Akankah Mr. Tifatul Tergusur?

*politik.mode.on*

Sahabat mpers yang baik,

Di tengah berbagai isu yang mengguncang negeri ini beberapa waktu terakhir, dinamika perpolitikan Indonesia kembali diwarnai oleh wacana sekitar perombakan kabinet SBY. Dikabarkan bahwa untuk memperkuat dan memperbaiki kinerja kabinet dalam menjalankan amanat pemerintahan, diperkirakan SBY akan melakukan reshuffle atas susunan pembantunya.

Hasil evaluasi dari Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) yang dikomandani oleh Kuntoro Mangkusubroto akan dijadikan salah satu dasar pertimbangan oleh presiden dalam mengambil keputusan. Dan kemaren Kuntoro telah menyampaikan hasil evaluasinya kepada presiden. Ada mentri yang dianggap berhasil, ada yang belum. Termasuk ada mentri yang mendapat rapor hijau, dan ada yang memperoleh rapor merah.

Dari beberapa nama mentri yang dulu (laporan UKP4 pada September 2010) disebut-sebut memperoleh rapor merah, nama Menkominfo, Tifatul Sembiring, menurut saya menarik untuk dibicarakan. Apakah sang mentri dari PKS ini akan terkena badai reshuffle itu (kalau jadi dilakukan) atau tidak. Apakah sang mentri yang belakangan sangat populer di media ini akan terus memimpin kementriannya atau harus masuk kotak, dan kemudian harus menyelesaikan karir mentrinya satu tahun saja dalam KIB 2 ini.

Walaupun saya tidak terlalu paham dengan ukuran-ukuran yang dibuat oleh UKP4 dalam menentukan apakah kinerja seorang mentri merah atau biru, namun jika melihat bagaimana posisi Tifatul dalam perang wacana di media belakangan ini, sepertinya Tifatul berada pada posisi ‘kritis’. Mr. Tif, memang populer. Tetapi popularitasnya lebih banyak dalam hal yang kontroversial. Mulai dari komentar tak sedap tentang AIDS di akun twtternya sampai ‘insiden’ salamannya dengan First Lady Michelle Obama yang oleh para penentangnya cendrung menjadi bahan olok-olakan. Kementriannya bahkan sering diplesetkan dengan “Mentri Mis-Informasi dan Mis-Komunukasi”.

Beberapa kebijakan kementriannya juga sering mendapat serangan dahsyat dari kelompok yang tidak menyukainya. Rencana regulasi konten Internet, pemblokiran situs porno, dan ancamannya kepada Research in Motion (RIM) sebagai operator BlackBerry di Indonesia cendrung ditanggapi negatif oleh sebagian masyarakat, terutama mereka yang sejak awal memang tidak suka dengan nilai-nilai yang dibawa PKS, partai pengusung Tifatul.

Di sisi lain, pasti banyak yang telah dilakukan oleh Tifatul dan jajarannya di KemKomInfo. (Diantara prestasinya bisa dilihat disini). Tetapi sayang kerja seperti ini tidak terblow up dengan baik di media. Sebaliknya, publik lebih banyak mengenal Tifatul sebagai mentri yang kontrovesial.

Antara Ya dan Tidak

Pertanyaanya, apakah SBY cukup berani mengganti mentri yang satu ini? Saya tidak terlalu yakin dengan kemungkinan ini. Saya yakin SBY pasti akan mendahulukan kepentingan politik daripada mengikuti opini publik dalam mengambil keputusan reshuffle ini. Suka ataupun tidak, adalah fakta politik yang tak terbantah bahwa PKS adalah salah satu partai utama penyokong kepemimpinan SBY-Boediono sejak awal. Dalam konteks power sharing, kecil kemungkinan PKS untuk kehilangan jatah kementrian mereka.

Disamping itu, SBY harus memperhatikan pentingnya stabilitas politik dalam sisa pemerintahannya. Tidak bisa dihindari bahwa pencopotan satu mentri yang berasal dari satu partai politik tertentu, jelas akan berakibat pada kegaduhan politik. Dan bukan tak mungkin, partai-partai yang merasa dirugikan akan melakukan gerakan politik yang bisa berakibat terganggunya jalannya pemerintahan. Maka, alih-alih berkeinginan untuk memperbaiki kinerja pemerintahan, reshuffle justru bisa berakibat sebaliknya. Pemerintahan menjadi tidak stabil, sehingga kinerja kabinet tidak optimal.

Apalagi, sejarah membuktikan bahwa reshffle kabinet tidaklah solusi terbaik dalam memperbaiki kinerja pemerintahan. Lihatlah apa yang terjadi selama Orde Lama berkuasa. Kabinet datang silih berganti. Para mentri bertukar hampir setiap tahun. Tetapi, kocok ulang kementrian itu ternyata tidak berkorelasi positif dengan kinerja pemerintah dalam bekerja untuk masyarakat.

Dengan memperhatikan beberapa konsideran di atas, masuk akal jika politis PKS, M.Nasir, dengan percaya diri mengatakan bahwa melakukan reshuffle sama saja bunuh diri bagi SBY. (beritanya di sini). Jadi, bagi anda yang berharap Mr. Tifatul Sembiring dicopot SBY, bersiap-siaplah untuk kecewa. ^_^

Salam hormat,
AD
*
pengamat politik amatiran


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s