Seri Premium: Ku Temukan “Islam” di Negeri Kangguru

Sahabat semua,

Senang bisa kembali menemui anda dalam cerita berseri ini. Semoga kalian tidak bosan membaca tulisan saya tentang topik ini.

Sesuai permintaan mas Eljowo, kali ini saya turunkan ‘edisi premium’ topik ini . Untuk menghindari kebosanan, seperti yang disampaikan Mbak Aris, edisi ini sepertinya bakal menjadi edisi preclose dari beberapa tulisan sebelumnya dengan judul yang sama. Dan Insyaallah pada edisi terakhir nanti, saya akan tutup serial ini dengan beberapa tawaran solusi (dalam konteks permasalahan Indonesia) seperti yang direquest sahabat kita Muhammad.

Pada edisi kali ini, saya akan membahas satu hal yang menurut saya sangat penting dan boleh jadi salah satu jawaban dari beberapa pertanyaan mengapa Australia (baca: barat) bisa mengalami kemajuan seperti yang kita lihat saat ini, yaitu terkait dengan kenyataan betapa seriusnya mereka menggarap dunia pendidikan.

Agar tidak terlalu panjang, sepertinya saya tidak akan berbicara banyak bagaimana mereka mengelola pendidikan usia dini, primary, dan secondary school. Saya akan loncat bercerita tentang bagaimana pengalaman saya selama mengikuti proses belajar di Monash University, yang kunon katanya adalah salah satu universitas terbaik di dunia. *GR mode on*

Terus terang, saya sangat terkesan dengan keseriusan pihak Monash dalam menyelenggarakan pendidikan bermutu, seperti terlihat dari berbagai fasilitas sangat lengkap yang disediakan Monash untuk menunjang proses pembelajaran. Library yang ‘super lengkap’ adalah salah satu contohnya. Selama belajar di sini, saya hampir belum pernah terkendala dengan referensi apapun yang saya inginkan, karena library Monash berlangganan ribuan jurnal internasional yang bisa diakses mahasiswa kapan saja. Dan hampir setiap minggu Monash selalu melengkapi koleksi buku/referensi terbarunya.

Disamping itu Monash juga menyediakan berbagai fasilitas pendukung untuk memenuhi ‘apapun’ kebutuhan mahasiswa dan juga dosen untuk keberhasilan pembelajaran. Jika anda punya masalah dengan teman dan atau keluarga, misalnya, anda bisa dengan cepat menghubungi counseling professional untuk mendiskusikan persoalan anda, agar masalah itu kemudian tidak mengganggu konsentrasi belajar anda. Jika anda tidak punya uang untuk biaya perkulihan, anda bisa menghubungi unit khusus di universitas yang bisa membantu anda dengan pinjama lunak. Jika anda bermasalah dengan bagaimana menulis paper menurut atauran akademis yang baku, anda bisa bikin appointment dengan salah seorang staf di language and learning centre. Bahkan, jika anda pulang kemalaman dari kampus, ada mobil security kampus yang siap mengantar anda sampai ke rumah selama masih dalam radius yang ditetapkan. (Dan saya sering menggunakan fasilitas ini kalau sudah kemalaman pulang dari tempat kerja. Hehehe…).

Kekaguman saya tidak berhenti hanya pada semua fasilitas itu, tapi juga pada suasana belajar mengajar di kelas yang, menurut saya, sangat terbuka, humanis, dan demokratis. Saya terkesan ketika para dosen saya memberikan kesempatan luas kepada para mahasiswa untuk mendebat pendapatnya, dan mahasiswa tidak perlu khawatir dengan power relation issue. Tak akan ada nilai mahasiswa yang berkurang hanya karena mahasiswa berani berbeda pendapat dengan dosennya. Kemudian, saya lebih terkesan lagi ketika para professor di sini, dengan ringan dan tanpa malu, mengatakan I don’t know ketika dia benar-benar tidak tahu dari suatu masalah yang diajukan. Dan di lain waktu, saya belajar bagaimana menghargai pendapat orang lain dari para professor itu. Ketika proses pembalajaran berlangsung, hampir semua orang memahami bahwa prinsipnya there is no silly question. Bahwa tak ada pertanyaan bodoh. Artinya apapun pendapat dan atau pertanyaan yang diajukan oleh seseorang, hampir selalu diappresisasi dan direspon poistif. Tak kan pernah kita dengar respon negatif dari seorang dosen, atau mahasiswa yang lain, seperti Ah masa itu aja tidak tahu, atau Kalau itu anak kecil juga tahu, dan sejenisnya.

Saya juga melihat bagaimana ‘amanahnya’ para dosen dan staff di fakultas saya dalam menajalankan profesi mereka. Hampir semua dosen datang dengan ‘segerobak’ bahan pengajaran yang telah disiapkan sebelumnya. Tak ada dosen yang tidak hadir tanpa konfirmasi. Kalaupun seorang dosen berhalangan, biasanya yang bersangkutan akan mencarikan dosen pengganti. Di sini, seorang mahasiswa benar-benar bisa memperoleh haknya sebagai mahasiswa. Dengan kata lain, para dosen itu benar-benar menjalankan kewajibannya secara professional.

Sedikit bercerita tentang supervisor saya. Namanya Dr. Margaret Gearon. Selain mengajar beberapa mata kuliah, dia juga adalah salah seorang course coordintor di fakultas saya. Dengan demikian, tak heran kalau dia sangat sibuk. Yang menarik bagi saya adalah, hampir tak pernah dia menjadikan alasan sibuknya untuk menolak saya melakukan konsultasi. Ketika kami sudah bikin komitmen untuk bertemu sekali seminggu. Maka komitmen itu dia tepati. Bahkan kalau saya tidak datang, justru dia yang mengontak saya. Dan tahukan anda, bahwa dia jugalah yang membantu proses penulisan thesis saya sampai kepada hal-hal sangat teknis, seperti membantu foto kopi, print, dan (kadang) mengetikkan.

Kami juga punya staf lain, bernama Rosemary Viete. Dia adalah seorang yang saya pikir sangat berjasa dalam membantu hampir semua mahasiswa di fakultas saya selama belajar di sini. Selain membantu kami mengurus masalah administrasi perkuliahan, Rosemary juga membantu kami memahami materi perkuliah dan proses pembuatan assignment melalui study group dan individual consultation bersama yang bersangkutan. Sekalipun terkadang dia kelelahan karena saking banyaknya tugas yang harus dia lakukan, tapi dia tetap berusaha tersenyum ramah melayani semua mahasiswa yang berhubungan dengannya.

Dan menurut saya, pelajaran paling penting dari semua proses belajar yang saya dapatkan disini adalah bagaiamana kita h
arus menempatkan nilai-nilai kejujuran dan kerja keras di atas segalanya untuk meraih sebuah prestasi. Karena penghormatan kepada nilai-nilai inilah, Monash dan juga hampir semua lembaga pendidikan di OZ (saya yakin juga di banyak masyarakat bule yang lain) sangat membenci dengan apa yang disebut cheating (mencontek/berlaku curang/dan sejenisnya). Di sini tiada ampun bagi student yang tertangkap cheating. Bahkan anda bisa terancam dikeluarkan dari universitas bila anda secara sah dan meyakinkan telah melakukan tindakan tak terpuji itu. Di sini mencontek adalah tindakan kriminal yang tak layak menempati ruang dalam kehidupan akademik kampus.

Pendeknya, saya menemukan proses pendidikan di sini benar-benar dilakukan dengan sangat serius. Tidak hanya serius dalam mempersiapkan infrastruktur atau sarana pendukung pembelajaran, tapi juga sangat concern dalam mempraktekkan nilai-nilai pendidikan yang saya pikir berlaku universal. Dan kalau dikaji lebih jauh lagi, saya pikir penyebab utama dari fenomena ini adalah karena adanya kesadaran kolektif masyarakat di sini bahwa investasi dalam berbagai bentuk di bidang pendidikan tidak hanya sangat penting, tapi juga sangat urgent. Pendidikan adalah kata kunci dari proses keberhasilan membangun sebuah peradaban.

Semua nilai-nilai itu saya pikir tak jauh beda dengan apa yang diajarkan dalam Islam. Sudah lama kita mengenal dan membicarakan bagaimana perhatian yang sangat serius Islam kepada dunia pendidikan ini (baca: ilmu pengetahuan). Mulai dari ayat pertama turun (Iqra’) sampai pada peletakan ilmu yang setara dengan keimanan ketika Allah menjanjikan derjat yang tinggi bagi mereka yang memiliki keduanya (Q.S. 58:11) . Bahkan Rasulullah SAW mengajarkan bahwa menuntut ilmu adalah wajib bagi seluruh kaum muslimin dan muslimat. Mafhum mukhallafah dari kewajiban menuntut ilmu ini adalah juga wajib bagi kaum muslimin untuk menyediakan fasilitas belajar yang memadai.

Dan karena ajaran Islam inilah, tak heran kalau sesungguhnya peradaban dunia seperti yang kita lihat sekarang tak bisa dipisahkan dari sumbangsih ummat Islam ketika mencapai masa kejayaannya di berbagai bidang, termasuk di dunia pendidian, pada ratusan tahun yang lalu di masa Daulah Abbasiah. (Sedikit cerita tentang kejayaan masa lalu ini, bisa baca di sini).

Nah, sekarang mari kita intip bagaimana kenyataan dunia Islam hari ini? Bagaimana cerita dunia pendidikan kita, khususnya Indonesia? Bagaiaman dengan sarana dan parasarana pendidikan kita? Bagaimana kualitas para guru dan dosen kita? Saya dan sahabat semua pasti tahu jawabannya. Jujur ada ‘segerobak masalah yang terus melilit dunia pendidikan kita. Mulai dari berbagai fasilitas belajar yang terbatas (mungkin akibat anggaran pendidikan kita yang dulu pernah disebut sebagai negara dengan budget pendidikan paling rendah di dunia), belum fokusnya content kurikulum pendidikan yang kita inginkan sebagai sebuah bangsa, sampai pada belum dijadikannya profesi mengajar sebagai profesi yang ditekuni dan dicintai dalam makna yang sesungguhnya oleh sebagian para pendidik kita.

Tentu selalu ada pengecualian, seperti saya juga sampaikan pada kasus yang lain. Tapi saya yakin kita semua bisa memberikan testimoni terkait berbagai masalah itu. Sebagai contoh, dulu saat kita menulis skripsi kadang kita justru lebih banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal teknis, seperti susahnya menemui pembimbing, ketimbang menghabiskan waktu dengan proses penulisan itu sendiri. Kita barangkali juga bisa lihat bagaimana kelengkapan perpustakaan kita. Belum lagi kalau kita berbicara tentang ‘budaya mencontek’ yang semakin mengkhawatirkan di negeri kita (bagi sahabat yang mengikuti kasus Ujian Nasional pasti tahu mengenai fenomena buruk ini). Semua itu, terus terang, memaksa kita untuk berfikir dan bertanya tentang bagaiamana masa depan dunia pendidikan kita.

Karena semua itulah, tidak heran kalau kualitas dunia pendidikan kita jauh tertinggal (untuk tidak mengatakan ‘terpuruk’) dari banyak negara di dunia. Kita tidak hanya ditinggalkan oleh negara-negara maju seperti Jerman, Swedia, Australia dan atau US, tapi juga sudah mulai ditinggalkan oleh negara-negara tentangga kita seperti Malaysia, Thailand, dan hanya satu tingkat lebih baik dari Vietnam. (Lihat salah satu data dari Human Development Index/HDI di sini).

Sampai di sini kita harus dan pantas bertanya, kenapa kenyataan ironis itu justru terjadi di negeri dengan populasi muslim terbesar di dunia ini? Sebuah masyarakat yang sesungguhnya memiliki peradaban gemilang di masa lalu. Tanya kenapa (lagi)? Wallahu’alam.

*Diputus lagi sampai di sini. Ditunggu masukan dan komentarnya. Sampai jumpa lagi teman-teman*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s