Berburu Akomodasi via situs airbnb

‪#‎travelling‬ ‪#‎acommodation‬ ‪#‎airbnb‬

Travelling dan Mencari Akomodasi

Karena banyak teman yang posting kegiatan liburan, berikut akan saya share pengalaman saya menggunakan situs airbnb dalam mencari akomodasi, sekaligus merekomendasikan dua-tiga tempat yang pernah saya dan keluarga kunjungi ketika dalam perjalanan berlibur.

Pertama kali mengenal airbnb adalah ketika saya mencari akomodasi di internet. Awalnya tentu dengan modal googling yang mengantarkan saya ke beberapa link akomodasi. Mempelajarinya dan mengontak nomor yang disebut dalam web mereka. Sampai kemudian seorang pemilik akomodasi menyarankan saya mencari akomodasi di situs ini, karena rumah yang disewakannya sudah penuh. Maka akhirnya saya membuat akun di airbnb dan mencoba berburu akomodasi di situs ini.

Sepertinya saya agak terlambat mengenal airbnb, karena sepertinya situs ini sudah cukup dikenal di berbagai belahan dunia. Keunikan airbnb dibanding situs penyedia akomodasi lainnya, semisal booking.com, adalah dalam hal personalisasi pencarian. Kita bisa langsung menghubungi pemilik akomodasi tanpa perantara pihak ketiga. Bertanya jika ada hal yang tidak jelas. Berbalas message atau bahkan telepon. Interaktif.

Untuk daerah dengan destinasi wisata populer, hampir semua jenis akomodasi bisa dihunting di airbnb. Mulai dari shared room, private room, apartemen, atau satu rumah lengkap dengan isinya.Harganya juga bisa disesuaikan dengan kemampuan kantong. Lebih jauh, sebagai member airbnb, kita juga bisa menawarkan akomadasi yang kita punya. Ini tentu peluang bisnis online lain bagi mereka yang hobi berdagang, seperti orang Padang🙂

Sebagai newbie di airbnb, saya tentu agak khawatir juga menggunakan media sosial ini dalam menentukan akomodasi. Tapi tak salah jika dicoba. Modal utama kita dalam memutuskan pilihan adalah dengan membaca baik-baik testimoni member lainnya pada akomodasi yang kita target. Semakin banyak orang yang memberi kesaksian positif, tentu itu akan menguatkan pilihan kita.

Berikut tiga tempat yang kami pernah hunting via airbnb. Overall, kesan kami dengan akomodasi ini memuaskan. Recommended jika ada kawan-kawan di sini yang juga mau mencoba like emoticon.

1. Gold Coast – Cosy Family Flat

Saya pikir kami beruntung pernah menginap di flat dua kamar yang berlokasi hanya 10 menit dari airport ini. Selain fasilitas flat yang lengkap (hampir semua kebutuhan dasar layaknya hotel berbintang tersedia), juga karena sambutan tuan ramah yang sangat ramah dan membantu. Yang paling penting tentu adalah harganya yang tergolong murah untuk ukuran fasilitas yang mereka sediakan.

Silahkan lihat-lihat gambar dan testimoni lebih 400 tamunya di link berikut. Jika ada kawan yang akan berlibur ke Gold Coast, sekali lagi tempat ini sangat recommended. like emoticon

https://www.airbnb.com.au/rooms/1274345

IMG_1844

2. 12 Apostles, Port Campbell – House on the Hill

Walaupun tidak terlalu murah (sekiat $234/night), tetapi sebanding dengan fasilitas yang mereka sediakan. Ini adalah sejenis rumah tiga kamar di atas bukit dengan pemandangan langsung mengarah pantai. Bisa untuk dua keluarga (7-8 orang). Fasilitas rumah lengkap, termasuk dapur dan kamar mandi yang bersih. Hanya sekitar 10 menit ke 12 Apostles. Kecuali terkait wifi connection yang terbatas (maksimal 30 menit/hari), overall kami puas tinggal di akomodasi ini.

Silahkan lihat-lihat gambar dan testimoni orang lain di link berikut.

https://www.airbnb.com.au/rooms/4000888

IMG_2189

 

3. Singapore – City Centre Family Room

Ini salah satu akomodasi apartemen murah di kawasan jantung kota Singapura (sekitar 5 menit dari Orchard road pakai bus). Sewanya mulai dari $65/malam. Menawarkan kamar single, shared, atau kamar untuk keluarga. Bersih. Terawat baik. Punya sistem keamanan yang baik. Di bawah apartemen, ada banyak resto atau tempat jual makanan yang buka hampir 24 jam. Termasuk makanan halal

Satu-satunya yang agak menantang di apartemen adalah karena letaknya di lantai 2, dan mereka tidak punya lift. Jadi harus naik turun tangga. Lumayan tinggi. Lumayan buat olahraga

Recommended untuk paket hemat jika ke Singapura. Colek om Ardian Wahyu Setiawan yang bentar lagi akan ke negeri Singa ini smile emoticon

Lihat gambar dan testimoni dari ratusan orang lainnya di sini:

https://www.airbnb.com.au/rooms/9246489?s=uLohuSIS

 


Demikian sharing pengalaman dari saya. Silakan jika ada teman-teman yang mau mencoba, bisa sign up lewat invitation dari akun saya. Langsung dapat bonus $28 smile emoticon

www.airbnb.com.au/c/afriantoa?s=8

Semoga bermanfaat.

Selamat berlibur panjang buat semua!


*colek semua yang suka jalan Ekro Man Asril Sikumbang Diana Chitra Hasan, Maulid Hariri Gani, Wayan Lessy, LuLu Basmah, Vitrio Naldi, Noor Huda Ismail, dll smile emoticon

* foto, dokumen pribadi, keluarga saya dengan keluarag Sean and Kim, host saat menginap di Gold Coast.

 IMG_1842

Hati-Hati, Penipuan di Facebook!

Sahabat sekalian.

caution!Saya ingin share tentang kejadian yang saya alami tadi pagi ketika saya dihubungi via message inbox oleh seorang teman lama saya saat kuliah dulu. Sapaan yang dengan cepat saya deteksi sebagai komunikasi yang aneh dan berbau penipuan itu akhirnya terbukti adalah benar sebagai bentuk penipuan. Alhamdulillah.

Seharusnya saya share cerita ini segera setelah kejadian tadi pagi (sekitar jam 7.00 WIB) agar teman-teman lain juga aware dan tidak menjadi korban. Namun, tadi saya memilih untuk mengerjakan yang lain dulu. Ada tugas yang harus saya setor segera ke supervisor. Toh, saya sudah langsung hubungi suami teman saya itu. Sehingga dia tahu apa yang terjadi dengan account FB istrinya.

Berikut bagian transcript percakapan saya dengan si penipu. Mungkin anda bisa mengenal pola komunikasinya. Sehingga jika komunikasi seperti ini anda alami, anda juga bisa dengan cepat bisa mendeteksinya sebagai sesuatu yang pantas dicurigai. Inisial AR pada percakapan mengacu pada Abu Raudha, sementar DA refer pada Defi Adri (bukan nama sebenarnya).

Perhatikan respon dan analisa saya di dalam kurung.

DA: Assalammualaikum
AR: Waalaikumussalam. Apa kabar adek. Tumben nyapa smile emoticon

DA: hehe. Alhmdulilah baek
rencna nak mnta tolong sbnta nto bs ndak ,,

AR: Yo. Apo tuh
DA: nto, bs pinjm saldo ndak di ATM nto.
buek kirm ka sanak dek sakik nto
insyallah bsuak ala dek ganti nto

(dari cara dia request pertama kali, saya sudah feeling, bahwa sepertinya ini bukan dari teman saya. terlalu to the point. tidak pakai basa-basi. apalagi janji besok mau diganti. terlalu cepat, menurut saya)

AR: Sia sakik dek
DA: sanak dek nto

(Jawaban ini juga mencurigakan, karena terlalu umum. Untuk ukuran minjam uang ke teman, seharusnya dia bisa mention lebih spesifik siapa anggota keluarganya yang sakit.)

DA: lai bs ndak nto

AR: Buliah. Paralu bara
DA: low ado adek pinjm 3jt nto
janji bsuak ala dek ganti nto..
low ndak ado, bra yg ado sjo nto ndak baa

(ini hal mencurigakan yang lain. minjam tiga juta, kalau gak ada, langsung banting seberapanya aja, padahal saya belum jawab ada atau tidak ada – tidak normal. Yang nipunya juga gak terlalu pintar kayaknya :p)

AR: Dikirim kama

(saya sengaja mancing dengan pertanyaan ini, karena salah satu kunci penipuan adalah pada nomor rekening. Jika orang yang menghubungi anda, meminta transfer uang ke rekening orang yang berbeda – bukan atas nama dia sendiri, hampir 90 persen adalah penipuan).

DA: Ka rek sanak adek, nto..
(Ups, saya mulai mendapatkan clue yang lebih jelas)

Nto pkai ATM bank apo kirmnyo..

AR: Apo Ajo lah

(sengaja saya tak menyebut bank tertentu, karena saya ingin tahu bank apa yang dia prefer. Menurut saya, bank yang pertama kali dia sebut adalah bank yang paling dekat dengannya. Atau adalah rekening atas namanya sendiri. Saya ingin tahu nama aslinya)

DA: lai bs kan nto kirmnyo skrng ..

(perhatikan, dia terus mendesak sekarang juga. Kelihatan kan dia kepengen cepat-cepat, biar bisa dapat transferan uang cepat)

AR: Kirim lah dulu rekening nyo

DA: iko noreknyo sanak adek nto , 0622.0102.5888.XXX ats nmo Heri SXXXXX E bank BRI

(Sampai di sini, saya 90 persen sudah yakin, ini pasti bukan teman saya. Saya ingin menguji dengan satu tes lagi, memancingnya berkomunikasi dengan bahasa Inggris. karena saya tahu teman saya adalah guru bahasa Inggris. Jika ada teman yang bekerja di BRI bisa melacak siapa sebenarnya pemilik rekening ini, nanti detail rekeningnya saya kirim :-))

AR: But, why don’t you use your own account?

(lama sekali dia pause, tidak menjawab. Mungkin dia sedng mencari google translate untuk menjawab pertanyaan saya grin emoticon. Saya kemudian search nama yang ada pada rekening di FB. Hanya beberapa detik, langsung nemu. Saya save satu fotonya, dan kemudian saya kirim pada si penipu ini.

AR: I got you wink emoticon — Mau saya lapor ke polisi?


Si DA kemudian langsung memperlihatkan siapa aslinya. Marah-marah. Menantang saya jika bisa membuktikan dimana posisinya. Apa memang saya bisa melaporkannya ke polisi. Beberapa nama binatangpun berhamburan dari tulisannya. Sejurus, saya kemdian blok akun teman saya tadi itu. Saya segera hubungi suami teman saya. Memberi tahu bahwa akun istrinya sudah dihack orang. Meminta dia membuat pengumuman di akun FBnya sendiri, memberi tahu tentang ini. Biar tidak ada korban.

Saya bersyukur siang tadi, saya perhatikan beberapa teman sudah posting pemberitahuan serupa. Semoga tak ada yang terlanjur jadi korban.


Morale of the story:

1. Internet adalah hutan belantara. Pastikan keamanan akun FB anda. Jangan sampai jatuh ke tangan pendekar berwatak jahat. Pastikan log out jika anda online di komputer umum. Atau tukar password anda secara berkala. Gunakan sandi yang susah ditebak. Gabungan angka, huruf besar kecil, dan simbol adalah sandi yang kuat.

2. Walau tentu tetap berusaha positive thinking, untuk komunikasi sejenis dia atas (meminta kiriman duit, kirim pulsa, mengajak berbisnis, atau bahkan mengajak kencan) akan lebih baik jika anda punya early warning system dalam diri anda. Saya lebih memilih untuk curiga terlebih dahulu berkomunikasi dengan ‘orang tak jelas’ di dunia maya, sampai saya bisa buktikan bahwa orang yang menghubungi saya bukanlah spam apalagi penipu.

Demikian! Semoga bermanfaat! Silahkan dishare jika bermanfaat!

Buku Rapor Deskriptif di SD Australia

#bestpractice
#basic-education
#australian-education

Buku Rapor Deskriptif

Seperti pernah saya niatkan, diantara postingan saya dengan tema lain, saya akan melanjutkan pembahasan saya terkait beberapa best practice di Pendidikan dasar Australia. Ada beberapa tema lagi yang ingin saya bahas, namun berdasarkan request seorang kontak, kali ini saya akan bercerita tentang bentuk buku lapor anak-anak SD di sini, persisnya di SD dimana anak saya bersekolah (CNPS).

Sebelumnya perlu saya katakan bahwa sistem SD di sini tidak mengenal ujian semester seperti halnya kita; juga tidak ada istilah tinggal kelas. Penilain lebih banyak berbasis penilaian portfolio dan penilaian proses. Di akhir tahun ajaran, semua anak akan tetap melaju pada grade berikutnya sesuai dengan perkembangan usianya. Dengan demikian, tidak akan ditemukan pada buku lapor anak-anak di sini yang berisi tinggal atau naik kelas.

Kalaupun ada ujian, semisal NAPLAN (The National Assessment Program – Literacy and Numeracy); namun ini bukanlah ujian untuk naik kelas atau lulus SD. Ujian ini lebih sebagai alat pemerintah untuk memperoleh data capaian kemampuan siswa di mata pelajaran Baca Tulis dan Matematika. Mungkin di lain waktu saya perlu bahas NAPLAN ini dalam kaitannya dengan Ujian Nasional yang kita punya.

Kembali tentang buku lapor, sebagaimana layaknya buku laporan perkembangan sisiwa, lapor di sini berfungsi sama, yaitu memuat laporan perkembangan anak didik selama fase tertentu di sekolahnya. Sekali lagi, Titik tekannya adalah pada poin laporan perkembangannya, bukan pada sekedar apa yang sudah dicapai anak pada masa tertentu.

Dibanding buku lapor anak didik kita di Indonesia, perbedaan paling mencolok dari buku laporan di sini adalah pada bentuk laporan penilaian yang deskriptif ketimbang kuantitatif dalam bentuk angka – sebagaimana halnya kita.

Untuk lebih jelas, perhatikan beberapa foto gambar lembar lapor anak saya – Raudha (kelas 6 SD). Lapor deskriptif itu dimulai dengan memberikan deskrpisi umum (general commnent) terhadap capaian sisiwa dalam satu term terkakhir (perhatikan gambar 1).

Deskripsi Umum Tentang Siswa

Deskripsi Umum Tentang Siswa

Menarik memperhatikan untaian kalimat positif yang ditulis guru kelas Raudha. Nyaris tak ada laporan negatif. Saya yakin deskripsi dengan suasana yang sama juga diberikan pada siswa yang lain.

Deskripsi umumi ini kemudian diikuti penjelasan perkembangan dalam bentuk tabel dengan dengan dot dan atau garis titik titik yang menunjukkan pencapaian dan perkembangan pada kelasnya saat ini (gambar 2). Jika siswa pada kelas tertentu mencapai standar kurikulum yang diterapkan, maka dot hitamnya akan persis berada garis kelasnya. Jika kemampuannya belum mencapai standar kurikulum yang ditetapkan, atau malah melebihi standar, juga bisa dilihat pada posisi dot hitam itu.

Deskripsi Setiap Mapel

Deskripsi Setiap Mapel

Laporan itu menunjukkan bahwa perkembangan kemampuan Raudha sebagai siswa kelas 6 sukses mencapai standar kompetensi seorang siswa kelas 6 untuk semua mata pelajarannya. Raudha bahkan dilaporkan telah memiliki kemampuan siswa melebihi kelasnya. Raudha, misalnya, dinilai telah memiliki kemampuan sama dengan siswa kelas 7 (kelas 1 SMP) untuk pelajaran Thinking Process, Civic and Citizenship, dan beberapa mata pelajaran lainnya.

Laporan dalam bentuk dot poin ini tentu saja tidaklah cukup. Karenanya, guru kelas juga memberikan deskripsi yang lebih detail pada halaman berikutnya. Yaitu ketika guru mendeskripsikan pencapaian siswa dengan lebih deskriptif untuk setiap mata pelajaran. Dengan demikian, jika orang tua ingin tahu kemampuan apa saja persisnya yang telah dicapai anaknya pada subyek Bahasa Jepang, misalnya, maka orangtua bisa mengetahuinya pada detail tersebut (lihat gambar berikutnya).

Deskrpisi Lebih Detail Mapel

Deskrpisi Lebih Detail Mapel

Saya perhatikan deskripsi guru lebih fokus menceritakan pada apa yang sudah dicapai siswa; bukan pada apa yang tidak. Ini memungkinkan anak dan orangtua memiliki sikap positif pada pencapaian anaknya selama satu term itu. Namun demikian, guru kelas juga menyampaikan beberapa hal yang perlu bimbingan lebih jauh dari orangtua di rumah terkait kemampuan tertentu untuk pelajaran tertentu.

Yang juga menarik adalah bahwa dalam deskripsi ini ada penekanan khusus pada nilai USAHA. Ya, sepertinya penghargaan pada usaha siswa dalam proses belajar mendapat porsi yang spesial. Pada beberapa acara pemberian award, saya perhatikan bahwa cukup sering sekolah memberikan award khusus pada anak-anak yang menunjukkan usaha serius dalam belajar, terlepas dia sudah paham atau belum dengan apa yang dipelajari.

Intinya, sekali lagi, sekolah lebih mementingkan proses dan bukan hasil. Penekanan pada aspek kehadiran siswa adalah juga refleksi dari betapa pentingnya anak-anak memastikan ikut dalam setiap proses pembelajaran di sekolah.

Oh ya. Rapor di sini juga tidak ada rangking-rangkingan. Walau begitu, Setiap penerimaan rapor selalu ada pemberian award tertentu atas capaian siswa dengan kategori tertentu, seperti sudah saya bahas pada postingan sebelumnya.

Overall, sebagai orangtua, saya bisa merasakan bahwa rapor yang deskriptif seperti di atas lebih informatif karena orangtua bisa mendapatkan sense yang lebih jelas terkait perkembangan anaknya. Deskripsi itu sangat bermakna bagi para orangtua. Bandingkan, misalnya, dengan angka-angka kuantitatif seperti 7,8, atau 9 sebagaimana dulu menghiasi rapor kita. Angka-angka itu tentu sangat miskin gambaran spesifik terkait kemampuan apa saja yang telah dimiliki oleh seorang siswa.

Demikian, sekedar cerita. Semoga bermanfaat bagi para guru dan teman yang membaca.

Maaf, jika agak kepanjangan🙂

*Saya tak persis ingat siapa saja yang dulu request untuk saya tag pada postingan sejenis ini.

Jadi silakan mentag diri sendiri jika diperlukan 󾌵

Westall, sebagai masjid ‘kids friendly’

#manajemenmasjid

Saya akan berbagi cerita tentang beberapa catatan menarik terkait bagaimana pengurus Masjid Westall Victoria dalam memanage anak-anak selama pelaksanaan Ramadhan, mulai dari saat pelaksanaan sholat taraweh sampai malam takbiran Idul Fithri.

Sebagaimana fenemona di banyak tempat, selama Ramadhan hampir setiap masjid biasanya penuh oleh anak-anak usia sekolah. Tidak terkecuali jamaah masjid Westall. Tahun ini sepertinya jamaah semakin ramai. Tidak hanya oleh jamaah Indonesia, namun juga jamaah dari Saudi dan negara muslim lainnya yang juga berjamaah di Westall dan sebagian membawa anak kecil mereka.

Satu sisi ramainya anak-anak selama bulan Ramadhan di masjid tentu adalah suatu hal yang pantas disyukuri. Pengalaman mereka di waktu kecil ini biasanya akan membekas lama dalam memori mereka ketika nanti mereka sudah tumbuh dewasa. Harapannya tentu pengalaman yang mereka peroleh di masjid itu adalah pengalaman yang positif dan menyenangkan. Bukan tak mungkin, suatu saat jika mereka tumbuh dewasa dan kemudian karena alasan tertentu mereka jauh dari masjid (semoga tidak kejadian ya), memori indah ketika kecil itulah yang berpotensi bisa membuat mereka kembali merindukan indahnya menjadi seorang muslim, dan setelah itu mereka bisa kembali ke jalan yang benar.

Tantangannya adalah bagaimana bisa mengelola anak-anak dalam jumlah yang besar selama Ramadhan ini. Di tanah air, biasanya pihak sekolah mensiasatinya dengan memberikan tugas mencatat isi ceramah selama Ramadhan. Tugas mencatat ini lumayan bisa membuat anak-anak itu bisa bertahan selama taraweh, namun penugasan dengan mencatat itu sepertinya tidak cukup efektif membuat anak-anak itu bisa diam selama sholat berlangsung. Di sisi lain, tugas mencatat layaknya anak kuliahan itu juga bisa dianggap sebagai tugas yang terlalu serius dan cendrung memberatkan anak-anak.

Di Australia, tentu tak ada tugas catat mencatat seperti itu. Karena ramainya anak-anak di masjid, tidak jarang yang terjadi adalah banyak jamaah dewasa atau sebagian pengurus masjid merasa terganggu dengan suara anak-anak itu. Dan dengan alasan kenyamanan ibadah orangtua mereka, kadang sebagian pengurus masjid mengambil keputusan ekstrim yang tidak terlalu bersahabat dengan anak-anak. Memarahi mereka, mengusir mereka keluar masjid, atau bahkan melarang mereka untuk datang ke masjid adalah contoh kebijakan yang tidak bijak yang sebagian diambil oleh DKM masjid. Tentu saya tidak bucara tentang masjid Westall secara spesifik. Hal ini bisa jadi adalah fenomena yang kadang kita temui di beberapa masjid kita.

Hemat saya, cara-cara terakhir bukanlah cara terbaik. Karena pengalaman dimarahi atau bahkan diusir oleh orang dewasa ketika si anak di masjid dikhawatirkan akan membawa trauma tersendiri kepada diri anak. Bukan tak mungkin, pengalaman buruk itu akan membuat mereka antipati dan kemudian menjauh dari masjid. Ini tentu adalah efek samping yang tidak kita inginkan.

Nah, dengan pemikiran seperti di atas, pengurus masjid Westall membuat terobosan unik dengan cara mengumumkan kepada anak dan orangtua untuk mengontrol anaknya ketika sholat dan ibadah lainnya berlangsung. Salah satunya dengan memastikan bahwa si anak ada di samping orangtuanya masing-masing selama ibadah berlangsung.

Yang lebih menarik adalah pengurus masjid Westall menjanjikan hadiah berupa goodie bag yang berisikan makanan kecil, seperti cokelat, cracker, dan sejenisnya untuk diberikan kepada setiap anak yang berperilaku baik (tidak meribut) selama ibadah berlangsung. Ritual pembagian goodie bag ini adalah momen istimewa yang ditunggu anak-anak itu setelah taraweh selesai.

image

Ajaib, perilaku anak-anak itu berubah drastis. Tingkat keributannya berkurang jauh. Hadiah berupa pemberian goodie bag itu sepertinya sangat efektif dalam menertibkan anak-anak ini. Tidak hanya itu, mayoritas anak-anak ini semakin bersemangat untuk datang ke Westall setelah adanya hadiah ini. Anak saya misalnya akan protes keras jika karena alasan tertentu, saya memutuskan untuk tidak sholat taraweh di Westall.🙂

Sekali lagi, ide tentang goodie bag itu adalah ide cerdas; sederhana tapi efektif. Saya yakin banyak anak yang menikmati sensasi memperoleh hadiah goodie bag setelah taraweh itu. Hal itu bisa tergambar pada wajah-wajah lucu mereka yang sumringah senang saat antrian dan setelah memperoleh bungkusan ajaib itu.

image

Lebih menarik lagi, goodie bag ini tidaklah dibeli dari kas masjid, namun adalah hasil sumbangan dari banyak ibu-ibu jamaah sendiri. Dengan demikian, ini adalah cara ‘dari kita, untuk kita’ yang dipraktekkan dengan baik antar jamaah Masjid Westall dalam mengelola anak-anak mereka.

Malam Takbiran

Kreatifitas warga Westall dalam menjadikan anak-anak sebagai salah satu subjek utama yang mesti diperhatikan serius ketika Ramadhan dan saat merayakan Idul Fithri berlanjut ketika malam takbiran. Setelah hampir empat tahun di Melbourne, hemat saya malam takbiran tahun ini adalah malam yang yang paling meriah dan terasa istimewa.

Kemeriahan takbiran tidak hanya karena alunan takbir menggema, juga karena panitia menyelengarakan acara yang melibatkan anak-anak tadi sejak awal acara. Semua anak-anak yang berpuasa diberi appresiasi berupa penggalungan medali sebagai tanda bahwa mereka telah berprestasi, mereka juga dilibatkan tampil membaca takbir bersama, dan setelah itu mereka juga bisa menikmati beberapa makananan kesukaan mereka.

image image image

Saya perhatikan semua anak dan orangtua berwajah cerah dan gembira. Sepertinya anak-anak itu sungguh menikmati malam takbiran itu. Bahwa hari ini adalah hari kemenangan mereka juga.

Saya yakin, bahwa pengalaman positif dan kegembiraan yang mereka alami semalam dalam acara takbiran itu akan melekat kuat dan lama dalam memori kita. Keceriaan takbiran semalam akan menjadi salah satu kenanagan indah mereka dalam menjalani ramadhan di negeri orang.

Salut saya untuk seluruh pengurus masjid Westall. Kepada Bu @Nungki, pak @Adi, pak @Aru, pak @Ijang, dan semua takmir Masjid Westall.

Terimakasih telah memberikan pengalaman indah kepada kami dan keluarga.

Jazakumullah khair.

Selamat Idul Fithri dari kami sekeluarga.

image

Antara Sekolah, Anak, dan Orangtua

#pendidikandasarAustralia #keterlibatanorangtua

(Copas dari status FB saya) ^^

Sahabat,

Saya ingin melanjutkan cerita tentang beberapa ‘best practice’ dari sistem pendidikan dasar di Australia….

Pada postingan terdahulu, saya sudah bercerita tentang bagaimana sekolah secara sadar dan terencana mengapresiasi dan menghargai semua potensi anak didik secara holistik, diantaranya berupa pemilihan Student of the Week dan Student of the Month. Kali ini, saya akan berkisah tentang bagaimana sekolah melibatkan orang tua anak dalam proses pembelajaran.

Dahsyatnya Pelukan ...

Diantara tagline Clayon North Primary School (CNPS) adalah ‘growing, caring, achieving – together’. Tagline ini tidak hanya menjadi filosofi dari proses pembelajaran yang diantaranya fokus pada penumbuhan sikap kebersamaan antara anak didik dalam menggapai kesuksesan, juga berarti bahwa dalam proses pendidikan itu mesti ada kerjasama yang jelas antara pihak sekolah dan orangtua.

Ini tentu mudah dipahami, bahwa sekolah tidak bisa sepenuhnya dijadikan tumpuan satu-satunya keberhasilan pendidikan seorang anak didik. Orangtua mesti terlibat, karena pada akhirnya justru anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu mereka di rumah, ketimbang di sekolah.

Diantara kegiatan rutin yang melibatkan orang tua adalah, setiap term selalu ada sesi ‘parent-teacher Interview’, dimana orangtua dipanggil ke sekolah untuk diwawancarai terkait perkembangan anaknya di sekolah dan di rumah. Ini adalah momen dimana orangtua dan pihak sekolah bisa mengkomunikasikan segala concerns dan atau harapan terkait pendidikan anak mereka di sekolah.

Di CNPS, cukup banyak kegiatan yang melibatkan orangtua ini. Ada kegiatan harmony day – kegiatan multikulutural yang menampilkan seni dan budaya siswa. Celebration night -kegiatan dimana anak-anak menunjukkan karya terbaik mereka kepada orangtua. Dan beberapa yang lain. (Nanti saya coba bahas detailnya).

Salah satu yang menarik adalah program terbaru bernama D.E.A.R (Drop Everything And Read) untuk kelas Prep dan Kelas 1. Ini adalah program sekolah yang meminta partisipasi orang tua ketika pagi hari mengatarkan anak ke sekolah, ikut bersama anaknya di dalam kelas, menuntun anaknya belajar membaca sekitar 10 menit sebelum kelas  dimulai (Foto dibawah adalah saat saya bersama Wafa dalam program ini).

1401295_10200935358009160_1630846500_o

Sepertinya ini program sangat efektif, menyambungkan emosi anak dan orangtua sekaligus melibatkan langsung orangtua dalam proses pembelajaran anaknya. Saya lihat anak-anak pun happy menjalani kegiatan ini. Apalagi ada musik di pagi membuat suasana menjadi lebih ceria.

Sebetulnya masih ada kegiatan lainnya yang melibatkan orang tua. Namun cukup ini dulu saya sampaikan di sini.

Poinnya adalah orangtua tidak bisa sepenuhnya menyerahkan proses pendidikan anaknya ke sekolah. Orangtua mesti terlibat aktif membantu perkembangan anaknya.

Saya sebenarnya ingin merefleksi ke praktik kita di tanah air. Namun, agar tidak kepanjangan saya cukupkan sampai di sini. Silahkan diperpanjang melalui diskusi.

Semoga bermanfaat!

Salaam,
A

*bagi teman yang saya tag, itu karena dulu anda meminta saya melakukannya untuk anda. Feel free to let me know if you want me to untag you. See more

Kisah Inspiratif – Karena Anak Itu ‘Hanya’ Butuh Dihargai

#pendidikandasar
#Australianeducation
#pentingnyapenghargaan

ausiie primary school
Salaam,

Sahabat semua,

Berikut akan saya lanjutkan janji saya menulis pengalaman pribadi saya saat berinteraksi dengan sistem pendidikan dasar di Australia, persisnya di Victoria, terutama ketika saya membersamai anak saya yang sedang sekolah di Clayton North Primary School (CNPS). Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan saya sebelumnya (maaf, agak lama ya munculnya edisi kedua ini ;-)). Bagi yang baru bergabung, silahkan juga lihat postingan saya sebelumnya dengan hashtag seperti terlihat di atas. Saya memutuskan juga memposting tulisan ini blog saya supaya bisa dibaca dan bermanfaat untuk lebih banyak orang, mengingat postingan di facebook sepertinya tidak bisa ditrack melalui mesin pencari google.

Pada postingan pertama, saya telah membahas sistem pendidikan Australia secara umum, dan kali ini saya akan langsung ke lapangan, bercerita tentang beberapa contoh ‘best practice’ yang barangkali bisa dijadikan inspirasi bagi kita dalam mengelola pendidikan di tanah air. Penggunaan tanda kutip pada kata best practice di atas adalah refleksi dari kesadaran saya bahwa istilah ‘baik’ atau ‘buruk’  itu sangat context specific dan culturally situated – apa yang dianggap baik di Australia, belum tentu baik bagi kita di tanah air, dan demikian juga sebaliknya. Namun demikian, saya akan sampaikan apa yang saya lihat apa adanya, dan saya persilahkan teman-teman pembaca yang menyimpulkan beberapa bagian cerita berikut cocok atau tidak untuk diadopsi di lingkungan sekolah kita masing-masing. Atau malah sebaliknya, teman-teman semua justru telah melakukan sesuatu yang ‘lebih baik’ dari apa yang kita temukan di sini.

Persisnya kali saya akan bercerita tentang salah satu kegiatan mingguan yang rutin dilakukan sekolah pada setiap Senin sore, kecuali di akhir term yang kadang diadakan pada hari Jumat, yaitu kegiatan assembly (secara literal bisa diterjemahkan dengan ‘apel bersama’). Dalam konteks sekolah kita di tanah air, asembly adalah sejenis upacara pagi Seninnya kita. Namun, tidak ada acara pengibaran bendera sebagaimana halnya kebiasaan kita di Indonesia. DI CNPS, assembly biasanya diadakan di auditorium atau ruang serba guna sekolah, diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Australia, kemudian sekolah menyampaikan beberapa informasi penting terkait kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Yang paling menarik bagi saya pada kegiatan assembly ini adalah tentang fakta bahwa assembly digunakan pihak sekolah sebagai momen untuk mengumumkan capaian atau prestasi yang telah dilakukan siswa dalam berbagai hal, dengan salah satunya mengumumkan siapa ‘student of the week’ dan atau ‘student of the month’ dari kalangan siswa pada minggu atau bulan berjalan. Ini adalah semacam pengumuman ‘para juara mingguan’ atau ‘juara bulanan’ dari masing-masing kelas di sekolah.

Namun, jangan dibayangkan bahwa para juara ini adalah didominasi oleh mereka yang memperoleh nilai atau capaian akademik tertinggi, mendapat nilai 10 pada ulangan Matematika misalnya, para juara yang diumumkan itu adalah juga mereka yang memperoleh capaian pada bidang yang barangkali untuk sebagian kalangan dianggap ‘sederhana’. Pada contoh foto di bawah, anak saya Alya dan Wafa masing-masing pernah memperoleh sertifikat student of the week di sekolah mereka. Untuk kasus Wafa, misalnya, dia memperoleh penghargaan itu atas usaha atau kerja kerasnya dalam menguasai beberapa ratus kata baru dalam pelajaran bahasa Inggris dank arena telah berbagi dengan teman di kelas barunya. Sementara Alya pernah memeperoleh penghargaan serupa karena dia telah berani berbicara/presentasi di depan kelas (sayang saya belum nemu foto sertifikatnya ^^). Pada kesempatan lain, saya perhatikan ada anak yang dihargai karena telah menjadi pemimpin yang baik di dalam kelasnya, atau karena telah menjadi teman yang suka menolong temannya yang lain.

Students of the Week

Intinya adalah bahwa penghargaan yang diberikan pihak sekolah adalah penilaian tehadap perkembangan anak secara holistik, baik terkait capaian akademik mereka, maupun juga capaian non akademik, seperti pertumbuhan terkait self-confidence, leadership skills, dan interpersonal relationship skills, dan beragam soft skills lainnya. Pendeknya, sekolah secara sadar dan terencana mengembangkan dan atau memupuk tiga taksonomi pendidikan – ranah kognitif, afektif, dan psikomotor itu – secara seimbang.

Kasadaran pihak sekolah untuk memperhatikan perkembangan anak pada tiga domain ini bisa terlihat dari filosofi yang mendasari pendidikan dasar mereka, sebagaimana tertulis dengan jelas pada buku welcome pack mereka, we believe that educational development is best fostered in an atmosphere where all students are respected, valued, and encouraged – kami meyakini bahwa pendidikan akan berkembang sangat baik dalam susasana dimana semua siswa merasa dihormati, dihargai, dan disemangati.

Dalam konteks ‘para juara’ yang dimumkan pada assembly itu, setahu saya pada akhirnya mayoritas anak barangkali akan mendapatkan giliran maju ke depan, memperoleh sertifikat, ketika namanya di sebut sebagai sudent of the week – dengan poin dan penekanan yang berbeda-beda. Dengan kata lain, setiap anak bisa menjadi juara dengan keunikan mereka masing-masing.

Secara akademik, ada cukup banyak teori dan penelitian terutama di bidang psikologi pendidikan yang telah mendiskusikan tentang pentingnya penghargaan atau appresiasi yang cukup atas setiap capaian anak didik dalam proses pembelajaran. Apresiasi yang tepat akan berpengaruh positif pada munculnya motivasi anak didik, dan pada akhirnya akan berdampak pada capaian atau prestasi mereka di sekolah.

Setiap penguatan positif yang diberikan guru, sekecil apapun akan sangat berbekas pada perkembangan anak didik. Tepukan di punggung, anggukan dan senyum manis guru, jempol, salam yang hangat, tanda bintang di buku latihan, sampai yang berbentuk verbal seperti ‘very good’, weldone’, ‘good boy’, ‘much better’, dan sejenisnya akan menjadi ‘ramuan ajaib’ membantu siswa menggapi capaian terbaiknya selama proses pembelajaran.

Sepertinya kesadaran akan pentingnya penghargaan inilah yang menjadi filosofi di balik pengumuman para ‘juara mingguan’ itu. Appresiasi sekolah terhadap perkembangan anak dalam assembly itu juga mungkin dilandasi keasadaran tentang fakta bahawa setiap anak terlahir sebagai makhluk yang unik dengan beragam potensi mereka. Sementara sekolah dan orangtua bekerjasama dalam memupuk dengan mengembankan potensi mereka secara baik (InsyAllah, saya akan bahas tentang keterlibatan orang tua ini secara terpisah pada tulisan berikutnya)

Sebagai orangtua saya bisa merasakan efek luar bisa terhadap perkembangan anak saya di sekolah. Sekedar bercerita tentang anak saya pertama – Wafa. Sebelum bersekolah di CNPS, Wafa sering dikategorikan para gurunya sebagai anak yang pendiam dan pemalu. Walau saya biasanya menghindari penilaian seperti ini langsung kepada Wafa dengan tidak pernah mengatakan kepadanya bahwa dia adalah anak yang pemalu, namun saya cukup sering memperoleh laporan dari gurunya saat sekolah di Indonesia tentang kecedrungan Wafa yang banyak diam di sekolah.

Setelah beberapa bulan di CNPS, perkembangan Wafa terkait ini cukup pesat. Pada buku lapornya pada term yang lalu, salah satu catatan khusus yang disampaikan oleh guru kelasnya adalah bahwa gurunya sangat happy ketika pertama kali menyaksikan Wafa mengangkat tangan jika ada kesempatan bertanya atau menyampaikan pendapat di kelas, sebagaimana siswanya yang lain. Ya, keberanian mengangkat tangan di kelas untuk berekspresi adalah sesuatu yang penting bagi gurunya untuk diapresiasi, karena angkat tangan itu bisa jadi symbol bahwa Wafa mulai menikmati proses belajarnya di sekolah. Bahwa dia mulai menemukan rasa percaya dirinya. Saya yakin, dorongan yang terus menerus dari gurunya adalah diantara faktor yang membuat Wafa mengalahkan rasa takutnya untuk berekspresi.

Well, ladies and gentlemen 🙂 Sepertinya dah agak kepanjangan ya. Baiklah sebelum saya tutup, saya ingin sedikit merefleksi cerita di atas dengan apa yang biasa kita lakukan di tanah air. Saya yakin bahwa konsep tentang tiga taksonomi pendidikan itu bukanlah hal yang baru bagi kita. Sudah lama kita mengenal istilah ini dalam kurikulum kita. Masalahnya adalah, secara umum kita masih belum benar-benar bisa membuat proses belajar di sekolah kita yang secara sadar dan terencana bisa mengembangkan ketiga aspek ini. Selama ini, kita cendrung masih focus pada ranah kognitif, dan cendrung mengabaikan perkembangan aspek afektif dan psikomotor itu.

Adalah sesuatu yang menggembirakan ketika kita membaca kurikulum terbaru kita – sejak KBK sampai kurikukulum berbasis karakter – bahwa kesadaran akan pentingnya pengembangan siswa secara holistik ini mulai ditekankan. Tinggal bagaimana kita para praktisi pendidikan bisa mencari cara kreatif di lapangan untuk bisa benar-benar melaksanakannya.  Saya tahu bahwa di beberapa sekolah, misalnya juga sudah mulai memperhatikan ketiga aspek ini. Di beberapa TK dan SDIT di tanah air, mereka sudah lama memberikan penghargaan seperti yang sampaikan di atas, walau dengan frekwensi yang masih sedikit (hanya ketika menerima rapor). Beberapa sekolah saya dengar juga mulai menghilangkan sistem juara kelas, karena lebih banyak menilai aspek kognitif.

Namun, saya yakin semua proses itu tak mudah, karena pada saat yang sama kita masih berhadapan dengan beberapa bentuk ujian yang masih menggunakan ‘model lama’ (model Ujian Nasional misalnya), atau bentuk penilaian dan buku laporan capaian siswa yang lebih banyak berbentuk kuantitatif. Sementara penilaian berbasis kelas atau penilaian portfolio seperti yang juga sudah diperkenalkan itu masih saja cendrung hanya menjadi konsep hebat yang tertulis dalam kurikulum kita. Saya paham bahwa perubahan butuh proses, dan mari terus kita berproses menjadi lebih baik, salah satunya dengan berbagi seperti ini. Merdeka! ^^

Kisah Inspiratif – Pendidikan Dasar di Australia

primary-school

#pendidikandasar
#Australianeducation

Sahabat Fbers,

Sebagaimana janji saya pada tulisan (status) sebelumnya, mulai hari ini saya akan menuliskan beberapa catatan saya terkait sistem pendidikan (dasar) Australia, khususnya Victoria. Catatan ini secara berkala (saya belum tahu persis seberapa rutin saya bisa menulisnya) akan mencoba menceritakan beberapa aspek, mulai dari manajemen pendidikan, sistem wajib belajar, pembiayaan, kurikulum, pendekatan pengajaran, sistem evaluasi, peran serta orang tua, profile para guru, fasilitas sekolah, kegiatan ekstra kurikuler, dan hal-hal menarik laiinya.

Sebelumnya perlu saya sampaikan beberapa disclaimers:

1. Catatan ini mungkin akan sedikit wordy, karenanya bagi yang tidak suka membaca status FB yang panjang-panjang, lewatkan dan please just ignore this post ^^ Karena beberapa alasan saya sengaja menuliskannya di kolom status ini, dan bukan di notes FB.

2. Catatan ini bukanlah tulisan ilmiah, tetapi lebih sebagai refleksi pribadi dari apa yang saya lihat dan alami saat membersamai anak-anak saya yang sedang bersekolah di sini. Karena ini adalah refleksi pribadi, maka sangat mungkin bahwa apa yang saya tulis mengandung banyak kekurangan di sana sini.

3. Walaupun mungkin nanti saya tidak bisa menghindar untuk melakukan perbandingan dengan sistem pendidikan dasar kita, namun saya sama sekali tidak berpretensi ‘membanding-bandingkan’, atau bahkan mengatakan salah satu sistem pendidikan itu lebih baik dari yang lain. Saya percaya bahwa sistem pendidikan apapun dan dimanapun akan memiliki sisi positif dan negatif. Karenanya, tidak salah kalau kita mengambil inspirasi kebaikan darimana saja.


Baiklah, pada postingan perdana ini, saya akan sedikit bercerita tentang sistem manajemen pendidikan Australia secara umum. Kalau di tanah air belakangan kita mengenal istilah otonomi pendidikan atau manajemen berbasis sekolah, di Australia manajemen pendidikan seperti ini telah mereka terapkan sejak lama. Dimana pengelolaan pendidikan diserahkan sepenuhnya kepada state (negara bagian) masing-masing. Dengan demikan, kebijakan pendidikan di suatu state bisa berbeda dengan state yang lain.

FYI, Australia tediri dari enam negara bagian: South Wales (Ibukota: Sydney), Victoria (Ibukota: Melbourne), Queensland (Ibukota: Brisbane), Australia Selatan (Ibukota: Adelaide), Australia Barat (Ibukota: Perth), dan Tasmania (Ibukota: Hobart). Ibukota negara Australia sendiri adalah Canberra. Ingat ya, bukan Sydney atau Melbourne, walau Sydney atau Melbourne lebih metropolis dibanding Canberra

Balik ke sistem pendidikan, secara umum pendidikan di Australia terbagi tiga: pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi (Sama ya dengan kita di Indo ^_^). Bedanya adalah, kalau di Victoria anak yang berusia lima tahun pada bulan April tahun berjalan sudah bisa masuk primary school (SD), dan dimasukkan ke kelas Prepatory. Ini adalah kelas yang sudah terintegarasi langsung dalam sistem primary school. Lengkapnya, primary school itu terdiri dari 7 tingkatan (kelas Prep s/d grade 6).

Perlu saya sampaikan bahwa sistem pendidikan di sini sangat ketat dengan syarat usia anak dalam pengelompokan kelas mereka. Satu hari saja seorang anak kurang umurnya enam tahun ketika mendaftar, misalnya, maka dia tidak bisa dimasukkan ke kelas 1 SD. Karena alasan ini, anak kami Raudhatul Jannah, ‘terpaksa’ harus turun kelas saat sampai di sini. Raudha sekarang masih kelas 5, padahal di Indonesia seharusnya Raudha sekarang sudah kelas 6. Sebaliknya, ada anak yang ‘naik kelas’ ketika pindah dari Indonesia, karena pertimbangan usia ini.

Setelah anak-anak selesai grade 6, dengan demkian mereka pindah sekolah ke secondary school. Walaupun wajib belajar di Victoria sebenarnya hanya sampai kelas 10 (usia 17 tahun), namun anak-anak mayoritas menyelesaikan kelas menengah mereka sampai grade 12. Pada grade 11 dan 12 mereka sudah diarahkan memilih bidang dan atau spesialisasi mereka nanti saat kuliah. Pada setiap akhir tahun periode ini, misalnya, mereka mengikuti ujian Victorian Certificate of Education (VCE) atau the Victorian Certificate of Applied Learning (VCAL) untuk bisa tamat dari secondary school mereka. (Terkait VCE akan saya bahas terpisah pada postingan mendatang).

Terkait sekolah menengah ini, perlu juga saya sampaikan bahwa grade 7-12 itu biasanya berada dalam satu sekolah dengan satu manajemen. Dengan demikian mereka tidak mengenal istilah SMP dan SMA dengan bangunan dan manjemen berbeda, seperti yang kita punya. Namun di lapangan, mereka memilih beberapa nama yang berbeda. Ada yang menyebut sekolah mereka dengan nama ‘seconday college’, ada juga yang menyebutnya dengan ‘high school’. Kedua istilah ini refer pada makna yang sama — sekolah menengah.


Well, demikian dulu ya temans2. Khwatir kepanjangan . Silahkan tunggu catatan berikutnya.

Jika anda ingin saya tag pada catatan berikutnya, silahkan acungkan tangan anda. ^^