Andai Ini Ramadhan Terakhir Kita

Ramadhan 1430 H sudah semakin dekat. Kalau berumur panjang, insyaAllah dalam hitungan hari, kita akan kembali bertemu dengan ‘sang tamu agung’ itu. Kembali berjumpa dengan penghulu seribu bulan. Untuk kemudian kembali berharap bisa mendapatkan keberkahan, rahmat dan maghfirah sebagaimana yang dijanjikan Rasulullah SAW bagi mereka yang berpuasa di bulan ini. Ramadhan memberi kita kesempatan untuk bisa menikmati berbagai ibadah istemewa. Berbagai ritual yang diharapakan bisa mengantarkan kita ke gerbang ketaqwaan pasca Ramadhan itu berakhir (Q.S, 2:183).

Sebagai seorang muslim, sepantasnya kita gembira menyambut tamu suci yang hanya datang sekali setahun ini. Saking istemewa dan agungnya bulan Ramadahan ini, sampai Rasulullah SAW menjanjikan sorga kepada mereka yang gembira dalam menyambutnya. “Man farriha bidukhulil Ramadhan, harramalllahu jasadihi ‘alann niiran”. (Barangsiapa yang gembira dengan kadatangan bulan Ramadhan, maka akan kami haramkan jasadnya dari api neraka).

Kegembiraaan menyambut Ramadhan yang dimaksud Rasulullah SAW dalam hadits di atas tentu bukanlah kegembiraan karena alasan dan motivasi duniawi. Tapi kegembiraan yang akan dibalasi dengan surga itu adalah kegembiraan yang didasarkan pada motivasi nilai-nilai transendental. Sebuah motivasi yang lahir karena keyakinan dan pemahaman bahwa Ramadhan adalah bulan yang akan kembali memberi kesempatan berharga kepada yang bersangkutan untuk memperbaiki diri dan bertaqarrub kepada Allah SWT. Pendeknya kegembiraan yang dimaksud Rasulullah SAW adalah kegembiraan yang didasarkan atas kepahaman dan keimanan kepada Allah SWT.

Salah satu pemahaman penting yang menjadi dasar kegembiraan seorang muslim dalam menyambut kedatangan bulan Ramadhan adalah karena Ramadahan adalah bulan yang memberikan privileged tertentu kepada seorang mu’min yang berpuasa. Diantara keistemewaan itu bisa terlihat dalam penggalan khutbah Rasulullah SAW dalam menyambut Ramadhan sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ali RA berikut,

“Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian bulan Allah yang membawa berkah, rahmat, dan maghfirah, bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama, malam-malam di bulan Ramadhan adalah malam-malam yang paling utama, jam demi jamnya adalah jam yang paling utama.

“Inilah bulan yang ketika engkau diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Pada bulan ini napasmu menjadi tasbih, tidurmu menjadi ibadah, amal-amalmu diterima, dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah, Rab-mu dengan hati yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan saum dan membaca kitab-Nya. Sungguh celakalah orang yang tidak mendapatkan ampunan Allah pada bulan yang agung ini.

Keutamaan Ramadhan juga tergambar dalam hadits Rasulullah SAW berikut:

Setiap amal yang dilakukan anak Adam adalah untuknya, dan satu kebaikan dibalasi sepuluh kali lipatnya, bahkan sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Taala berfirmam, “Kecuali puasa. Itu untukku. Dan aku yang akan membalasinya. Ia telah meninggalkan syhwat, makan, dan minumnya karenaku”. Orang yang berpuasa mendapatkan dua kesenangan, yaitu kesenangan ketika berbuka, dan kesenangan saat berjumpa dengan Tuhannya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Pendeknya, sangat pantas kita bergembira dengan kedatangan Ramadhan ini, karena inilah bulan dimana kita diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk kembali membersihkan debu dosa yang mungkin saja telah mengotori hati dan jiwa kita selama satu tahun terakhir. Inilah bulan yang dharapkan bisa membentuk diri kita untuk menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT dalam makna sesunggunya. Bulan yang bisa membuat hati dan jiwa kita terdidik. Sehingga hati dan
jiwa itu bisa secara maksimal digunakan untuk melakukan kebaikan ketika Ramadhan berakhir.

Sebelum Ramadhan Menjelang

Layakya sebuah tamu agung, Ramadhan ini layak dan pantas disambut dengan penyambutan meriah dan istimewa. Rasulullah SAW mensyariatkan beberapa amalan kepada kita untuk menyambut bulan ampunan ini. Amalan penyambutan itu mencakup persiapan kita dalam berbagai aspek; ruhiah (kejiwaan/spiritual), fikriah (pemikiran), jasadiyah (fisik), dan maaliah (harta).

Persiapan ruhiyah dapat dilakukan dengan memperbanyak ibadah, seperti memperbanyak membaca Al-Qur’an, saum sunnah, dzikir, do’a, dan ibadah lainnya. Dalam hal mempersiapkan ruhiyah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan kepada umatnya dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, sebagaimana yang diriwayatkan ‘Aisyah ra. berkata:” Saya tidak melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasanya, kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak melihat dalam satu bulan yang lebih banyak puasanya kecuali pada bulan Sya’ban” (HR Muslim). Ibarat sebuah mesin, memperbanyak ibadah di bulan Sya’ban berpungsi sebagai pemanasan bagi ruhani dan fisik untuk memasuki bulan Ramadhan

Persiapan fikriyah atau akal dilakukan dengan mendalami ilmu, khususnya ilmu yang terkait

dengan ibadah Ramadhan. Banyak orang yang berpuasa tidak menghasilkan apa –apa kecuali lapar dan dahaga. Hal ini sangat mungkin disebabkan karena puasanya tidak dilandasi dengan ilmu yang cukup. Seorang yang beramal tanpa ilmu, maka tidak menghasilkan kecuali kesia-siaan belaka.

Persiapan fisik juga penting, karena seorang muslim tidak akan mampu atau berbuat maksimal dalam berpuasa jika fisiknya sakit. Maka dalam konteks ini, kita dituntut untuk menjaga kesehatan fisik, kebersihan rumah, masjid dan lingkungan. Rasulullah mencontohkan kepada umat agar selama berpuasa tetap memperhatikan kesehatan. Hal ini terlihat dari beberapa kebiasaan Rasulullah SAW berikut; menyikat gigi dengan siwak (HR. Bukhori dan Abu Daud), berobat seperti dengan berbekam (Al-Hijamah) seperti yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim, memperhatikan penampilan, seperti pernah diwasiatkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat Abdullah ibnu Mas’ud ra, agar memulai puasa dengan penampilan baik dan tidak dengan wajah yang cemberut. (HR. Al-Haitsami).

Yang tak kalah pentingnya adalah persiapan maaliah (materi). Dalam konteks ini, perlu bagi kita untuk mempersiapkan harta yang halal dan cukup untuk bekal ibadah Ramadhan. Idealnya seorang muslim telah menabung selama 11 bulan sebagai bekal ibadah selama Ramadhan. Sehingga ketika datang Ramadhan, dia dapat beribadah secara khusu’ dan tidak berlebihan atau ngoyo dalam mencari harta atau kegiatan lain yang mengganggu kekhusu’an ibadah Ramadhan.

Andai Ini Ramadhan Terakhir

Kita tentu tidak ingin menjadi kelompok yang digolongkan Rasulullah SAW dengan orang yang sangat merugi, yaitu mereka yang ketika Ramadhan berlalu, ternyata kondisi keimanananya tak ada perbaikan sama sekali. Atau kelompok yang disentil Rasulullah SAW sebagai orang yang hanya mendapatkan rasa haus dan lapar dari puasanya. Semua ini sangat mungkin disebabkan karena kurangnya persiapan dan bekal menjelang Ramadhan.

Karena itulah kita perlu berazzam dari sekarang. Penting bagi kita untuk punya niat yang kuat agar kita bisa memperoleh derajad ketaqwaan ketika nanti Ramadhan ini berakhir. Salah satu caranya adalah dengan menganggap bahwa seolah-olah ini adalah Ramadhan terakhir kita. Bayangkan, andai ini Ramadhan terakhir, tentu tak kan pernah kita sia-siakan kesempatan terakhir ini. Anda ini Ramadhan terakhir kita, tentu semua jiwa dan raga kita akan kita gunakan untuk menggapai kemenanngan selama Ramadhan ini. Tentu siangnya kita akan sibuk berzikir, dan malamnya tenggelam dalam sujud panjang ibadah malam. Kita tentu akan menjaga waktu shalat kita, dan akan menunaikan sholat itu dengan penuh khusyu’ dan tawaddhu’.

Duhai Ilahi …. Andai ini Ramadhan terakhir buat kami, jadikanlah ia Ramadhan paling berarti, paling berseri, menerangi kegelapan hati-hati kami, menyuluhi diri ke jalan menuju redha serta kasih sayang Mu. Amiin. Marhaban Ya Ramadhan. (Abu Raudha)

* Selamat menjalankan ibadah puasa untuk semua sahabt MPers. Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s