Seri Penutup: Ku Temukan “Islam” di Negeri Kangguru

Sahabat sekalian,

Alhamdulillah, saya kembali bisa menjumpai anda semua untuk ‘menuntaskan’ serial Ku Temukan “Islam” di Negeri Kangguru. Dan bagi rekans yang baru berkunjung, akan lebih baik juga membaca beberapa edisi terdahulu tulisan ini (seri pengantar, seri pertama, seri kedua, seri ketiga, seri keempat, dan seri premium).

Seperti yang saya janjikan, pada edisi penutup ini saya akan menawarkan solusi dari berbagai permasalahan yang sebelumnya saya bicarakan dalam konteks Indonesia.

Terus terang, saya merasa tidak begitu percaya diri untuk bisa menawarkan solusi. Selain karena permasalahan yang melilit kehidupan kita sebagai bangsa sudah sangat rumit, juga karena membicarakan solusi bagi permasalahan bangsa barangkali terlalu besar buat seorang dengan kapasitas seperti saya. Seorang yang sangat biasa, yang bahkan mencarikan jalan keluar dari masalah pribadinya kadang masih belum bisa …

Tapi, ‘ala kulli hal, anggap aja apa yang saya sampaikan sebagai pancingan awal atau pemantik diskusi kita dalam membahas solusi ini. Saya berharap teman-teman yang tertarik dengan topik ini bisa ikut ‘urun rembug’ menyampaikan pendapatnya.

Beberapa poin yang saya tawarkan berikut tentu tak bisa menjangkau pembahasan pada level teknis seabrek permasalahan bangsa kita. Apa yang saya tawarkan barangkali lebih pada ide-ide makro perubahan. Sebuah tawaran pemikiran yang saya yakin sebagian kita juga sudah pernah membacanya.

Revolusi Paradigma

Mengutip Covey (1997) dalam bukunya yang populer The Seven Habits of Highly Effective People, bahwa hampir semua perubahan besar selalu diawali dengan perubahan paradigma. Lebih jauh Covey mengatakan, ”If You want small changes work at your behaviour but If You want quantum leap changes, work at your paradigm.” (Bila anda menginginkan perubahan yang kecil, garaplah perilaku Anda. Namun bila Anda menginginkan perubahan yang besar & mendasar, garaplah/ubahlah paradigma Anda).

Paradigma adalah cara kita memandang sesuatu. Sebagian orang menyebutnya mindset. Sebagian lagi memahaminya sebagai world view. Semuanya bermakna sama, yaitu terkait dengan bagaimana cara kita memandang, cara berfikir, dan cara kita mempersepsi sesuatu.

Saya sengaja menambahkan kata revolusi di depan kata paradigma. Karena perubahan cara pandang yang kita inginkan bukanlah perubahan yang artifisial. Bukan juga perubahan yang tambal sulam. Tapi yang kita harapkan dalam konteks keluar dari berbagai permasalahan kehidupan kita sebagai bangsa adalah sebuah perubahan mindset yang radikal, dramatis, dan mendasar.

Saya percaya dengan ungkapan Covey di atas. Kalau kita baca sejarah dari banyak perubahan besar dalam episode kehidupan berbagai macam peradaban, maka saya pikir kita akan sampai pada kesimpulan bahwa semuanya tak bisa dilepaskan dari adanya pengaruh yang sangat kuat dari perubahan cara berfikir para pelaku sejarah itu.

Tak terkecuali sejarah Islam. Dakwah Islam yang dilakukan pertama kali oleh Rasulullah SAW selama 13 tahun di kota Mekkah yang menitikberatkan pada penggemblengan aqidah para sahabat, menurut saya, bisa dipahami sebagi upaya Rasulullah SAW merubah cara berfikir masyarakat Quraish yang waktu itu masih jahiliyah. Dan hasilnya sungguh luar biasa. Ada begitu banyak kisah heroik dari penggalan sejarah Rasulullah SAW yang menyampaikan pesan ini.

Kisah Islamnya seorang Bilal bin Rabbah adalah salah satu contoh dari banyak kisah lainnya. Bilal yang sebelumnya berstatus budak dan secara sosial dianggap rendah oleh bangsa Quraish, tapi kemudian berubah drastis menjadi seorang yang sangat percaya diri, teguh pendirian, dan berani menatap siapapun dengan kepala tegak setelah Bilal mengenal Islam. Bilal bahkan tanpa takut mengatakan ‘tidak’ kepada orang yang notabene tuannya ketika sang tuan memaksa Bilal untuk kembali ke agama lama dan meninggalkan Islam.

Kisah Bilal ini menurut saya tak bisa dilepaskan dari hasil revolusi pemikiran (baca: mindset) setelah mendapatkan dakwah Rasulullah SAW. Bilal muncul menjadi seorang yang percaya diri, karena ada perubahan luar biasa dalam dirinya terkait bagaimana dia menatap dan mempersepsi dirinya dalam hubungannya dengan Allah SWT dan dengan manusia lainnya. Dalam pemikiran Bilal yang baru, semua anak Adam adalah sama di mata Allah SWT, tak peduli dari suku mana, dan warna kulit apapun. Dan Bilalpun kemudian menjelma menjadi seorang ‘Neo Bilal’.

Dalam konteks permasalahan Indonesia, menurut saya, hal inilah yang mendesak kita lakukan. Adalah sangat penting adanya sebuah program sistematis untuk merubah cara berfikir anak bangsa kita. Merubah cara berfikir lama yang sangat mungkin salah kaprah ke cara pandang baru yang progressif. Termasuk dalam hal ini merubah adagium kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah menjadi kalau bisa dipermudah, kenapa dipersulit. Merubah cara berfikir aturan dibuat untuk dilanggar menjadi aturan dibuat untuk ditaati. Dari mindset yah bagaimana nanti aja, menjadi nanti bagaimana. Dari kalau anda mau senang, bikin juga saya senang. Cari duit yang haram aja susah, apalagi yang halal, dst …

Kalau mau menggali lebih jauh, saya yakin kita bakal menemukan tumpukan cara berfikir bangsa kita yang perlu diluruskan. Cara berfikir inilah yang kemudian berkontribusi besar dalam memperparah permasalahan kita. Dan dalam batas-batas tertentu, saya yakin inilah akar permasalahan kita sebagai sebagai sebuah bangsa (baca:ummat) hari ini.

Saya yakin sesungguhnhya bangsa kita sudah memiliki banyak perangkat aturan dalam sistem kehidupan kita di tanah air. Dan saya yakin hampir semua aturan itu sudah relatif baik. Karenanya, saya berpendapat bahwa masalah terbesar kita saat ini bukan pada kurangnya aturan, bukan pada tidak adanya sistem, tapi lebih pada the man behind the gun. Siapa pelaku dari semua aturan itu. Dan para pelaku itu, sekali lagi, bergerak dan bertindak di bawah kontrol paradigma yang mereka miliki. Inilah masalah kita sesungguhnya.

Pendidikan Sebagai Entry Point

Saya percaya kalau mau serius keluar dari berbagai permasalah kita, maka kita harus berani mengatakan bahwa pendidikan adalah entry point paling penting untuk kita garap secara serius. Bukan berarti kemudian saya berpendapat bahwa bidang lain tidak penting. Namun, kalau mau dibikin peta permasalahan dan alternatif jalan keluar. Sekali lagi, pendidikanlah ‘pintu masuk’ utamanya.

Saya tak ragu mengatakan bahwa
perubahan cara pandang revolusioner seperti yang saya sebut di atas tak kan bisa kita peroleh, kecuali melalui proses pendidikan yang sistematis. Pendidikanlah dalam berbagai dimensinya yang bisa mengantarkan manusia mengalami berbagai loncatan perubahan dalam kehidupannya. Pendidikanlah yang bisa membuat seorang manusia menjadi ‘manusia yang sebenarnya’.

Pendidikan di sini tidak hanya berarti pendidikan formal di sekolah, tapi juga pendidikan non formal di masyarakat dan keluarga. Bahkan, dalam batas-batas tertentu, pendidikan keluarga justru lebih efektif dan lebih long lasting dalam membentuk pola pikir seorang anak. Karenanya semua sektor pendidikan ini perlu digarap untuk kemudian secara simultan berkontribusi pada proses pendidikan anak bangsa kita menuju perubahan cara berfikir itu.

Tentu diperlukan pembahasan yang sangat panjang tentang model pendidikan seperti apa sesungguhnya yang bisa membuat seseorang mengalami revolusi paradigma. Bagaimana model kurikulumnya. Apa aja perangkat pendukungnya. Dan bagaimana metode pengajarannya. (Mungkin kita bisa lanjutkan pembahasannya pada sesi diskusi dan tanya jawab ).

Penutup

Sekali lagi, saya ingin katakan bahwa perubahan cara berfikir itu hanya bisa kita dapatkan melalui proses pendidikan yang benar. Karenanya energi terbesar anak bangsa kita, hari ini seharusnya dikerahkan bagaimana kita memperbaiki dunia pendidikan kita, baik pendidikan formal, non-formal, maupun keluarga.

Saya yakin, kalau pendidikan ini kita kelola dengan baik, maka pelan tapi pasti aura perubahan kepada kehidupan yang lebih baik itu akan kita rasakan. Yaitu masa di saat kita bisa membayangkan bangsa kita telah memiliki budaya melayani, budaya bekerja keras, budaya taat pada aturan, budaya hidup bersih, budaya bertanggung jawab, budaya menghargai, budaya jujur, toleran, dan berbagai budaya positif lainnya. Dan pada sa’at itulah bangsa kita bisa ‘menggenggam dunia’ .

Kalau kita mau, insyaallah kita bisa ..! Wallahu a’alam.

Sebelum saya tutup, izinkan saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua sahabat yang telah senantiasa setia membaca tulisan ini sejak awal, baik kepada kawan yang telah menuliskan komentar, maupun yang hanya ‘ngintip’ saja.

Jabat erat …

*Melbourne Yang Makin Dingin, 15/06/2007, 10:46 p.m*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s