Jebakan Keberhasilan

Salam sahabat Mpers semua,

Adalah sunnatullah bahwa setiap apapun yang telah mencapai puncak akan mengalami penurunan dengan sendirinya. Ibarat sebatang pohon aur (kalian tahu kan pohon aur yang biasa tumbuh di tepi kali menguatkan pinggiran kali agar tidak tergerus air) yang ketika batang itu kecil dia tumbuh terus, tinggi dan tinggi, namun ketika telah sampai pada titik tertentu, pucuk pohon aur itu kemudian secara alamiah akan mengalami penurunan, turun, dan terus turun siiring perjalananan waktu.

Filosopi hidup ini kurang lebih sama dengan siklus kehidupan sebatang pohon aur tersebut. Suka atau tidak, adakalanya nanti kita akan mengalami masa dimana kita tidak bisa lagi memaksakan diri untuk terus naik dan bertumbuh, karena alam telah membatasi kemampuan kita untuk terus mendaki puncak yang kita inginkan.

Sahabat yang baik,

Ketika kita dalam usia muda, semua kita pasti memiliki impian. Kita memiliki segudang cita-cita yang ingin kita raih. Sadar atau tidak, sesungguhnya impian-impian itulah yang membuat kita bertahan hidup. Cita-cita kita itulah sesungguhnya yang menjadi sumber energi terbesar kita saat menjalani kehidupan yang kadang tak mudah ini. Impian atau cita-cita tersebut berfungsi bagaikan bensin pada sebuah mobil. Bensinlah yang bisa membuat sebuah mobil bisa bergerak. Dengan demikian, harapan, cita, dan impian kitalah yang terus membuat kita bergerak, bekerja, berkarya, dan mengeluarkan kemampuan terbaik yang kita punya, sampai kita bisa meraih apa yang kita impikan tersebut.

Bayangkan andai kita hari ini tidak memiliki harapan dalam kehidupan ini. Maka tentu, kehidupan ini akan kita jalani dengan tanpa makna, kosong, dan membosankan. Kita akan menjadi para zombie, mayat hidup yang fisiknya bergerak, namun jiwanya telah lama mati, seiring dengan kegagalannya menanam harapan dan cita-cita dalam kehidupannya.

Sahabat,

Saat kita telah mencapai puncak keinginan kita, maka saat itulah kita bisa menyebut diri kita sebagai seorang yang berhasil. Ketika seseorang yang sejak kecil sangat mengimpikan menjadi seorang dokter, maka tentu momen saat berbahagia yang dia rasakan adalah saat dia dikukuhkan sebagai seorang dokter. Seorang yang sejak lama bermimpi menjadi seorang anggota parlemen, maka tentu momen yang akan sangat membuatnya bahagia adalah saat dirinya dilantik menjadi anggota parlemen.

Namun perlu diingat bahwa sesungguhnya ada ‘jebakan’ di balik kesuksesan itu. Bahwa ada potensi masalah di balik kesuksesan yang kita raih. Salah satu potensi masalah itu adalah karena setiap keberhasilan bisa membawa rasa nyaman atau apa yang sering disebut dengan comfort zone. Zona nyaman ini diam-diam bisa menggerogoti semangat seseorang untuk berbuat sesuatu yang lebih dari apa yang telah dia peroleh. Dengan kata lain, ketika seseorang telah terjebak berada di zona nyaman, maka dia cendrung untuk terus ‘terlelap’ dalam kenyamanan itu dan tidak berani keluar dan mencoba sesuatu yang baru di luar zona itu.

Jebakan seperti ini bisa berawal karena yang bersangkutan salah atau kurang bijak memilih apa ukuran keberhasilannya yang lebih substantif dalam kehidupan ini. Pemilihan ukuran keberhasilan substantif ini penting, karena jika seseorang telah mencapai puncak dari semua keinginannnya, maka setelah itu dia cendrung mengalami siklus penurunan dalam kehidupannya. Seseorang yang bercita-bercita menjadi dokter mungkin akan sangat rajin belajar siang dan malam untuk memperoleh gelar dokter tersebut. Dan ketika gelar dokter sudah diraih, sangat mungkin frekuensi dan ketekunannya belajar akan berkurang dan tidak seperti saat sebelum menjadi dokter.

Kawan,

Agar kita tidak terjebak dengan ‘puncak’ keberhasilan ini, saya pikiri kita perlu menulis ulang daftar cita-cita yang kita anggap paling tinggi. Kalau selama ini anda menempatkan ‘menjadi pengacara’ dan atau yang sejenisnya adalah cita-cita tertinggi anda, maka saya khawatir bahwa energi anda untuk bekerja, belajar, dan berkarya secara maksimal tidak sedahsyat apa yang dulu anda lakukan sebelum menjadi pengacara atau menjadi dokter dan sejenisnya.

Rasanya tepat jika kita memakai motto berikut untuk menata cita-cita tertinggi kita:

Allah adalah tujuan kami. Al-quran undang-undang kami. Muhammad adalah teladan kami. Jihad adalah jalan kami. Dan mati di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi.

Semoga!

Amiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s