Seri 3: Ku Temukan “Islam” di Negeri Kangguru

Sahabat sekalian,

Senang kembali bisa menjumpai kalian melalui tulisan ini. Bagi saya saat ini menulis di MP lebih menarik dan menyenangkan daripada menulis thesis. Hehe … Padahal due date thesis saya udah semakin dekat lho.

Oh ya, tak lupa saya mengingatkan bagi temans yang baru pertama kali membaca postingan saya tentang topik ini, please juga dibaca seri pengantar, seri pertama, dan seri kedua topik ini, agar kalian bisa mendapatkan gambaran utuh tema tulisan dari awal.

Bahasan saya pada edisi ini sebenarnya masih ada kaitan dengan topik sebelumnya tentang birokrat yang melayani. Kali ini saya akan membahas salah satu kebijakan Howard yang menurut saya pantas diapresiasi dan sekaligus dipelajari, yaitu terkait sistem social security (jaminan sosial) untuk masyarakat Aussie sebagai salah bentuk pelayanan negara kepada rakyatnya. Semua program ini dikelola oleh badan pemerintah yang bernama centrelink.

Sahabat, tahukah anda bahwa di sini sangat susah menemukan masyarakat yang benar-benar hidup melarat? Dan karena susah menemukan orang miskin di sini, sebagian besar muslim (terutama masyarakat Indo) di sini terpaksa mengirimkan zakat fithrah dan qorbannya ke tanah air, agar ibadah zakat fithrah dan juga qorban itu bisa tepat sasaran.

Tentu bukan berarti semua orang di sini kaya raya. Tetap saja ada orang yang hidup ‘pas-pasan’ (menurut ukuran standar hidup di sini) , tapi masayarakat yang kurang beruntung itu dibantu dan dilindungi negara melalui sistem jaminan sosial yang luar biasa.

Ya, memang luar biasa. Betapa tidak. Sistem jaminan sosial itu memungkinkan masyarakat miskin itu untuk hidup ‘layak’ seperti kebanyakan orang lain di sini. Semiskin apapun seorang Aussie dia masih bisa memiliki mobil, menyewa rumah, dan menyekolahkan anak mereka. Lho kok bisa? Iya, bisa, karena negara memberikan subsidi berupa bantuan keuangan kepada mereka melalui berbagai program bantuan sosial, seperti program family assistance.

Dengan program ini, keluarga kurang beruntung ini, misalnya mereka yang belum memperoleh pekerjaan, mereka yang penghasilannya ‘pas-pas’an, dan atau mereka yang cacat, bisa memperoleh bantuan sewa rumah, biaya sekolah anak (di child care), biaya perawatan orang jompo, biaya melahirkan, dan bahkan negara juga memberikan tambahan bantuan kepada keluarga yang memelihara ‘anak yatim’.

Besarnya bantuan yang diberikan negara tidak sedikit. Seorang yang melahirkan, misalnya, disamping gratis biaya melahirkan, si orang tua juga berhak memperoleh bantuan negara melalui program maternity sebesar AU$5000 (sekitar 35 juta rupiah) untuk setiap anak. Dana ini dimaksudkan agar orang tua bisa membesarkan anaknya dengan standar kesehatan yang layak.

Jika anda seorang janda dan tak bisa lagi mencukupi kebutuhan anda sehari-hari, anda berhak meminta bantuan pemerintah melalui fasilitas widow allowance. Jika anda seorang pensiunan yang tak memiliki cukup duit untuk membayar sewa rumah (yang sangat mahal disini), anda berhak menerima bantuan pemerintah melalui program rent assistance. Bahkan Jika anda seorang anak muda berumur sekitar 16 – 24 tahun, sedang kuliah dan atau sedang magang kerja, anda juga berhak menerima bantuan keuangan dari pemerintah melalui program youth allowance.

Dampak paling jelas dari sistem jaminan sosial ini adalah tidak terlihatnya gap yang nyata antara si kaya dan si miskin dalam keseharian masyarakat di sini. Semua orang memiliki standar kesejahteraan yang hampir sama. Kalaupun satu dua kita masih menemukan pengemis di jalanan, hampir bisa dipastikan mereka para pengemis itu tergolong mereka yang ‘sangat pemalas’, yaitu para ‘drunker’, dan atau ‘drug users’ yang justru menggunakan bantuan pemerintah itu untuk kesenangan semata.

Nah bagaimana dengan (konsep) Islam. Saya pikir Islam sudah lama memiliki (dasar-dasar) ajaran sistem jaminan sosial ini. Bukankah sejak awal Allah telah memproklamirkan bahwa para pendusta agama itu adalah mereka yang tak memberi makan orang miskin dan menyia-nyiakan anak yatim (Q.S. 107:1-3). Dengan kata lain bahwa kita (apalagi negara) berkewajiban memberikan jaminan sosial terhadap orang miskin dan anak yatim itu.

Ajaran Islam tentang zakat misalnya adalah juga bentuk lain dari konsep jaminan sosial di dalam Islam, karena zakat memungkinkan terpenuhinya keperluan sosio-ekonomi masyarakat dalam bentuk dan ukuran yang paling minimal dan merata ke atas semua orang. Bahkan, menurut beberapa ulama dan ahli sejarah, zakat adalah suatu sistem jaminan sosial yang pertama kali ada di dunia

Jika dikaji asnaf-asnaf zakat, maka akan jelas kelihatan bahwa skim-skim perlindungan sosial modern seperti yang terdapat di OZ ini bukanlah sesuatu yang baru. Dari delapan asnaf zakat yang dijelaskan dalam al-Quran, enam diantaranya berkaitan dengan kemiskinan.

Dan dalam sejarah Islam, sistem sosial yang mensejahterakan ini bukanlah sebuah utopia. Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah menjadi fakta sejarah ummat Islam tentang kemakmuran di bawah sistem ini, disamping budaya hidup bersih yang diperlihatkan para pemimpin. Bahkan dalam sejarah Islam disebutkan bahwa pada masa itu pemerintah juga kebingungan mencari rakyat miskin di negeri itu. Subhanallah.

Sekarang, bagaiamana dengan kenyataan di negeri kita tercinta bernama Indonesia?

Hmmm … saya yakin kalian sudah tahu jawabannya. Bahwa sampai hari ini bangsa kita masih belum bisa keluar dari krisis ekonomi yang melandanya sejak hampir sepuluh tahun yang lalu. Angka pengangguran semakin bertambah. Jumlah orang miskinpun meningkat tajam. Sektor ekonomi mikro kita tak kunjung membaik. (Lebih jauh lihat data dari BPS di sini). Akibatnya tak heran kalau kita saksikan tingkat kriminalitaspun meningkat tajam.

Saya pikir pantas kalau kita bertanya, apakah penguasa merasakan kepedihan yang dialami jutaan rakyat miskin yang tersebar di seantoro negeri ini? Apakah pemerintah peduli dengan nasib anak-anak jalanan, orang-orang cacat, para janda, dan bahkan nenek-nenek jompo, yang terpaksa meminta-minta dan menjadi mengemis di jalanan berdebu itu? Dimana pemerintah tatkala banyak rakyatnya manangis perih ketika tak ada makanan untuk dimakan di malam hari? Dimana tanggung jawab negara ketika ratusan ribu anak-anak muda Indonesia setiap tahun tak bisa melanjutkan sekolah karena mahalnya pendidikan? Siapa yang mau mendengar jerit pilu jutaaan pengangguran di negeri kita?

Sampai kapankah kemiskinan itu bisa hilang dalam potret kita sebagai sebuah bangsa (yang pernah besar) yang bernama Indonesia? Padahal pada saat yang sama, ratusan juta ummat Islam Indonesia senantiasa membaca Al-Quran setiap hari. Membaca surat Al-Maun. Membaca ayat-ayat tentang zakat, infak, dan sedekah. Tentu kenyataan kemiskinan yang sangat telanjang di negeri kita adalah bentuk lain dari ironi kita sebagai sebuah ummat.

Sampai di sini, kembali kita harus malu dengan para bule yang notabene tak pernah mengenal ayat-ayat suci itu. Wallahu’alam.

*Please dikomentari dan sampai jumpa pada edisi berikutnya*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s