai kemanfaatan kita bagi manusia itulah yang harus senantiasa kita pikirkan dan kita wariskan bagi orang-orang yang kita cintai. Meminjam nasehat orang bijak, “ad dunya mazroatul aakhirah”, dunia adalah ladang untuk mencari bekal bagi akhirat. Dus, jika kita telah menorehkan prestasi hidup kita untuk kepentingan manusia seluasnya, silahkan tinggalkan dunia ini. Anak dan pasangan hidup, serta orang-orang tercinta yang kita tinggalkan pun akan bangga dan bersyukur pernah hidup bersama dengan orang yang begitu berarti bagi kehidupan dan umat manusia. Wahai para orangtua, prestasi apa yang telah ditorehkan untuk kepentingan dunia dan umat manusia yang akan engkau tinggalkan?

Ketiga, Berusahalah untuk menjadi contoh nyata bagi kehidupan mereka. Silahkan tinggalkan dunia ini jika kita yakin telah menjadi contoh hidup bagi anak dan keturunan kita. Umumnya, orangtua menginginkan agar anak keturunannya menjadi anak yang baik, bahkan yang terbaik. Bermanfaat bagi diri dan lingkungannya, menjadi qurrota a’yun bagi siapa saja yang bergaul dengannya. Namun, lihatlah tempat-tempat penyewaan play station yang menjamur di berbagai tempat.Anak-anak kita itu rela berjejal dan begitu khusyu’ di tempat-tempat penyewaan play station. Mereka rela menghabiskan waktunya berjam-jam untuk bermain sepak bola, balap mobil atau bahkan adu kekuatan fisik s
ekalipun hanya dengan memandangi layar kaca di depannya dan sedikit menggerakkan dua jempol jarinya.

Sampai kapan pun mereka tak akan pernah menjadi pemain sepak bola sungguhan. Mereka pun tak akan pernah menjadi seorang pembalap mobil beneran. Mereka juga tak akan pernah menjadi seorang Karateka untuk kelas kampung sekalipun.

Anak-anak itu lebih tergila-gila untuk berperan menjadi orang hebat di dunia maya. Bukan belajar yang sesungguhnya di dunia nyata. Barangkali karena kita selaku orang tua sangat sibuk dengan urusan kita masing-masing. Atau bahkan justru berfikir bahwa memberikan mainan ‘play station’ bagi mereka adalah solusi tepat agar mereka menjadi anak manis dan cerdas. Atau mungkin karena kita lebih pandai bercerita kepada anak-anak kita tentang tokoh-tokoh hebat masa lalu sementara kita kesulitan mencari tokoh nyata yang hidup masa kini.

Lalu, mengapa kita tidak mengisi kekosongan ruang bawah sadar anak-anak kita untuk menjadi contoh dan tokoh nyata masa kini bagi kehidupan mereka? Mengapa kita tidak menjadi contoh hidup bagi mereka tentang pentingnya sikap empati dan peduli bagi sesama? Tentang hidup dengan prestasi dan amal nyata. Tentang bagaimana menjadi part of the solution, bukan part of the problem bagi kehidupan ini.

Bukankah kehadiran orang-orang besar dan para pahlawan di tengah umat manusia selalu menawarkan solusi bagi orang-orang di jamannya? Maka, anak-anak pun akan mencontoh apa yang diperbuat dan dilihat dari orangtuanya. Wahai para ayah dan ibu, jika kehadiran kita telah menjadi part of the solution bagi orang-orang sekitar kita dan manusia pada umumnya, maka bolehlah lega sekiranya Sang Maut telah datang menjemput.

Keempat, Berusahalah untuk menginspirasi mereka agar menjadi lebih baik dari kita. Silahkan tinggalkan dunia ini jika kita yakin kehadiran kita di dunia telah menginspirasi mereka untuk menjadi lebih baik. Menjadi orang baik itu memang baik. Tapi seringkali kehadiran orang baik hanya berdampak pada dirinya. Tidak menjadi daya tarik bagi orang sekitarnya untuk mencontoh dan menjadi lebih baik dari kita. Karena itulah menjadi sangat penting bagi para orangtua agar kebaikan pada dirinya menginspirasi dan menjadi daya tarik bagi anak-anaknya untuk mencontoh dan mengikutinya.

Itulah yang dicontohklan oleh Al Khalil, Nabiyullah Ibrahim AS kepada kita. Kebaikan dan keshalehan pribadinya mampu menginspirasi dan membangkitkan kebaikan pada diri anak dan keluarganya. Sehingga anak-anak dan istrinya pun menjadi teladan umat manusia sepanjang masa. Bukan saja manusia pada jamannya. Tapi juga generasi kita saat ini yang hidup setelah beratus-ratus abad sesudahnya. Wahai para orangtua, nilai kebaikan apa, sekecil apapun kebaikan itu, pada diri kita yang telah menginspirasi anak dan keluarga kita untuk menjadi lebih baik dari diri kita?

Tidak masalah peran sosial apa yang (akan) diemban oleh mereka. Selagi pernik-pernik kebaikan yang senantiasa mereka tebarkan untuk keperluan sesama manusia, maka itulah salah satu sumber kebajikan.

Wahai para ayah dan ibu, jika itu telah dilakukan, barangkali tugas kita di dunia telah usai. Dan kita, para ayah dan ibu, boleh tersenyum lega ketika tiba saatnya meninggalkan dunia fana ini.

“ Yaa Rabb, limpahkanlah kepada kami pasangan hidup kami dan anak keturunan kami sebagai penyejuk mata kami dan jadikanlah mereka pemimpin bagi orang-orang yang beriman”.Amien.

Laverton, 23 Juni 2007,
Yang sedang belajar menjadi ayah.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s