Taujih di Malam ke 28 Itu

Tulisan ini diambil dari catatan seorang teman pada sebuah milis. Saya posting ulang. Semoga bermanfaat bagi kita sebagai sebuah taushiah sekaligus muhasabah.
Salam,
——————
Taujih dimalam ke 28 itu …
Disela-sela kegiatan i’tikaf yang diikuti ikhwah di sebuah masjid di Sydney, seperti biasanya ba’da tarawih sang Ustadz memberikan taujihnya. Berhubung malam ini merupakan malam ke 28, suasana masjid tidak begitu ramai dibandingkan malam-malam ganjilnya. Apalagi, baru semalam yg lalu, malam ke 27, masjid begitu penuh sesak dengan keberadaan masyarakat muslim sekitar, khususnya para brother dari Timur Tengah, yang sebagian besarnya begitu percaya bahwa malam lailatul qadr akan jatuh pada malam hari itu. Sehingga sangat mungkin sebagian mereka begitu lelah dan capai untuk bisa datang ke masjid dimalam ini.
Kembali ke taujih sang ustadz …
Dengan tidak lebih dari sepuluh ikhwah yang hadir pada malam hari itu, sang ustadz menyampaikan sebuah tema yang sepertinya biasa-biasa saja. Tetapi, sungguh hati ini begitu tersentuh dan bergetar ketika apa yang disampaikan beliau sangat mengena dan memang betul-betul tengah terjadi dilingkungan ini
Dikisahkan oleh sang ustadz, yang kebetulan diamanahkan sebagai pimpinan masjid didaerah Depok, yang nota bene merupakan kawasan yang sangat padat hunian keluarga aktivis, bahwa hatinya sangat pilu dan sedih menyaksikan sangat minimnya mereka-mereka yang mengklaim dirinya sebagai aktivis untuk hadir dimasjid untuk shalat berjama’ah, khususnya diwaktu shubuh …
Betapa tadinya sang ustadz membayangkan akan terjadi suatu suasana dahsyat ketika dirinya memimpin masjid tersebut, puluhan atau bahkan ratusan ikhwah yang tinggal disekitar masjid itu akan meramaikan masjid dengan shalat shubuh berjama’ah. Betapa terbayang olehnya turunnya keberkahan dan pertolongan Allah swt sebagai modal awal perbaikan moral masyarakat nantinya … Namun yang terjadi malah sebaliknya, shaf-shaf pertama justru diisi oleh para orang-orang tua yang telah lanjut usia, para sesepuh masyarakat yang sedang menghabiskan masa tuanya kembali kepada Allah swt. Lalu yang disebut para aktivis itu … ? ” Ya, mungkin hanya satu atau dua saja, tiga dengan saya ” kata sang ustadz dengan pilu
Tidak terasa menetes air mata ini …
Sang ustadz meneruskan …
Diberbagai acara-acara dauroh, mabit, atau acara-acara bersama lainnya, betapa beliau sering mendapatkan dirinya sering ketinggalan untuk bangun qiyamul lail, dikarenakan ikhwah-ikhwah lain begitu sigap dan cepat untuk berlomba-lomba bangun diawal waktu. Tetapi ketika mereka kembali ke kehidupan sehari-hari … sang ustadz tidak menemukan kegairahan itu. “Apakah sekarang ikhwah bermuka dua ? Begitu rajin ketika bersama-sama, namun kembali kepada jati dirinya yang asli ketika kembali kepada kehidupan sehari-hari” keluh sang ustadz
Berbaik sangka selalu memenuhi hati sang ustadz melihat fenomena ini ” Oh mungkin kalau zhuhur dan ashar mereka masih bekerja, kalau maghrib masih diperjalanan pulang, kalau Isya mungkin sudah lelah. Tetapi kalau shubuh ? apakah mereka sudah kembali berangkat bekerja …. ? ” kata ustadz menyindir
Sejurus kemudian, tiba-tiba sang ustadz berkata dengan penuh ketegasan “Capaian kita di berbagai wajihah masyarakat, prestasi kita di parlemen, kesuksesan kita di legislatif, eksekutif atau yudikatif, bukanlah ukuran kesuksesan yang hakiki ! Justru semakin dekatnya ikhwah kepada Allah swt,dalam perilakunya, dalam ibadahnya itulah kesuksesan yang sebenarnya ! Jangan kita tertipu ! “
Lalu mengalirlah dari beliau tentang dalil-dalil keutamaan, fahdilah, ganjaran yang Allah berikan kepada mereka-mereka yang senantiasa shalat berjama’ah dimasjid, khususnya shalat shubuh. Mulai dari terbebasnya dari sifat munafik, dibalas 27x lipat, diganjar seakan-akan melakukan tahajud sepanjang malam, satu langkah kaki kiri menghapus dosa dan satu langkah kaki kanan meninggikan derajat, belum lagi dari sisi keberkahan rizqi dan sisi kesehatan udara dipagi hari yang sangat kaya unsur O3.
” Bagi saya, cukuplah menjadi surga dunia, kalau anak saya diajak ke masjid, dan nggak nolak !” kata ustadz dengan logat betawinya yang khas
Saudaraku …
Marilah kita renungkan kembali taujih tersebut. Kita semua yang telah berjanji kepada Allah melalui da’wah ini sepatutnya sangat berhajat kepada ibadah yang satu ini. Salah satu ibadah yang diharapkan mampu menyuplai energi ruhiyah untuk menghadapi beratnya target-target dan berbagai qodhoya da’wah ini.
Bagaimana mungkin diri ini akan mempunyai semangat atau cita-cita serta optimisime untuk menggapai sebuah target program da’wah kalau keberkahan shubuh dilalaikan ? Bagaimana jadinya diri ini yang pasti akan selalu bertemu dengan laporan berupa qodhoya dan permasalahan dilapangan, kalau ketidakhadiran shubuh ini tidak menjadi kesedihan ?
Ramadhan ini telah menempa kita semua, khususnya di sepuluh hari terakhir ini, tubuh ini, jasad ini dan diri ini telah dilatih kembali untuk menggapai keberkahan shalat berjam’ah di masjid, khususnya shalat shubuh. Jangan sia-siakan kebaikan ini, jangan biarkan diri ini kembali kepada kemalasan dan kealpaan. Semoga di hari yang fitri nanti, sebuah diri yang baru akan kembali lahir untuk menyongsong seruan da’wah ini, aamiin.
Sydney, 28 Ramadhan 1428H
Abu Abdurrahman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s