Madrasah dan Tantangan Dunia Global

Oleh: Afrianto Daud, S.Pd

Banyak futurolog, Jhon Naisbit dan Patricia Aburden untuk menyebut contoh, telah menjelaskan bahwa sepanjang sejarah peradaban manusia, abad XXI (juga sering disebut dengan milinium ke-tiga) merupakan sebuah fase kehidupan yang betul-betul berbeda dengan zaman sebelumnya. Salah satu ciri utama abad ini adalah terjadinya ledakan revolusi teknologi komunikasi yang luar biasa, yang bisa kita lihat dengan lahirnya berbagai perangkat komunikasi yang canggih, seperti teknologi komputer dengan fasilitas internetnya, teknologi telepon seluler (handphone) dengan beragam fasilitas canggihnya yang berkembang begitu cepat, teknologi TV kabel dengan jaringan parabolanya yang tanpa batas, dan perangkat teknologi komunikasi yang lain.

Revolusi teknologi komunikasi ini telah membawa perubahan dahsyat dalam tatanan kehidupan ummat manusia dewasa ini. Perubahan ini ditandai dengan kuatnya arus globalisasi yang nyaris mustahil ditahan oleh apapun dan siapapun. Sehingga, pada abad ini lahirlah apa yang disebut dengan masyarakat global (global citizen), sebuah komunitas yang tidak lagi bisa dihalangi oleh batas geografis suatu negara untuk berinteraksi dan berkomunikasi (boarderless society), sebuah komunitas yang bahkan tidak lagi terikat dengan latar belakang suku, ras, dan agama dalam berinteraksi.

Era globasisi dalam bidang komunikasi kemudian juga diikuti dengan globalisasi pada sektor kehidupan yang lain. Salah satunya adalah dalam bidang ekonomi dengan lahirnya apa yang kita kenal dengan global economy. Ekonomi global ini lahir dengan asumsi bahwa masyarakat dunia ini haruslah mengembangkan sikap saling bekerjasama dalam semua hal, termasuk dalam bidang ekonomi, karena tak ada satupun negara yang bisa berdiri sendiri selamanya. Semua negara, suka ataupun tidak, dipastikan harus menjalin hubungan yang positif dengan negara lain.

Sebagai wujud dari global economy itu, maka kemudian lahirlah apa yang sekarang kita kenal dengan kebijakan pasar bebas (free trade) di kawasan negara yang menjalin kerjasama. Untuk kawasan Asia Tenggara kita mengenal lahirnya kesepakatan AFTA (ASEAN Free Trade Agreement/ Perjanjian Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN) yang pelaksanaannya sudah dimulai sejak tahun 2003 yang lalu. Dan pada tahun 2020 kita juga akan memasuki perdagangan bebas di kawasa Asia Pasifik yang disebut dengan APEC (Asia Pacific Economic Cooperation/ Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik) yang sudah tak bisa ditawar lagi.

Ketika perdagangan bebas dimulai, maka semua produk dari negara yang bekerja sama bisa dengan bebas memasuki pasar semua negara anggota. Demikian juga halnya dengan tenaga kerja, dimana para tenaga kerja asing juga lebih mudah bekerja di negara lain. Maka mudah dipahami, dalam suasana seperti itu, persaingan akan menjadi kata kunci yang menghiasi dunia keseharian masyarakat. Dalam logika hukum persaingan, kemenangan akan selalu berpihak kepada orang yang memiliki nilai lebih (baca: mutu yang lebih baik) dari pada pesaingnya.

Kalau kita ingin memenangkan persaingan dalam masyarakat global ini, kita harus memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dalam makna seluas-luasnya. Kalau tidak, bersiap-siaplah untuk menjadi pecundang dalam persaingan itu. Diantara karakter yang harus dimiliki oleh seorang Sumber Daya Manusia yang berkualitas itu adalah memiliki keahlian tertentu dalam satu bidang, memiliki integritas diri, disiplin, mandiri, bisa bekerja sama, dan menyadari hakekat dirinya sebagai hamba tuhan dan bagian dari sebuah masyarakat dimana dia tinggal.

Ketika kita bicara SDM yang berkualitas, maka disinilah kita harus benar-benar menyadari peran strategis sebuah institusi pendidikan. Karena, sebuah institusi pendidikan diyakini sebagai tempat yang paling tepat untuk membina, menempa, dan membentuk sebuah generasi masa depan yang berkualitas. Dengan demikian, ketika sebuah institusi pendidikan berkualitas, maka biasanya kualitas para lulusannya akan menggambarkankan kualitas intitusi tempat dimana dia belajar.

Sampai di sini, sebagai warga negara yang concern dengan dunia pendidikan nasional, kita perlu bertanya (untuk tidak menyebut “mempertanyakan”), bagaimana dengan realitas empiris dunia pendidikan di madrasah? Bagaimana realitas kualitas madrasah dalam hubungannya dengan persaingan yang akan sangat ketat di abad 21 ini? Apa yang harus dilakukan madrasah dalam menghadapai realitas globalisasi ini?

Kalau kita mau jujur, kita harus mengakui bahwa secara umum kualitas madrasah memang masih jauh dari harapan. Sebagaimana yang telah penulis introdusir dalam tulisan penulis sebelumnya pada Singgalang, 4 Mei 2004, adalah fakta bahwa madrasah jauh tertinggal dalam banyak hal dari sekolah umum. Secara sederhana bisa kita lihat dari rendahnya minat para orang tua untuk menyerahkan masa depan pendidikan anak-anaknya ke madrasah. Biasanya mereka tidak menjadikan madrasah sebagai alternatif utama untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Kalaupun akhirnya mereka masuk bersekolah di madrasah, biasanya itu dilakukan karena terpaksa (karena tidak lulus di sekolah umum, misalnya).

Mudah dipahami, rendahnya minat masayarakat untuk menyerahkan pendidikan anak-anaknya ke madrasah bukanlah tanpa sebab. Salah satu penyebab utamanya, menurut penulis, adalah karena memang secara kualitatif banyak madrasah yang tidak bisa bersaing dari sekolah umum. Ada memang madrasah yang cukup berkualitas, bahkab mungkin lebih baik dari
sekolah umum, tetapi tetap saja jumlahnya jauh lebih kecil dari jumlah madrasah secara keseluruhan. Di sisi lain, rendahnya kualitas ini juga terindikasi dari rendahnya persentase siswa madrasah yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

Harus kita sadari bahwa globalisasi sendiri memberikan peluang sekaligus tantangan dan bahkan ancaman terhadap siapapun, apapun, dan lembaga (pendidikan) manapun, termasuk madrasah. Globalisasi merupakan peluang, karena siapapun yang memiliki kualitas bisa menjadi pemenang, namun globalisasi bisa menjadi ancaman, karena globalisasi bisa menengglamkan dan mempencundangi siapapun kalau pada kenyataannya dia tidak bisa bersaing. Bahkan, pada titik ekstrim persaingan pada era globalisasi bisa menamatkan riwayat sebuah institusi (pendidikan).

Tentu saja, madrasah tidak ingin menjadi lembaga pendidikan yang tenggelam oleh arus besar persaingan pada era globalisasi yang seakan tidak terbendung itu. Madrasah, bahkan, seharusnya menjadikan era global ini sebagai tantangan dan sekaligus memanfaatkan semua peluang yang ada untuk kebaikan madrasah, secara khusus, dan kebaikan ummat ini secara keseluruhan. Madrasah, lebih jauh, sebagai institusi pendidikan yang menisbahkan diri dengan Islam bertanggung jawab untuk membuktikan bahwa ajaran Islam bisa menjadi solusi dalam menjawab berbagai permasalahan yang terjadi hari ini dan sampai kapanpun.

Kata kunci yang harus dilakukan oleh madrasah adalah melakukan modernisasi sistem penyelenggaran pendidikan di madrasah. Karena modernisasi adalah suatu hal yang inheren dengan arus globalisasi itu sendiri. Madrasah tidak bisa bertahan dengan pola lama, dengan pola “manajemen surau” yang terkesan “asal jadi” dan kurang visioner, dan madrasah juga tidak boleh mengisolasi diri dari setiap perkembangan yang begitu cepat yang terjadi di luar dirinya (Fajar, 1998).

Dalam konteks ini, madrasah harus dengan cepat melakukan evaluasi internal, menyusun berbagai program strategis untuk memperbaiki diri. Penguatan posisi madrasah dalam UU No20/2003 tentang Sisdiknas diharapkan menumbuhkan percaya diri madrasah sebagai institusi pendidikan agama Islam dan kemudian dapat mengambil peran signifikan dalam usaha mempersiapkan generasi muda Islam Indonesia menjadi insan yang berkualitas, yang memiliki sandaran vertikal yang kokoh kepada Allah SWT sekaligus memiliki kecerdasan dan kemampuan yang cukup untuk tidak menjadi pecundang dalam setiap persaingan hidup di era global ini. Wallahu A’lam Bissawab.

Diterbitkan harian Singgalang, 17 September 2004

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s