Mencintaimu Dengan Sederhana

Salam sahabat mpers yang baik hati,

Adalah gejala umum bahwa seiring usia pernikahan seseorang, maka ketika itupula terjadi penurunan kualitas kemesraan hubungan antara seorang suami dan istri. Bunga-bunga cinta yang begitu merekah di awal pernikahan kemudian berangsur layu seiring bertambahnya usia pernikahan mereka.

Kalau di awal pernikahan, semuanya terasa begitu indah, begitu mesra, dan penuh rasa kasih sayang, tetapi setelah beberapa tahun berlalu, suasananya berubah menjadi datar, kaku, hambar, dan tanpa warna. Kalau dulu mendengar suaranya saja, jantung anda berdebar kencang, lutut terasa turut bergetar. Sekarang kok mendengar suaranya justru bikin sakit kepala. Apalagi memandang wajahnya, bikin hilang selera.

Tak jarang bunga cinta yang layu ini kemudian berakibat pada rusaknya harmoni dan keutuhan sebuah rumah tangga. Tidak hanya sekedar berkurangnya kemesraan, tetapi yang lebih parah dari itu adalah hilangnya gairah, memudarnya rasa cinta, terjadinya perselingkuhan, dan bahkan perceraian. Naudzubillah.

Kawan, ketika kita memutuskan menikah dan melapal janji suci di hadapan penghulu, tentu waktu itu kita meniatkan usia pernikahan kita langgeng, sampai kita jadi kakek nenek, sampai maut memisahkan nyawa dengan badan kita. Tetapi perlu kita ingat bahwa perjalanan menuju ke sana tidaklah mudah. Sekali lagi, cinta yang menggelora di awal pernikahan bisa saja berubah menjadi rasa bosan, apatis, dan benci di tengah perjalanan. Fenomena ini, bahkan, kadang bisa terjadi tak kala usia pernikahan kita baru memasuki usia ‘balita’.

Tentu, kita tak ingin biduk kecil rumah tangga kita terhempas gelombang prahara atau terbawa arus pasang surut cinta itu. Kita tidak ingin janji suci kita saat di depan penghulu itu kemudian hanya menjadi ‘mantra kosong’ tanpa makna. Karenanya, tugas berat kita sekarang adalah bagaimana bisa memastikan rasa cinta terhadap pasangan itu tetap terpelihara dengan baik. Rasa cinta yang tak lapuk karena hujan dan tak aus karena panas. Rasa cinta yang tak dimakan usia. Kita ingin bahagian sebagaimana pasangan Yusuf dan Zulaikha, atau seperti Ali dan Fatimah Azzahra, dan yang pasti seperti keluarga Rasulullah Muhammad SAW dengan Khadijah dan para istrinya.

Tentu, kita secara sadar mesti berupaya untuk ini. Diantara upaya mempertahankan kemesraan suami istri yang bisa kita lakukan adalah dengan memastikan bahwa seorang suami/istri harus berusaha bersikap lembut dengan pasangannya. Panggillah pasangan kita dengan panggilan kesayangan. Masing-masing harus selalu membersihkan dan menjaga penampilan dirinya agar nampak menyenangkan. Kita adalah pakaian bagi pasangan kita. Jika ada yang melakukan kesalahan, yang lainnya sekuat tenaga mesti membuka pintu maaf seluas-luasnya.

Perbedaan pendapat pasti terjadi. Berseteru? Wajar. Jangankan kita, Umar bin Khatab r.a saja juga bertengkar dengan istrinya. Bahkan para istri Nabi saja pernah menuntut kenaikan uang belanja. Yang harus kita pelajari dan tiru adalah bagaimana mereka bisa mengelola perbedaan pendapat itu agar tidak berujung pada percekcokan berkelanjutan bahkan perceraian.

Agar kemesraan terus terjalin, adakan waktu bersendau gurau dengan pasangan kita, berikan hadiah pada hari-hari istimewanya. Carilah kesempatan dimana kita bisa menghabiskan waktu berduaan saja. Jika anda pasangan muslim, ajaklah dia shalat berjamaah. Usahakan saling mendo’akan agar pasangan ini selalu diberi rahmat, taufiq dan hidayah Allah swt, sehingga dia menjadi pasangan suami istri yang sakinah, mawadah dan penuh rahmah.

Dalam konteks merawat cinta ini, mengapa harus malu memanggil pasangan kita dengan panggilang, ‘sayang’, ‘honey’, ‘love’, ‘sweetheart’, dan yang lainnya. Ungkapan cinta lain seperti ‘I love you’, atau ‘I can’t live without you, hon!’ tetap diperlukan. Pastikan pasangan anda tahu bahwa kadar cinta anda tak pernah berubah, walau usia pernikahan anda terus bertambah.

Bagi anda yang tak begitu pandai merangkai kata, maka cobalah menuliskan puisi Sapardi Djoko Damono ini dalam kertas merah jambu dan selipkan pada kado hadiah anda ketika pasangan anda memperingati ulang tahun atau momen spesial lainnya:

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat:
diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat:
disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Setelah itu lihatlah apa yang terjadi! ^_^ ·

* Ditulis (salah satunya) untuk menasehati diri sendiri ..
* Diposting di jurnal, agar nasi yang sudah jadi bubur tetap bisa dinikmati😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s