Dan Sayapun Menjadi Penerjemah

Salam,

Alhamdulillah minggu ini saya memperoleh kiriman dua buku dari Penerbit Salemba Jakarta. Itu adalah dua buku pertama karya saya di dunia terjemahan. Dua buku dengan tebal hampir 450 halaman masing-masing itu adalah Public Relations; Profesi dan Praktek & Teori Komunikasi Massa. Buku kedua saya selesaikan bersama satu penerjemah lain. Kedua buku itu adalah buku yang biasa dipakai oleh mahasiswa jurusan komunikasi di perguruan tinggi. Dengan demikian, walau masih sangat pemula, bolehlah kalau hari ini saya menambahkan satu daftar pekerjaan baru dalam CV saya, a freelance translator. ^__^

Sebenarnya saya tak pernah bercita-cita menjadi penerjemah. Namun saya ditakdirkan bertemu dengan teman-teman yang hebat dan telah sangat akrab di dunia terjemahan (dan penerbitan) melalui multiply ini. Untuk menyebut nama, Uni Eva Nukman, Dewi A Rarasati, dan Uni Anick , adalah diantara sahabat mpers yang membuat saya berkenalan dengan dunia terjemahan (lebih dalam). Terimakasih atas ilmu dan bantuannya.

Menjadi penerjemah, barangkali bukanlah pekerjaan yang banyak digandrungi orang. Pekerjaan ini tentu tidaklah sepopuler profesi lainnya. Namun ada tantangan tersendiri ketika anda memasuki dunia terjemahan. Tantangan utama adalah tentu terkait dengan bagaimana anda bisa menjaga content naskah hasil terjemahan kurang lebih sama dengan maksud yang ada pada naskah asli. Disamping itu ada tantangan keep up with the deadlines (ini nih yang paling berat, karena kadang editor gak mau tahu dengan alasan apapun yang kita berikan jika kita terlambat dengan deadline terjemahan yang telah disepakati).

Namun, menerjemahkan ternyata menarik juga. Yang pasti, ilmu kita menjadi bertambah melaui proses penerjemahan yang kita lakukan. Kita bisa lebih dulu tahu tentang satu ilmu dari sumber aslinya, sementara banyak orang lain baru mengenalnya kemudian. Apalagi jika kita menerjemahkan buku dari berbagai bidang ilmu, maka dengan sendirinya tentu wawasan kita akan semakin luas.

Bagaimana dengan honorarium? Hemmm.. ini tentu sangat berbanding lurus dengan jam terbang dan kualitas terjemahan kita. Yang pasti, cukup banyak orang yang bisa hidup dari pekerjaan sebagai penerjemah profssional. Kalau gak percaya, tanya tuh sama Uni Eva atau Uni Anick!

Yang tak kalah penting, tentu, jika kita menerjemahkan buku atau naskah yang (pastinya) mengandung ilmu pengetahuan, maka berarti secara tak langsung kita juga telah ikut menyebarkan ilmu pengetahuan ke lebih banyak orang. Dengan demikian, menjadi penerjamah adalah (juga) pekerjaan mulia. Seperti doa seorang editor ketika menyemangati saya untuk bisa menyelesaikan terjemahan tepat waktu, “Semoga setiap kata yang bapak terjemahkan menjadi benih pahala yang akan bapak panen hasilnya di akherat kelak!”

Pendeknya, seperti kata Uni Eva, dengan menejemah kita bisa memperoleh semuanya, “Ilmu, Fulus, dan Amal” ^__^

Ayo siapa yang tertarik?

Salam literasi,

5 thoughts on “Dan Sayapun Menjadi Penerjemah

  1. wow, aku juga pengen jadi penerjemah di salemba, tp sayangnya skor toefl ku ga nyampe 500..😦
    kira-kira bisa ga ya?
    aku pernah nerjemahin satu buku di penerbit lain, tp belum terbit sih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s