~”Karena Aku Mencintaimu …”~ Habibie

Salam sahabat mpers,

Pasca meninggalnya ibu Ainun Habibie beberapa waktu yang lalu, ada satu persepsi baru yang melekat dibenak saya tentang sosok BJ. Habibie. Hari ini dalam pandangan saya Habibie tidak hanya sebagai seorang figur yang identik dengan pesawat terbang, cerdas, mantan presiden, dan seorang yang relatif lurus dalam berpolitik, namun lebih dari itu Habibie adalah seorang suami romantis yang begitu setia dan sungguh-sungguh dalam mencintai sosok istrinya.

Bagi kita yang mengikuti berita meninggalnya Ibu Ainun sejak awal, maka kita bisa menyaksikan bagaimana sosok Habibie sangat terpukul dengan kepergian istrinya ini. Habibie nyaris tak pernah lepas dari samping Ibu Ainun, semenjak Ibu Ainun koma di satu rumah sakit di German, sampai jenazah almarhumah diterbangkan ke Jakarta. Sebagain foto-fotonya bisa anda lihat di sini.

Pemandangan yang lebih dramatis terlihat jelas ketika kita menyaksikan bagaimana sosok Habibie begitu berduka ditinggalkan orang yang telah mendampingi hidupnya selama 48 tahun itu. Habibie dalam dekapan anak-anaknya bercucuran air mata saat mengantar Ibu Ainun ke peristirahatan terakhirnya. Air mata Habibie tentu adalah airmata yang merefleksikan betapa dia merasa kehilangan seorang ibu Ainun.

Beberapa hari setelah itu, dalam wawancara dengan Najwa Sihab di acara Mata Najwa Metro TV, kita kembali melihat bagaimana Habibie menyampaikan kesaksian dan kesedihannya kehilangan sosok Ainun. Sebagaimana Najwa, saya juga ikut berkaca-kaca mendengarkan penuturan Habibie tentang betapa dia mencintai istrinya. Dia bahkan sampai mengatakan bahwa “Separuh Jiwaku (telah) Pergi”. (Bagi anda yang tidak sempat menonton acara itu, anda bisa menontonnya di sini)

Dan kemaren, pada peringatan 100 hari meninggalnya Ibu Ainun, Habibie kembali mengekpresikan rasa cintanya dengan menulis surat berikut:

Ainun 100 Hari Wafat

2408 jam yang lalu Ainun diiringi Do’a telah pindah dengan tenang dan damai dari “Dimensi Alam Dunia” ke “Dimensi Alam Barzah”.

Hanya jika kututup kedua mataku, wajah, mata dan senyuman yang selalu memukau dan kurindukan kulihat.

Jikalau mataku kubuka lagi, semuanya serentak hilang lenyap dan meninggalkan kekosongan jiwa, kecewa, sedih dan perih!

Dengan menutup kedua mataku, dapat kuraba, kupegang tanpa menyentuh AInun bahkan mendapat senyuman yang selalu kurindukan!

Jikalau mataku kubuka lagi, semuanya serentak hilang, lenyap dan meninggalkan kekosongan jiwa, kecewa, sedih dan perih!

Dengan menutup kedua mataku, kurayu dengan kata dan nada yang kami miliki dan kenal, tetapi tetap membisu, sunyi sepi!

Dimana Ainun? Bagaimana keadaan Ainun? Bagaimana mendapat kepastian mengenai Ainun yang selalu kurindukan sepanjang masa!

Bacharuddin Jusuf Habibie, 28.08.10. 06:30

Barangkali satu pesan singkat yang bisa kita tangkap dari semua perasaan, kata-kata, dan bahkan airmata yang kita saksikan dari Habibie terkait dengan meninggalnya Ibu Ainun adalah, “Karena aku mencintaimu …, my love.”

———-

Mr. Habibie,

Saya belajar banyak dari anda tentang bagaimana mencinta pasangan hidup dalam makna yang sesungguhnya.

Salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s