Antara PKS, Suharto, dan Iklan Politik Itu

Oleh: Afrianto Daud

Iklan politik Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di beberapa stasiun TV belum lama ini menuai kontroversi panas. Poin paling kontroversial dalam iklan yang bertema belajar kepada para guru bangsa dan pahlawan nasional itu adalah ketika PKS dengan ‘sangat berani’ menempatkan tokoh sentral Orde Baru, Suharto, sebagai salah seorang guru bangsa dan (juga) pahlawan sejajar dengan tokoh-tokoh besar lainnya, seperti KH. Hasyim As’ari, Sukarno, Bung Hatta, dan KH. Ahmad Dahlan.


Walaupun akhirnya iklan itu ditarik PKS dari peredaran, ada banyak pihak, terutama di kalangan elit aktifis pro demokrasi yang terlanjur mempertanyakan dan bahkan protes dengan keputusan PKS menempatkan Suharto dalam deretan pahlawan itu. M. Fajrul Rahman, salah seorang aktifis pro demokrasi, kemaren bahkan menolak menerima PKS award sebagai salah seorang pemimpin muda nasional yang diberikan PKS kepadanya, sebagai bentuk protes terhadap iklan PKS.


Resistensi sebagian kalangan ini sangat logis dan bisa dipahami mengingat Suharto adalah tokoh yang sampai akhir hayatnya masih penuh dengan kontroversi. Iklan politik itu bagai sebuah anti klimaks dalam proses perjuangan reformasi. Betapa tidak, semua orang tahu bahwa sesungguhnya para aktifis PKS lah dulu yang berada di garda depan dalam gerakan reformasi menjatuhkan rezim otoriter Suharto pada tahun 1998. Tidak hanya menjatuhkan rejim, salah satu tema besar perjuangan reformasi setelah itu adalah mengadili Suharto dan kroni-kroninya, karena diyakini Suhartolah yang paling bertanggung jawab terhadap keterpurukan Indonesia di berbagai bidang. Dan adalah fakta sejarah bahwa diantara yang paling vokal dengan tuntuan pengadilan Suharto dan kroninya adalah para mahasiswa yang sebagian besar kemudian punya afiliasi politik dengan PKS.


Rekonsiliasi atau Pragmatisme Politik?

Dalam sebuah acara dialog di TVRI beberapa hari yang lalu, Sekjen PKS Anis Matta menjelaskan bahwa diantara pesan yang ingin disampaikan dalam iklan itu adalah ajakan PKS kepada semua elemen bangsa untuk melakukan rekonsiliasi agar bisa duduk bersama mencarikan solusi berbagai permasalahan bangsa besar ini. Menurut Anis, salah satu penyebab kenapa kita lambat keluar dari krisis walaupun kita sudah sepuluh tahun berada di era reformasi adalah karena kita cendrung memandang Era Reformasi sebagai anititesa Orde Baru. Sehingga kita cendrung memulai segala sesuatunya di era reformasi dari nol dan melupakan hal-hal yang sebenarnya baik dan pantas untuk diteruskan dari masa lalu.

Anis menambahkan bahwa iklan itu ingin mengajak semua elemen bangsa agar jujur dalam menatap sejarah bangsa ini. Agar kita bisa mengajarkan sejarah kepada generasi penerus kita apa adanya. Menurut Anis, seorang pahlawan adalah juga manusia biasa, yang pasti juga memiliki kelemahan dan kekurangan disamping kelebihan. Suharto tentu juga termasuk dalam barisan ini.


Intinya PKS ingin mengajak kita untuk menilai Suharto apa adanya. Bahwa apabila Suharto memiliki kesalahan, biarlah itu kemudian menjadi urusannya dengan Allah SWT. Kita tidak perlu meneruskan apalagi mewariskan dendam sejarah kepada generasi penerus kita. Anis bahkan menyebut ketua majelis syoro PKS, Ust. Hilmi Aminuddin, pernah dipenjara selama 2 tahun oleh rejim Orde Baru, tapi itu tidak boleh menjadi alasan bagi PKS untuk menum
buhkan dendam politik kepada Suharto.


Tugas kita sekarang adalah bagaimana dengan jujur mengakui dan dengan rendah hati mau belajar pada kesalahan dan meneruskan sisi-sisi positif selama kepemimpinan Suharto. Fakta sejarah bahwa Suharto berhasil mensejahterakan rakyat dengan politik pembangunannya adalah pantas untuk diteladani dan diteruskan. Dalam konteks inilah, menurut Anis, Suharto pantas dijadikan sebagai salah satu guru bangsa.


Saya bisa memahami substansi rasionalisasi yang dilakukan Anis Matta terhadap iklan politik itu. Namun, perlu dicatat bahwa iklan politik itu di satu sisi sangat mudah dituding sebagai bentuk pragmatisme politik PKS dalam memenangkan pemilu 2009. Arbi Sanit, pengamat politik UI, bahkan menyebut bahwa PKS cendrung telah mengekspolitasi ketokohan Suharto untuk kepentingan politik PKS.


Pragmatisme ini tentu sangat mungkin disebabkan realitas politik terkait Suharto. Bahwa betapapun kontroversialnya seorang Suharto, ketokohan Suharto adalah masih tetap layak dijual dalam memperebutkan suara pemilih pada pemilu 2009. Bahkan, ada survei yang menyebutkan bahwa lebih dari 65 persen rakyat Indonesia mengaku rindu dengan keamanan dan kesejahteraan yang pernah mereka rasakan ketika Suharto berkuasa.

Aura Sindroms Akut Rindu Suharto (SARS) juga sangat jelas pada hari-hari ketika Suharto meninggal awal tahun ini. Ada ratusan ribu rakyat yang bertahan di pinggir jalan dengan wajah penuh duka dan bahkan menangis ketika melepas kepergian sosok yang digelari Bapak Pembangunan ini ke peristirahatan terakhirnya. Bagi kebanyakan rakyat kecil, era reformasi belumlah dirasakan membawa mereka kepada kehidupan yang lebih sejahtera. Dan sangat wajar, kalau sebagian mereka merindukan suasana tentram dan damai ketika Orde Baru dulu. Dan kelompok inilah yang, kabarnyanya, ingin dibidik PKS dari iklan politik itu.


Berkah atau Musibah?

PKS tentu telah berhitung sejak awal bahwa iklan ini pasti akan menuai kontroversi. Walaupun sekarang PKS dikritik bahkan diserang oleh mereka yang tidak setuju dengan materi iklan politik itu, sesungguhnya PKS juga sedang menuai dampak positif dari kontroversi ini. Hangatnya kontroversi ini, minimal, telah menjadi iklan gratis bagi PKS, karena semakin banyak orang dari berbagai elemen memperbincangkan PKS. Bahkan pengamat politik dari Universitas Paramadina Bima Arya Sugiarto mengatakan iklan politik PKS itu bukanlah sebuah blunder, tapi sebuah metode iklan yang cerdas, karena dengan cepat mendapat perhatian banyak orang (Okezone, 21/11/2008).

Masih dibutuhkan kajian apakah iklan ini akan menjadi berkah atau musibah bagi PKS. Apakah iklan ini akan berpengaruh signifikan kepada PKS dalam rangka pemenangan pemilu 2009. Yang jelas, iklan itu telah menjadi perbincangan orang dalam skala yang lebih luas. Iklan itu, walaupun membuat sebagian kalangan merasa tidak nyaman, pada saat yang sama juga telah membuka mata sebagian yang lain, baik terhadap sosok pahlawan dan guru bangsa sebagai materi iklan PKS, maupun terhadap PKS sendiri sebagai pemilik iklan.


Dalam konteks usaha menjadikan iklan itu menjadi berkah bai PKS, tugas PKS sekarang adalah bagaimana secara terus menerus memberikan penjelasan secara jujur kepada masyarakat tentang alasan di balik pembuatan iklan politik itu. Tidak hanya kepada para aktifis pro demokrasi yang protes dengan substansi iklan itu, juga yang tak kalah penting adalah kepada para kader PKS yang (sangat mungkin) sebagian mereka juga bertanya tentang ’asbabun nuzul’ terbitnya iklan kontroversi ini.


Lebih jauh, tugas besar PKS adalah bagaimana secara konsisten menulis sejarah Indonesia dengan jujur bahwa fatsoen politik PKS adalah benar-benar mengedepankan kepentingan bangsa yang lebih besar ketimbang kepentingan sempit, seperti kepentingan jangka pendek meraih kekuasaan politik. PKS harus bisa membuktikan kepada sejarah bahwa ’mengiklankan’ Suharto sebagai pahlawan adalah benar dengan niat tulus untuk melakukan rekonsiliasi nasional untuk masa depan Indonesia yang lebih baik, dan bukan sekedar untuk kepentingan politik jangka pendek, pemenangan pemilu 2009, seperti yang dituduhkan sebagian pihak. Tentu hanya sejarah kemudian yang bisa membuktikannya. Wallahu a’lam bissawab.


* Afrianto Daud adalah aktifis mahasiswa Angkatan 1998

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s