Selamat Dari Drama Kematian …

Ketika terjadi gempa berkekuatan 6.9 SR yang menghantam Sumatera Barat pada hari Minggu, 16 Agustu 2009 yang lalu, saya dan keluarga pada waktu itu sedang berada di dalam pusat perbelanjaan Matahari di kota Padang. Walaupun pengalaman merasakan goyangan gempa sudah beberapa kali saya rasakan, termasuk gempa besar dengan kekuatan 7.9 SR yang terjadi pada medio Maret 2006 yang membawa banyak korban jiwa dan harta di Sumatera Barat, namun kemaren itu adalah kali pertama saya merasakan gempa ketika saya sedang berada di dalam satu ruang besar yang penuh sesak oleh manusia.

Saat lantai Matahari bergoyang dengan durasi hampir satu menit, karuan saja pengunjung Matahari yang mungkin ribuan, sangat rame memang karena hari itu adalah Minggu terakhir menjelang Ramadhan, berlarian, panik, menjerit, cemas, dan juga ada yang menangis. Tidak terkecuali saya dan keluarga awalnya juga ikut panik, tetapi kami nyaris tidak bisa berlari kemana-mana, karena banyaknya orang yang berhamburan menuju pintu keluar dan relatif jauhnya pintu itu dari lokasi dimana kami berdiri pada waktu itu.

Saya kemudian memeluk dua anak saya, dan satu lagi dipeluk istri, kemudian kami putuskan tetap bertahan di dekat tiang besar lantai 2 Matahari itu, pasrah, dan berzikir, tak henti melapalkan “La Haula Wa La Kuata Illa Billahi”. Setelah keadaan agak mulai tenang, baru kemudian kami segera bergerak menuju elevator yang sudah mati, dan turun, kemudian keluar dari Matahari dengan bersyukur karena telah selamat dari ‘drama kematian’ itu.

Sambil turun tangga, saya lihat wajah hampir semua orang di sekitar situ masih diliputi rasa cemas, sebagian ada yang masih menangis, diantaranya seorang ibu yang sepertinya kehilangan anaknya saat dia berhamburan ke luar gedung, dan sebagian lagi masih komat kamit berzikir, melapalkan nama Allah, termasuk para gadis penjaga outlet kosmetika yang sebelumnya berdandan cantik dan cendrung ‘berlebihan’, tapi setelah gempa itu wajah cantik mereka mendadak berganti wajah cemas, dan ketakutan.

Alhamdulillah gempa itu (kembali) telah memberikan ‘tausiah kecil’ kepada saya menjelang Ramadhan ini. Sebuah ‘teguran sayang’ dengan makna yang dalam. Bahwa kita sesungguhnya memang makhluk lemah. Bahwa kita sesungguhnya tidak memiliki kekuatan apa-apa. Bahwa kematian itu sungguh sangat dekat, dan selalu mengintai kita dimana saja dan kapan saja.

Saat tidak ada lagi kekuatan yang bisa menolong kita, saat kita tidak bisa berharap kepada Bapak/Ibu/Saudara/teman kita, saat pangkat, kedudukan, nama besar kita di dunia tidak bisa bermakna apa-apa, saat kita terjebak di lorong-lorong gelap kehidupan, saat badai melanda kapal kita di tengah lautan lepas, saat tidak ada tempat untuk menyelamatkan diri, saat harapan itu nyaris hilang. Kita memang sangat lemah, ternyata … HANYA ALLAH tempat kita kembali …. karenanya MARILAH TETAP MENGINGAT ALLAH DIMANAPUN KITA BERADA …

Selamat berbuka puasa bagi sahabat yang sedang menjalankan ibadah shiam Ramashan ….!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s