Seri 2: Ku Temukan “Islam” di Negeri Kangguru

Sahabat,

Sebelumnya izinkan saya mengingatkan, bagi anda yang baru pertama kali baca postingan saya tentang topik ini, sebaiknya please dibaca juga seri pengantar, dan seri pertama, tulisan ini. Ini penting untuk menghindari kesalahpahaman, seperti yang diingatkan brother Muhammad pada postingan sebelumnya.

Kali ini saya akan membahas kenyataan lain yang saya temukan selama hidup di sini, yaitu terkait dengan birokrat yang (benar-benar) melayani. Sejenak mari kita tinggalkan dulu analisis sueing culture yang disampaikan uni Maimon sebelumnya. Agar kita bisa menerima apa yang saya sampaikan sebagai sebuah kenyataan yang perlu kita pelajari.

Birokrat yang melayani. Begitulah kesan saya ketika beberapa kali berhubungan dengan para pegawai pemerintahan (baca: PNS) di sini. Birokrat yang tahu akan kerjanya dan untuk siapa dia bekerja. Birokrat yang mengerti betapa pentingnya kepuasan masyarakat akan jasa yang dia berikan. Birokrat yang bekerja dengan sepenuh hati. Birokrat yang cendrung mempermudah setiap urusan, dengan siapa saja, tanpa pandang status orang yang sedang dilayaninya. Tentu selalu ada pengecualian. Tapi jujur, secara umum, begitulah kesan yang saya peroleh.

Siapapun anda, ketika masuk kantor pemerintah, anda harus mengambil tiket antrian, dan tunggulah dipanggil sesuai dengan nomor antrian anda. Dan siapapun anda, anda akan dilayani dengan standar pelayanan yang sama. Maka tak kala saya bertanya, how long does it take time for me to wait the application approved? ketika saya mengurus child care benefit untuk sekolah anak saya. Sang pegawai dengan mantap menjawab, its five working days. Dan benar aja, setelah lima hari, urusan sayapun selesai. Sekali lagi. standar lima hari itu, berlaku untuk semua orang.

Ketika saya terlupa membawa immunisation history saat akan melakukan imunisasi anak saya, sang dokter dengan baik hati memberikan keringanan kepada saya, setelah saya jelaskan kenapa saya sulit untuk pulang kembali menjemput dokumen itu. Padahal, menurut standar imunisasi di sini (yang biasanya sangat ketat), agak susah membayangkan seorang dokter berani memberikan vaksin imunisasi kepada seorang anak, tanpa melihat histori imunisasinya. Tapi selalu ada fleksibilitas di setiap aturan. Di atas setiap aturan ada commonsense yang bisa digunakan, agar sebuah urusan bisa selesai, tanpa harus merugikan siapapun.

Ada satu pertanyaan standar yang akan sering kita dengar kalau kita berurusan dengan para birokrat di sini (termasuk juga dengan pegawai jasa lainnya), yaitu anythingelse I can help you?. Sekalipun pertanyaan ini kadang terkesan basa-basi, tapi saya melihat dasar filospis pertanyaan ini adalah budaya melayani tadi. Sebuah budaya agar bisa membantu orang lain, bisa membuat orang senang, dan juga mempermudah urusan orang lain. Pertanyaan tadi juga sering diikuti dengan pertanyaan, are you happy with that? Satu pertanyaan lain untuk memastikan bahwa orang yang berurusan dengannya senang atau tidak. Seakan ada kesenangan tersendiri bagi mereka saat melihat orang yang berurasan dengannya puas akan layanan yang diberikan.

Dan di lain waktu, berkali-kali saya menyaksikan seorang John Howard dengan santai dan tak risih berdialog langsung dengan rakyatnya di lapangan, tanpa pengawalan dan protokoler berlebihan. Dan masyarakat Aussiepun tanpa segan akan menyampaikan pendapatnya secara terbuka. Seperti tak ada jarak antara pemimpin dengan rakyat biasa yang dia pimpin.

Nah, sama dengan pertanyaan sebelumnya (kayaknya pertanyaan ini akan selalu berulang pada setiap edisi), apa hubungannya dengan Islam, dan bagaimana kenyataannya dengan birokrat kita di tanah air?

Seperti temans semua paham, bahwa kalau kita mengkaji konsep kepemimpinan di dalam Islam, maka kita akan sangat sering bertemu dengan konsep seperti amanah, almusawwah, almasuliyah, dan khadimul ummah.

Konsep amanah mengajarkan kepada kita bahwa jabatan apa saja, apalagi jabatan dalam birokrasi, pada hakekatnya adalah sebuah taklif (beban) dan bukan takriim (kemuliaan). Karenanya, seharusnya jabatan apapun tak pantas dianggap nikmat yang harus disyukuri. Sebagai sebuah amanah, maka jabatan itu tidak hanya harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat yang memilihnya, tapi jauh lebih dari pada itu kepada Allah SWT.

Maka tak heran, kalau khalifah Umar bin Khattab r.a pernah mengatakan,

“Seandainya ada keledai yang jatuh dari atas gunung di kawasan Irak sehingga patah kakinya, pasti Allah SWT meminta pertangungjawaban saya (Umar) karena tidak membuat jalan untuk dilintasi keledai tersebut”; dan “Kalau kambing tersasar dan hilang di pingiran sungai Eufrat, maka Umar akan bertanggung jawab pada hari akhirat”.

Luar biasa bukan?

Dengan konsep khaadimul ummah, Islam mengajarkan bahwa seorang birokrat sesungguhnya adalah pelayan bagi masyarakat yang dipimpinnya, bukan justru sebaliknya meminta untuk dilayani. Kebahagian utama seorang pemimpin (baca: birokrat) seharusnya terletak pada saat dia bisa memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat yang dipimpinnya. Mempermudah dan mempercepat urusan mereka, adalah salah satu bentuk pelayanan itu. Bahkan, mereka harus selalu siap bekerja ’24 jam’ untuk rakyatnya.

Konsep almusawwah (kesetaraan) mengajarkan bahwa pemimpin hanyalah orang ‘yang ditinggikan seranting’ dari orang yang dipimpinnya, karenanya tak pantas kalau seorang pemimpin hidup menjauh dan harus takut ketika bertemu dengan rakyatnya. Kebahagian seorang pemimpin adalah saat mereka mampu mendengar keluhan orang-orang yang dipimpinnya.

Dan yang paling penting adalah, setiap pemimpin pasti akan dimintai pertanggungjawaban akan apa yang dipimpinnya. Karenanya dalam Islam, tak pantas seorang pemimpin sewenang-wenang dengan kekuasaan yang dia miliki. Tak pantas kalau seorang pemimpin (birokrat) menyalahgunakan wewenang yang dia miliki. Karena kekhawatiran inilah, kunon khalifah Umar bin Abdul Azis sampai tak mau menyalakan lampu yang notabene ‘milik negara’ ketika suatu malam dia mendiskusikan urusan pribadinya.

Sekarang lihatlah diri kita sebagai sebuah ummat di tanah air. Bagaimana kualitas para birokrat kita yang mayoritas muslim itu. Sudahkah kita temukan birokrat yang benar-benar melayani? Birokrat yang tersenyum tulus dan dengan hangat menyapa saat kita berurusan dengan mereka. Birokrat yang memberikan standar pelayanan yang sama pada setiap orang? Birokrat yang menjadikan kepuasan orang lain sebagai sumber kebahgiaanya?

Sampai di sini. Kembali kita harus jujur bahwa mayoritas birokrat kita masih sangat jauh dari apa yang diajarkan Islam. Zaman boleh saja berubah, tapi mentalitas birokrat kita tak banyak berubah. Banyak para birokrat kita mengangga
p bahwa jabatan adalah nikmat besar yang pantas disyukuri, karena dengan itu sang birokrat bisa melakukan apapun yang dia mau. Sangat susah membayangkan bisa berurusan dengan nyaman dengan mereka, kecuali anda menyelipakan beberapa lembar ribuan di laci meja mereka. Sepertinya banyak birokrat kita masih suka mempraktekkan motto lama, kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah. (Silahkan baca tulisan saya yang ini, untuk contoh lebih lanjut).

Ini tentu ironis. Sepertinya ajaran Rasulullah SAW berikut tidak kita temukan pada kebanyakan birokrat kita,

“Barangsiapa yang melapangkan seorang mukmin suatu kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia,nescaya Allah akan melepaskan dirinya dari suatu kesusahan dari kesusahan-kesusahan di hari kiamat. Dan barangsiapa yang meringankan penderitaan seorang yang susah, nescaya Allah akan meringankan penderitaan dirinya di dunia dan di akhirat.Dan Allah selalu menolong hambaNya,selagi hambaNya berusaha menolong saudaranya” (H.R. Muttaffaqun alaih).

Dus, betapa indahnya andai para birokrat kita menyelami makna dan mengamalkan hadis ini.

Potret ironis itu akan semakin kentara tatkala hampir tak sekalipun kita mendengar para birokrat itu menyesal apalagi meminta maaf atas kenyataan begitu banyaknya korban, materi dan non materi, berupa nyawa manusia yang melayang sia-sia akibat berbagai kecelakan yang kalau dirunut sangat erat hubungannya dengan tak becusnya birokrat itu menjalankan amanah.

Karenanya, pantas kita malu kepada para bule yang (sebagian) tak percaya tuhan itu. Wallahu’alam.

*sorry kepanjangan nih. Sampai jumpa lagi pada episode berikutnya*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s