‘Kreatifitas’ Para Penipu; Waspadalah!

Salam sahabat mpers yang baik hati,

Suatu sore sekitar lima belas tahun yang lalu, saya terkejut ketika pulang dari bermain bola dengan teman-teman di kampung, saya mendapatkan ibu kos saya sedang berada di rumah orangtua saya. Waktu itu sedang liburan kuliah. Sebelumnya ibu kos saya tak pernah sekalipun ke rumah, bahkan saya kira dia tidak tahu dimana persisnya rumah orangtua saya.

“Ada apa yah?” Saya bertanya-tanya.

“Pasti ada sesuatu yang penting nih, sehingga ibu kos saya bela-belain datang ke kampung saya yang berjarak cukup jauh dari kota Padang.” Saya berfikir.

Tidak lama setelah saya masuk rumah, keheranan saya terjawab sudah. Yang membuat ibu kos saya datang ke kampung saya adalah, karena dia baru saja memperoleh ‘surat penting’ yang dialamatkan kepada saya dari sebuh perusahaan. Isi suratnya itu kurang lebih adalah mengabarkan bahwa saya beruntung terpilih dari ribuan orang untuk memperoleh hadiah jalan-jalan ke luar negeri. Dan karena saya sedang libur di kampung, beliau dengan senang hati megantarkan surat itu untuk saya.

Setelah saya mendengar penjelasan beliau dan membaca isi surat, saya spontan mengatakan bahwa isi surat itu hanya main-main. “Ini penipuan,” kata saya. Saya langsung feeling bahwa surat itu tidak benar, walau penipuan model seperti itu pada sekitar tahun 1996 silam masih tergolong baru. Beruntung saya pernah membaca berita penipuan dengan modus operandi seperti ini di sebuah media sebelum saya memperoleh surat serupa. Kemungkinan pihak penipu yang menuliskan surat itu memperoleh alamat saya dari profil saya yang sebelumnya pernah muncul di sebuah majalah.

Mendengar respon saya, kontan ibu kos saya terkejut. Begitu juga dengan keluarga saya, yang sebelumnya sangat gembira dengan kedatangan surat ini. Sebelum saya pulang, mereka bahkan telah membicarakan siapa nanti satu orang yang akan mendampingi saya nanti jalan-jalan ke Eropa, karena isi surat itu menyebutkan bahwa hadiah itu untuk dua orang. Tetapi setelah saya jelasakan, mereka akhirnya bisa memahami.

—-

Hampir lima belas tahun berlalu, sepertinya model penipuan seperti itu masih terus berlangsung. Bahkan sekarang, sepertinya para penipu itu sudah semakin ‘kreatif’. Modus operandinya tidak lagi hanya melalui pemberian surat, tetapi juga melalui email, sms, dan telepon langsung. Saya yakin anda semua pernah mendapatkan sms/email/telpon dari orang tak jelas dengan nada penipuan seperti ini.

Modus penipuan yang melalui surat isinya juga sangat beragam, mulai dari hadiah liburan ke luar negeri sampai tawaran proyek dan atau kesempatan mendapatkan gelar masters di perguruan tinggi ‘antah barantah’ dengan harga yang sangat murah. Yang melalui sms juga sangat beragam. Ada yang bilang bahwa anda menang undian, menang poin telkomsel, mama/papa kehabisan pulsa, sampai tawaran untuk menjadi agen pulsa murah. Yang via telpon langsungpun juga begitu. Sepertinya para penipu itu terus menggunakan otak kreatif mereka untuk menemukan cara baru agar ‘bisnis’ mereka tetap jalan.

Anehnya, walau sudah banyak yang jadi korban dan juga sudah ramai pemberitaan tentang penipuan seperti ini, tetap aja ada orang-orang tertentu yang menjadi korban sampai sekarang. Bahkan belum lama ini, ibu mertua saya juga termasuk salah satu diantaranya.

——
Ceritanya berawal ketika suatu sore beliau menerima telpon dari seorang wanita muda yang mengaku dari sebuah perusahaan peralatan rumah tangga, kemudian menyampaikan selamat kepada ibu mertua saya karena termasuk yang beruntung telah terpilih sebagai orang yang berhak memperoleh hadiah dari perusahaan tersebut. Katanya dari sekian ribu nomor yang ada di kota kami tinggal, secara acak mereka pilih lima puluh orang saja yang beruntung mendapatkan paket hadiah ini.

Entah apa lagi yang disampaikan wanita muda yang menelpon itu, yang jelas seakan terhipnotis mertua saya segera mengunjungi tempat yang tadi disebutkan di dalam percakapan telpon. Waktu itu saya dan anak-anak beliau yang lain tidak ada di rumah. Kami baru tahu kejadiannya ketika beliau pulang membawa beberapa barang yang menurut kami tak terlalu dibutuhkan. Ternyata beliau sudah mengiyakan untuk membeli barang-barang itu dengan harga cukup mahal. Hadiah yang tadi dijanjikan hanya dijadikan strategi agar kita pergi ke alamat yang dituju. Sampai di sana, sepertinya kita dikondisikan sedemikian rupa (saya lebih cendrung menyebutnya dengan ‘dihipnotis’) untuk mau membeli barang-barang ytang mereka tawarkan.

Setelah tahu sedikit ceritanya, saya dan adik ipar berusaha untuk mengingatkan mama, agar berpikir lagi untuk membeli dan membayar barang-barang yang tak terlalu diperlukan itu. Apalagi dengan harga yang rasanya kemahalan. Saya feeling sepertinya ada yang gak beres dengan proses pembeliannya. Tetapi mama tetap saja bayar, karena dijanjikan sama yang menjual bahwa setelah barang-barang itu nanti dicoba, terus ternyata tidak senang, maka nanti bisa ditukar dengan barang lain seperti kulkas, TV, tape recorder, dll. Penukaran katanya bisa dilakukan tiga bulan setelah itu di acara pameran pada satu supermarket di kota kami.

Pendek cerita, setelah menunggu tiga bulan, pameran yang dijanjikan itu tak pernah ada. Nomor penjual yang dulu datang ke rumah itu sudah tak bisa dihubungi. Kantor yang dulu mereka pakai saat terjadi transaksi sudah tutup dan diganti orang lain. Jejak mereka hilang sudah. Sampai di sinilah mama baru percaya bahwa beliau sudah dibohongi.

Hemm, kawan. Sengaja saya menulis tentang topik ini. Mudah-mudah bisa jadi pengingat kita semua. Mengingat beban hidup yang semakin berat, sepertinya ke depan modus operandi penipuan ini akan semakin canggih. Oleh sebab itu, waspadalah, waspadalah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s