Seri 4: Ku Temukan “Islam” di Negeri Kangguru

Sahabat sekalian,

Semoga rahmat Allah SWT selalu tercurah kepada kita semua. Semoga setiap detik yang kita lewatkan tak pernah sia-sia. Dan semoga tulisan ini bisa menjadi sarana penuh makna penguat ikatan silaturrahmi kita di dunia maya ini.

Just a friendly reminder, bagi temans yang baru bergabung, please dibaca juga seri pengantar, seri pertama, seri kedua, dan seri ketiga tulisan ini.

Pada edisi kali ini saya akan membahas satu hal yang saya yakin kalian pernah dengar (atau bahkan mengalami sendiri), yaitu terkait dengan budaya hidup bersih (dan juga hidup sehat) warga di sini. Saya sengaja menambahkan kata ‘budaya’ di depan kata ‘bersih’ dan ‘sehat’ ini, karena dari pengalaman satu setengah tahun saya di sini, fakta kebersihan yang saya temukan itu tidak selalu berhubungan dengan sueing culture yang disampaikan uni Maimon. Tapi sepertinya lebih disebabkan karena mereka sudah menjadikan hidup bersih itu sebagai pola hidup dan juga kebiasaan mereka.

Ya. Hidup bersih (secara fisik) telah menjadi kecintaan dan sekaligus kebutuhan masyarakat di sini. Refleksi dari kecintaan itu tidak hanya terlihat dari bagaiman cara mereka mengelola sampah (barangkali saya harus membuat pembahasan khusus tetang sistem pengelolaan sampah di Australia pada edisi yang lain), tapi juga dari bagaimana mereka memperlakukan cleaners (petugas kebersihan) sebagai manusia yang pantas dihargai. Di sini seorang petugas kebersihan digaji tak jauh beda dari profesi lainnya, dan karenanya mereka bisa hidup layak sebagaimana masyarakat Aussie lainya. (Ayo ngaku yang pernah jadi cleaners ).

Budaya hidup bersih ini tidak hanya terlihat pada orang dewasa, tapi juga sampai pada anak-anak kecil. Secara reflek seorang anak ingusan sekalipun akan mencari tong sampah (yang biasanya tak sulit mencarinya) ketika akan membuang sampah. Maka, tak heran kalau suatu hari seorang teman saya harus menanggung malu ketika dia dipaksa kembali memungut sampah oleh seorang ABG Aussie sesaat setelah dia secara reflek membuang bungkus coklat yang habis dia makan ke luar tram. Sadar akan kesalahannya, dengan muka agak merah, sang teman kemudian memungut kembali sampah yang dia buang.

Suasana bersih yang damai dan menyejukkan adalah salah satu kesan yang akan dengan mudah kita peroleh ketika berkunjung ke OZ. Kalaupun di beberapa tempat tertentu, satu dua kita masih melihat sampah, tapi secara umum bisa dikatakan bahwa di sini kak ada sampah berserakan di jalanan. Kalaupun ada, paling cuma dedaunan kering yang berguguran di tiup angin ketika musim gugur tiba. Dedaunan itu kelihatan menguning di pinggiran jalan pada siang hari. Namun besok pagi dedaunan itu akan hilang, karena malamnya sudah dibersihkan oleh petugas kebersihan kota.

Suasana bersih itu tidak hanya terlihat di rumah-rumah penduduk, tapi juga di jalanan, taman-taman kota, dan sampai ke bangunan-bangunan publik. Lebih jauh, fakta bersih itu tak hanya terlihat di ruang tamu sebuah rumah, tapi juga sampai ke dapur, dan bahkan toilet n kamar mandi. Dan tahukah anda bahwa kebanyakan lantai toilet di rumah orang OZ beralaskan karpet, dan karenanya susah untuk menemukan air berceceran sembarangan di sana. Toilet yang bersih itu tak hanya ditemukan di rumah mereka, tapi bahkan juga di toilet umum. Hampir semua toilet umum kebersihannya terjaga dan terawat dengan baik.

Perhatian yang sangat tinggi pada kebersihan tak hanya kita temukan pada kebersihan fisik. Tapi juga pada kebersihan makanan dan minuman. Karenanya, jangan harap di sini kita bisa menemukan makanan yang dijual sembarangan di jalanan. Kalau ada toko yang jual makanan, hampir bisa dipastikan makanan yang dijual telah mengikiti uji kelayakan dari segi hygenitas dari lembaga terkait. Karenanya di sini kita tak perlu khawatir dengan kemungkinan apakah makanan yang kita konsumsi mengandung bakteri dan atau sumber penyakit lainnya.

Bahkan, terkait dengan kebersihan makanan dan minuman ini, di sini anda tak perlu ragu meminum langsung air kran dimanapun kran itu kita temui, karena air yang mengalir di kran itu dijamin bersih dan juga sehat karena air itu telah melewati proses hygenisasi berdasarkan prosedur kesehatan di sini.

Sebenarnya, tak susah untuk memahami mengapa kebersihan telah menjadi pola hidup mereka, karena kita semua tahu bahwa bersih selain indah juga sangat terkait erat dengan kesehatan. Ada begitu banyak penyakit yang kalau ditelusuri, maka akan kita temukan bahwa salah satu penyebab (utamanya) adalah dari pola hidup yang tidak sehat. Dan dalam konteks ini, kita bisa paham kenapa imigrasi Australia terkenal super ketat dalam memeriksa bahan-bahan yang dibawa seseorang dari LN saat berkunjung ke Australia, karena mereka khawatir dengan berbagai bibit penyakit yang bisa saja ‘ikut jadi turis’ bersama para pengunjung itu ke Australia.

Sekali lagi, pola hidup bersih ini sesungguhnya sangat terkait dengan budaya lain, yatu budaya (baca: kesadara untuk) hidup sehat. Dan kalau digali lebih jauh lagi, akan kita temukan bahwa ada korelasi budaya ini dengan bahasan saya pada edisi pertama, yaitu appresiasi mereka yang sangat tinggi dengan kehidupan itu sendiri.

Khusus tentang kesehatan ini, ada pengalaman yang barangkali tak kan pernah saya lupa, yaitu tatkala tiba-tiba suatu malam saya dapat telpon dari teman saya bahwa saya diminta segera bikin appointment bertemu dengan dokter pada esok harinya. Penyebabnya adalah karena salah seorang teman saya positif terifeksi Hepatitis A sesaat setelah kami pulang dari sebuah excursion. Maka kemudian sang dokter yang mendiagnosis teman saya itu ‘memerintahkan’ agar semua teman yang ikut dalam rombongan excursion itu untuk segera disuntik imunisasi Hepatitis A agar kami tidak terinfeksi virus yang sama, dan tentu juga untuk mencegah sedini mungkin agar virus itu tidak menular ke lebih banyak orang.

Kekaguman saya dengan tindakan preventif yang dilakukan Departemen Kesehatan di sini tak berhenti
sampai di sini. Ketika saya terlupa memenuhi janji yang telah saya bikin untuk kembali menemui sang dokter setelah imunisasi itu, 3 hari pasca diinjeksi saya ditelpon langsung oleh dokter yang memeriksa saya, bahwa saya dinyatakan imun, dan tak perlu khawatir dengan virus Hepatitis itu. Luar biasa bukan?

Nah, bagaimana dengan konsep Islam tentang kebersihan dan kesehatan? Saya pikir saya tak akan berpanjang lebar menjelaskannya, karena saya yakin sahabat semua sudah sangat hapal dengan ajaran Rasulullah SAW yang mengatakan bahwa kebersihan itu adalah bagian dari Iman, bahwa Allah itu indah dan mencintai keindahan. Bahkan, kalau kita mengkaji kitab fiqh, maka pembahasan pertama yang akan kita jumpai adalah pembahasan tentang thaharah (bersuci). Semua ini menunjukkan bahwa Islam sejak lama telah mengajarkan kita tentang pentingnya kebersihan.

Tentang kesehatan, Rasulullah SAW juga mengajarkan, rebut dan jaga perkara lima, sebelum datang perkara lima, dimana kesehatan adalah satu di antaranya. Dalam hal ini Rasul menekankan, bahwa kesehatan merupakan nikmat yang sangat besar, kesehatan adalah mahkota bagi orang yang sehat

Sekarang, mari kita menengok potret besar bangsa kita, yang bernama Indonesia. Tak bisa dibantah bahwa budaya kebersihan itu masih sangat jauh dari masyarakat kita. Perhatikanlah jalanan di sekita kita. Lihatlah bagiamana rupa Sungai Cilwung kini. Lihatlah kebanyakan pantai (yang sesungguhnya indah) di negeri kita. Dan lihat juga selokan di sekitar ruma kita. Sampah ada dimana-mana. Tak heran kalau banjir kemudian menjadi ‘tamu tahunan’ kita. Dan tak heran juga ada begitu banyak penyakit menular dan mewabah di negeri kita.

Kesan kotor (untuk tidak mengatakan jorok) itu tak hanya kita temukan di jalanan, di lokasi publik, seperti pasar, atau di toilet umum di negeri kita, tapi kondisi yang tak jauh beda dengan mudah juga kita temui saat kita berkunjung ke (sebagian) rumah ibadah, seperti masjid dan mushalla di negeri kita.

Saking masih ‘terbelakang’nya kita dalam kesadaran hidup bersih ini, sampai ada anekdot yang bilang begini, tahukah anda negara dimana WC paling panjang di dunia? Jawabannya adalah Indonesia. Dan tahukah anda negara dimana tong sampah paling besar di dunia? Jawabannya adalah Indonesia. Tanya kenapa? Wallahu’alam

*Sampai di sini dulu teman-teman. Sampai jumpa pada edisi berikutnya. Salam*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s