Seri 1: Ku Temukan “Islam” di Negeri Kangguru

Sahabat,

Seperti yang saya janjikan pada seri pengantar tulisan ini, mulai edisi kali ini saya akan bercerita agak lebih dalam tentang beberapa sisi kehidupan di Australia untuk memberikan keterangan yang cukup kenapa saya juga menyatakan ‘saya temukan Islam di negeri Kangguru’.

Awalnya saya berniat untuk memberi judul berbeda pada setiap edisi. Sub judul sesuai dengan fokus yang saya bahas. Tapi kemudian saya urungkan. Saya putuskan untuk hanya menggunakan Seri 2, Seri 3, dst dalam setiap edisi. Hal ini untuk memudahkan kawan-kawan yang tertarik dengan topik ini untuk ingat kembali ketika nanti muncul (lagi) di message board setelah saya posting.

Sebelumnya izinkan saya menjelaskan potensi ‘subhat’ yang mungkin bisa disalahpahami dari judul dokumentasi ini. Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud mengagung-agungkan peradaban para bule ini, apalagi dengan mengatakan bahwa Australia telah benar-benar Islami dalam pengertian yang sesungguhnya. Bukan begitu. Betapapun, kebudayaan barat, termasuk yang saya temukan di Australia bukanlah kebudayaan yang tanpa cacat. Namun saya pikir tidak salah kalau kita mengambil sisi positif dari budaya mereka. Sisi positif yang sesungguhnya (baca: seharusnya) telah kita miliki sebagai muslim, tapi justru kelihatan lebih banyak dipraktekkan oleh mereka yang notabene (sebagian) tak percaya tuhan.

Terus terang, agak sulit bagi saya memilih sisi apa pertama kali yang akan saya bahas. Disamping karena cukup banyak sudut yang ingin saya sorot, juga karena saya pikir ada banyak teman yang sudah tahu tentang berbagai cerita positif budaya para bule ini.

Tapi, akhirnya saya memutuskan untuk pertama kali membahas tentang budaya apresiasi yang sangat tinggi masyarakat di sini tentang kehidupan. Tidak hanya kehidupan dalam makna nyawa manusia, tapi juga terhadap makhluk Tuhan yang lain, seperti binatang.

Apresiasi mereka terhadap pentingnya satu nyawa manusia terangkum dalam slogan safety first. Inti dari slogan ini adalah bahwa sebelum kita melakukan sesuatu (dalam banyak hal) kita harus sedari dini memikirkan apakah kegiatan yang akan dilakukan telah sesuai dengan prosedur keselamatan. Ini sangat penting, untuk mencegah agar tak ada nyawa yang melayang sia-sia akibat kelalaian kita sebagai manusia.

Safety first adalah kata-kata yang akan sangat sering kita temukan kalau kita sempat berkunjung ke kawasan industri. Kata-kata ini banyak tertulis di dinding bangunan tempat kita bekerja. Tulisan ini ingin mengingatkan semua orang bahwa kita harus menjadikan keselamatan sebagai prioritas utama saat beraktifitas.

Saya masih ingat ketika supervisor di tempat saya bekerja marah habis-habisan kepada bos pemilik perusahaan setelah saya terjatuh bersama trays roti yang saya dorong karena melewati satu lantai yang sedikit rusak. Sekalipun saya sendiri tidak terluka, tapi sang bos dengan wajah sangat menyesal meminta maaf kepada saya karena kelalaiannya tidak mencek lantai yang rusak itu.

Seorang security kampus juga tak segan menegur saya ketika kabel laptop saya terpasang di tempat dimana (satu dua) orang mau lewat. Sang security dengan tegas mengingatkan, “this does not follow the security procedure, you have to move to another spot”.

Saya dan hampir semua mahasiswa Monash yang sedang berada di library harus segera keluar ketika tiba-tiba alarm tanda bahaya berbunyi. Dalam hitungan menit, satu mobil unit kebakaran terdengar meraung memasuki kampus. Apakah sudah ada api yang menyala? Tidak. Alarm itu hanya otomatis berbunyi saat smoke detektor yang terpasang di bangunan mendeteksi asap yang saya sendiri tak tahu asalnya dari mana.

Yang menarik, hampir tak ada mahasiswa yang menggerutu dengan menyatakan, “ah ternyata cuma asap, ngapain pake diungsikan segala”. Apalagi petugas kebakaran, tak ada penyesalan di wajah mereka, setelah datang. Sekalipun tidak menemukan api di bangunan itu. Mereka telah menjalankan tugasnya. Segera melakukan antisipasi pada titik paling dini sebelum kecelakaan terjadi.

Saya menyaksikan ada banyak regulasi lainnya dalam kehidupan masyarakat disini yang dilandasi budaya pentingnya keselamatan ini. Ketika berkendaraan, misalnya, di sini ada peraturan bahwa semua penumpang, termasuk anak kecil dan bahkan bayi, dalam sebuah mobil wajib mengenakan seatbelt. Tak kan pernah kita lihat orang berani menggendong bayinya sendiri di dalam mobil. Di jalan raya, polisi dengan sangat tegas tanpa ampun akan meberikan denda kepada pengemudi yang mabuk dan atau speeding di jalanan. Para pengendara sepedapun wajib memakai helm dan lampu (disepedanya). Dan masih di jalan raya, saya nyaris tak pernah menemukan jalanan yang berlubang apalagi rusak parah di sini. Hampir semua jalanan sangat mulus, bahkan sampai jalanan kecil di country sekalipun.

Menyaksikan semua itu, saya pikir apa yang saya lihat tak bisa dilepaskan dari budaya keselamatan tadi, sebuah budaya yang sangat memahami betapa berharganya satu (lembar) nyawa manusia.

Belum lagi berbicara tentang perhormatan mereka kepada alam, khususnya kepada binatang. Di sini hampir semua jenis binatang hidup bebas tanpa takut gangguan manusia. Burung berbagai jenis dengan aneka warna, misalnya, akan dengan sangat mudah terlihat terbang dan hinggap di pohon belakang rumah kita. Mereka hidup dengan tenang, karena memang tak ada manusia yang usil mengganggu mereka.

Hal yang sama juga berlaku pada binatang lain, seperti kucing dan anjing. Tak kan kita temukan di sini ada kucing atau anjing kurus kering tak bertuan di jalanan. Karena hampir semua kucing dan atau anjing ada pemiliknya. Bahkan kalau ada yang menemukan anjing tersesat di jalanan, orang cukup menelpon unit khusus di kepolisian yang menangani binatang ini, dan untuk kemudian berusaha mengembalikan anjing yang tersesat itu kepada empunya.

Sekali lagi, semua ini adalah refleksi penghargaan mereka yang sangat tinggi terhadap kehidupan. Nah, sekarang apa hubungannya dengan Islam? Dan bagaimana realita di dunia muslim sendiri, seperti Indonesia, terkait topik ini?

Saya pikir konsep apresisiasi yang sangat tinggi terhadap kehidupan adalah (juga) konsep Islam yang sudah diajarkan sejak 14 abad yang lalu. Bukankah point pertama dari maqasid syariah dalam kajian ushul fiqh adalah terkait dengan hifdzun nafs (pemeliharaan akan jiwa). Artinya salah satu tujuan utama dari syariat Islam adalah bagaimana dengan syariat itu, ada jaminan bahwa kita bisa menjaga jiwa dan kehidupan it
u sendiri dalam berbagai konteks kehidupan kita.

Islam secara konseptual juga memberikan perhatian khusus tentang bagaimana kita berinteraksi dengan alam, termasuk dengan hewan dan tumbuhan. Bahkan Rasulullah SAW melarang kita untuk membunuh seekor semut. (Mungkin Ustadz Ridha bisa ngasih matan hadisnya nih ). Subhanallah

Tapi kemudian mari kita jujur dengan realitas masyarakat kita di tanah air, negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Barangkali kita sepakat, ada banyak kenyataan paradoksal yang kita temukan dalam tubuh ummat ini.

Saya dan sahabat semua pasti tahu betapa banyak sudah nyawa hilang sia-sia di negeri kita melalui berbagai kecelakaan alat transportasi, yang kalau dirunut penyebab utamanya adalah human error. Sebuah kesalahan yang sesungguhnya bisa dicegah kalau kita memiliki budaya keselamatan yang tinggi itu. Potret ironis itu seakan menyampaikan pesan bahwa kita tak memberikan appresiasi yang cukup terhadap kehidupan itu sendiri.

Belum lagi kalau kita bicara akhlak kita terhadap alam, tumbuhan dan hewan. Sahabat semua pasti tahu bagaimana cerita sebenarnya. Saya tak perlu lagi membahasnya. Karenanya, saya pikir pantas kita belajar kepada para bule itu. Wallahu’alam

*Saya putus sampai di sini dulu, khawatir kepanjangan. Please dikomentari Sampai jumpa pada edisi berikutnya*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s