Sang Jendral Dalam Ingatan

Mpers yth,

Berikut saya posting ulang sebuah refleksi tentang Suharto yang ditulis oleh seorang teman. Tulisan ini saya posting ulang atas izin penulisnya.

———

Masa kecil hingga remaja saya penuh dengan citranya.

Senyumnya selalu menghiasi satu-satunya televisi saat itu, TVRI. Entah sedang pidato, ketemu pemimpin negara asing, atau dengan sejumput padi yang baru disabit diiringi tepukan meriah ditengah sawah itu. Logat ’aneh’ khasnya terpatriken dalam otak. Sebagai gadis kecil yang butuh pahlawan untuk diisikan dalam diari, otomatis jari saya menulis namanya.

Sekali ia ke kota saya untuk pembukaan MTQ nasional. Pelajaran diliburkan, semua anak sekolah dikerahkan menyambut kedatangan tamu agung ini. Jarak sekolah ke jalan utama ada tiga kilometer. Kami jalan kaki berpanas-panas bersama ibu guru dan ratusan anak sekolah satu kota. Masing-masing pegang bendera merah putih, guna dilambaikan nanti.

Dua jam kami menunggu. Haus dan lapar tapi antusias. Akhirnya rombongan lewat jua. Dengan laju secepat kilat.

Kami balik lagi kesekolah berjalan kaki, menyusuri tiga kilo lagi.

***

Sekali lima tahun, Bapak yang menjabat lurah bertingkah aneh. Rumah jadi tempat rapat, sudah jadi pemandangan biasa. Tapi sekali lima tahun, ada masa-masa rapat ’orang-orang penting’ sekelurahan berlangsung dengan jendela tertutup rapat. Entah siang entah malam.

Pulang sekolah, saya disuruh mencoblos segepok kertas. Saya tanya, Bapak menjawab, ”Jangan tanya apa-apa, jangan cerita apa-apa kalau tidak mau Bapak masuk penjara.”

Waktu sudah cukup umur buat nyoblos, dari rumah Bapak wanti-wanti, ”Ingat, kamu makan beras…” sambil menyebut nama Partai paling berkuasa.

Saat nyoblos, membuka kertas suara, disudutnya ada nomor kecil ditulis pensil, seolah tak penting. Hak politik perdana saya diperawani dengan tragis.

Syukurlah Bapak sudah pensiun. Dan alhamdulilah baik-baik saja.

***

Pendidikan Moral Pancasila adalah mata pelajaran penting zaman Jendral berkuasa. Inilah salah satu mesin utama ”brainwashing nasional”. Tiba saat Ibu Guru menerangkan betapa demokratisnya pemilu berlangsung, saya mendebat. Kelas ribut. Bu Guru kesal.

Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa adalah mata pelajaran favorit saya. Pak Guru pintar bercerita. Setiap ia bertutur, visualisasinya bak terhampar di imajinasi siswa. Begitu subtle ia menunjukkan kebesaran Soekarno. Sesuatu yang merupakan ”no no” di rezim Orba yang telah berhasil membenam dalam-dalam figur Bung Karno, dan mengkultuskan figur rezim baru.

***

Zaman kuliah IKIP Padang, terpilih jadi mahasiswa teladan. Hadiahnya ikut upacara peringatan kemerdekaan di Istana. Dan ’jackpot-nya’ adalah audiensi dan salaman dengan Sang Jendral. Bapak saya yang saat itu masih Lurah bangga bukan kepalang. Barangkali lebih karena anaknya bisa salaman dengan Raja, eh, Presiden Indonesia. Sayang, saat yang sama saya harus berada di Australia, magang sebagai guru bahasa dan budaya Indonesia di Gippsland, Victoria.

Bapak rada ngambek.

***

Dua tahun kemudian, Soeharto dilengserkan. Sakit-sakitan, dirundung rentetan tuntutan hukum. 24 hari sakit parah hingga menutup mata Minggu 27 Januari 2008.

Selamat jalan Jendral. Terimakasih atas kenangan bagi masa kecil saya. Terimakasih atas jasa-jasa Anda bagi Indonesia, ASEAN, OPEC, Palestina, Liga Islam Dunia, Gerakan Non Blok, dan UN.

Kami bangsa yang pemaaf. Treatment saat sakit hingga pemakaman Anda telah kami laksanakan sebagaimana layaknya seorang mantan presiden diperlakukan. Tidak seperti Anda memperlakukan presiden dulu yang meninggal sengsara, kesepian dan terkucilkan.

Semoga apa yang hilang dari negeri ini bersebab apa yang Anda lakukan semasa berkuasa bisa kami peroleh kembali. Hingga Anda dapat lebih khusuk bertemu Pengadilan Sejati. Rest in eternal peace. (nenen)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s