Toilet dan Keikhlasan Memberi

Assalamu’alaikum,

Ikhlas itu kedengarannya mudah, tetapi mengamalkannya tidaklah sederhana. Namun, susah atau mudah, kita mesti terus berusaha melakukannya. Karena tanpa keikhlasan, semua amal kita menjadi percuma. Sebesar dan seagung apapun itu di mata manusia.

Selain tidak mudah melakukannya, mengukur kadar keikhlasan kita saat beramal juga bukan perkara mudah. Karena ikhlas bukan sebuah amal yang bisa diquantifikasi. Dia adalah amal hati yang bersifat kualitatif.

Seorang ustadz menjelaskan bahwa untuk menguji kesempurnaan keikhlasan kita dalam beramal, kita bisa menganalogikannya saat kita pergi ke toilet untuk BAB. Saya yakin bahwa ketulusan kita begitu sempurna saat kita melakukan pekerjaan yang satu ini. Kita bahkan tetap akan melakukannya, walau badai menghalangi kita. *hiperbola*🙂

Pelajaran paling penting tentang keikhlasan dari BAB adalah bahwa setelah kita selesai BAB, tak akan ada seorangpun yang kembali mengingat-ingat apa saja yang baru dia ‘berikan’. Kita dengan tulus telah merelakannya.

Maka jika anda telah berbuat sesuatu, memberi misalnya, ketulusan kita seharusnya sepadan dengan ketulusan saat kita selesai BAB. Jangan pernah menyebut-nyebut lagi apa yang telah anda berikan, karena itu justru akan merusak keikhlasan anda.

Rabb, masukkan kami kepada kelompok kaum mukhlisin!

Salam,

Anto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s