Ketika Mencontek Menjadi Budaya Kita

Dear Mpers,

Saya sedih dan kecewa ketika saya memeriksa tugas-tugas perkuliahan mahasiswa yang saya ajar pada kelas Cross Cultural Understanding di sebuah perguruan tinggi Islam di daerah saya. Dari hampir 80 mahasiswa, hampir separuh diantara mereka menyerahkan tugas akhir perkuliahan dalam bentuk paper yang nyaris 100 persen hasil copy paste berbagai sumber yang mereka ambil dari internet. Jujur, saya kecewa, karena salah satu esensi mata kuliah yang saya ajarkan adalah memperkenalkan beberapa budaya yang bagus dalam dunia akademis di kampus luar negeri, dimana salah satunya adalah adanya penghormatan yang sangat tinggi terhadap nilai-nilai kejujuran selama proses pendidikan. Yang terjadi justru sebaliknya. Sepertinya nilai-nilai yang saya sampaikan tak tertatanam dengan baik pada diri mahasiswa itu.

Sepenggal pengalaman saya di atas boleh jadi hanya salah satu ‘puncak gunung es’ dari fenomena ketidakjujuran di pendidikan kita. Mencontek sepertinya sudah menjadi kebiasaan buruk atau bahkan telah menjadi budaya sebagaian besar insan pendidikan kita. Kebiasaan buruk diam-diam telah menggerogoti dunia pendidikan kita, mulai di tingkat sekolah dasar, sampai bangku perguruan tinggi. Barangkali susah mencari satu orang saja diantara kita yang sama sekali tidak pernah terlibat dalam aktifitas mencontek ini. Tentu dengan kadar dan frekuensi yang berbeda.

Apalagi dengan perkembangan teknologi seperti internet akhir-akhir ini. Mencontek makin lebih mudah dilakukan. Copy paste adalah cara paling mudah bagi mereka yang ingin melakukan ketidakjuuran ini. Ada banyak sumber yang bisa mereka jadikan sebagai bahan mencontek. Bahkan ada situs khusus di internet yang menawarkan contoh berbagai jenis tugas perkuliahan dan juga skripsi untuk didowload dan dijiplak menjadi karya sendiri. (Lihat di sini).

Karenanya. bagi kita yang sekarang berprofesi sebagai pendidik, sepertinya kita mesti ekstra hati-hati. Kita mesti ‘lebih cerdas’ dari para pencontek itu, agar kita tidak dikibuli. Google bisa menjadi sahabat yang baik untuk melacak originalitas sebuah tugas perkuliahan. Tapi untuk jangka panjang, semua pencinta pendidikan, mesti berfikir strategi jitu untuk memutus mata rantai kebiasaan tak terpuji ini. Cheating is a crime. Karenanya perlu dihentikan sedini mungkin.

Ada yang punya ide, bagaimana menghentikannya?

Salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s