Guru Indonesia (Juga) Berhak Kaya

Sahabat Mpers Yth,

Kembali, izinkan saya memposting ulang tulisan terakhir saya yang diterbitkan harian Republika, Kamis 7 Agustus 2008 kemaren.

Semoga bermanfaat !

Salam

Guru Indonesia (Juga) Berhak Kaya

Afrianto Daud
Guru MAN 3 Batusangkar, Alumni Fakultas Pendidikan Monash University, Australia

”Kalau Anda ingin jadi orang kaya, maka jangan pilih menjadi guru,” demikian ungkapan seorang pembicara pada seminar profesi guru yang saya ikuti belum lama ini. Ungkapan ini tentu muncul karena melihat kenyataan selama ini bahwa guru pada level apa pun mulai dari guru kecil sampai guru besar banyak yang hidup dalam keprihatinan.

Walaupun satu dua ada yang cukup beruntung, potret umum kehidupan ekonomi seorang guru tidak jauh dari gambaran keprihatinan itu. Memilih menjadi guru di negeri ini, berarti memilih untuk hidup prihatin dan berkekurangan (untuk tidak menyebut miskin).

Oleh karena itu, ketika pemerintah menawarkan satu ‘mimpi’ untuk memperbaiki nasib guru melalui program sertifikasi pendidik, hampir semua guru menyambutnya dengan antusias. Para guru itu tentu berharap bahwa janji peningkatan kesejahteraan guru melalui program sertifikasi ini sedikit banyak bisa meringankan beban hidup mereka selama ini. Lihatlah bagaimana kebanyakan mereka ‘jungkir balik’ mempersiapkan dokumen portofolio dan segala sesuatu terkait dengan sertifikasi ini.

Di lain waktu, ketika suatu saat saya memperkenalkan istri saya seorang dokter, seorang teman dalam bahasa Inggris kontan berkomentar, ” Oh .. you are lucky, Anto. You are only a teacher, and you get a doctor as your wife” (Oh, kamu beruntung, Anto. Kamu hanya seorang guru. Kamu dapat istri seorang dokter). Kemudian saya jawab, ”So, what. Apa seorang guru tak pantas berjodoh dengan seorang dokter?”

Keterkejutan kawan saya ini sangat mungkin disebabkan karena alam bawah sadarnya mengatakan bahwa secara strata sosial dokter dan guru tidaklah setara. Seorang guru yang selama ini identik dengan orang susah, tak pantas bersanding dengan seorang dokter yang identik dengan orang yang berkecukupan. Tegasnya, orang miskin tak pantas bersanding dengan orang kaya dalam sebuah ikatan pernikahan. Ah, ini tentu sebuah formula yang tidak saja kedengaran tidak adil, tapi tanpa sadar juga telah menganggap rendah profesi guru.

Guru tak boleh miskin
Walaupun ada yang mengatakan bahwa kaya atau miskin itu relatif. Atau ada yang berpendapat bahwa terdapat ’seribu’ definisi tentang orang kaya, saya ingin menegaskan bahwa seorang guru seharusnya bisa menjadi orang kaya. Tidak hanya kaya dalam makna spiritual, tapi juga kaya secara ekonomi. Sekali lagi, kaya secara ekonomi. Pada tataran minimal, seorang guru mestinya bisa memperoleh penghidupan yang layak dan mampu memenuhi kebutuhan dasarnya sehari-hari.

Sebaliknya, kenapa guru tidak boleh miskin? Karena kalau guru miskin ada banyak hal yang kemudian menjadi terganggu. Ada banyak potensi kebaikan yang tidak bisa mereka lakukan. Ada banyak rencana bagus, baik yang disusun oleh guru sendiri, maupun oleh pemerintah untuk memajukan pendidikan kita, akhirnya tinggal menjadi rencana di atas kertas yang tak pernah menjadi kenyataan.

Bagaimana mungkin seorang guru bisa fokus menjalankan tugas dan fungsi kependidikan mereka secara maksimal di sekolah, kalau pada saat yang sama pemikiran sang guru juga tersedot dengan bagaimana usaha pemenuhan kebutuhan dasar mereka. Sangat susah berharap pada guru untuk berkarya dan berprestasi kalau pada saat yang sama mereka harus dipusingkan dengan utang yang semakin membengkak, biaya hidup yang semakin naik, atau bagaimana anak-anak mereka bisa mendapatkan pendidikan yang berkualitas.

Pada jangka panjang, kalau mayoritas guru kita tetap tak bisa keluar dari lingkaran keprihatinan yang melilit mereka, maka harapan kita untuk memperbaiki kualitas bangsa ini melalui perbaikan kualitas dunia pendidikan kita akan sulit terwujud. Pendeknya, guru harus merasa cukup secara ekonomi, agar mereka bisa berkontribusi secara maksimal untuk memperkaya negeri ini dengan cara mereka sebagai guru.

Karenanya dari sekarang semua kita mesti memberi jalan kepada para guru ini untuk memperbaiki kesejahteraan mereka. Sudah saatnya kita menghilangkan cara berpikir bahwa para guru itu memang ditakdirkan untuk hidup susah di negeri ini. Bahwa guru tak hak kaya. Kepada para guru, tidak waktunya lagi kita mau dininabobokkan dengan lagu pahlawan tanpa tanda jasa yang cenderung ’menyesatkan’ itu.

Guru dan kecerdasan finansial
Pertanyaan yang paling mendasar adalah bagaimana agar guru bisa menjadi kaya. Berharap dari gaji bulanan plus tunjangan yang diberikan pemerintah sepertinya masih susah. Bahkan, walaupun nanti ada penambahan gaji ketika seorang guru telah lulus sertifikasi, tetap saja nominal gaji itu masih jauh dari standar hidup yang layak.

Dalam konteks ini, sepertinya seorang guru hari ini dituntut untuk tidak hanya memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi ilmu yang diajarkan, kompetensi kepribadian, dan atau kompetensi sosial, tapi juga harus memiliki apa yang disebut oleh Robert T Kiyosaki dengan financial intelligence(kecerdasan finansial). Selain menjalankan fungsinya sebagai pendidik yang baik, guru mestinya juga sudah harus berpikir bagaimana memperbanyak aset kehidupan mereka.

Dengan kata lain, guru mestinya juga harus terus-menerus berpikir bagaimana secara kreatif bisa memperbanyak alternatif income (pemasukan) untuk menambah kolom aset mereka. Pada tataran praktis, seorang guru secara sadar dan terencana seharusnya bisa menjual profesi pendidik mereka.

Kalau seorang dokter, pengacara, atau akuntan bisa hidup layak dengan menjual profesi mereka, tentu seorang guru juga berhak melakukan hal yang sama. Maka, setelah kewajiban mereka mengajar di sekolah terpenuhi, para guru itu bisa membuka ’tempat praktik’ berupa layanan bimbingan belajar di sore atau malam hari. Mereka bisa membuka lembaga pendidikan sendiri, seperti kursus dan lembaga pelatihan sesuai dengan bidang dan keahlian mereka.

Di samping itu, selain mencoba berinvestasi dalam berbagai macam bisnis yang tidak akan mengganggu profesi keguruan, guru selayaknya juga terus meningkatkan profesionalisme dengan membaca dan menulis. Menulis buku, misalnya, juga salah satu cara guru menambah penghasilannya. Royalti penulisan buku atau sebuah temuan baru dalam dunia pendidikan bisa mendatangkan pemasukan yang sangat menjanjikan bagi seorang guru.

Menjadi kaya secara ekonomi memang bukan segalanya bagi seorang guru, tetapi hidup yang layak bisa menjadi awal yang baik bagi seorang guru untuk berkarya dan berprestasi di sekolah. Karenanya, dari sekarang mari kita berikan jalan kepada para guru itu untuk memperbaiki kehidupan ekonomi mereka. Berikan mereka keyakinan bahwa menjadi guru bukanlah berarti memilih untuk hidup prihatin. Pada saat yang sama, setiap guru seharusnya punya keyakinan bahwa sesungguhnya Anda pantas dan (juga) berhak menjadi kaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s