Ketika Pasangan Anda Marah

Sahabat mpers yang baik hati,

Menjadi sepasang kekasih itu tidak selalu berarti bahwa anda senantiasa akur dengan pasangan anda. Akan ada waktunya kemesraan yang anda miliki itu mengalami riak-riak kecil, atau bahkan menghadapi gelombang pasang yang siap membalikkan biduk kecil keluarga anda. Sepertinya hampir semua pasangan suami istri mengalami fluktuasi hubungan ini. Bahwa ada masanya di sepanjang jalan cinta yang anda ukir bersama kekasih, karena berbagai sebab anda mengalami gangguan yang berpotensi merusak sketsa kebahagiaan yang telah anda ukir selama ini.

Gangguan itu bisa berbentuk renggangnya hubungan anda dengan pasanga anda. Perlu diingat bahwa renggangnya hubungan itu bisa berbuntut panjang, mulai dari sekedar ‘manyun’, tak bersapaan berhari-hari, pisah ranjang, bahkan sampai pisah rumah (baca: perceraian).

Apa yang membuat seorang pasangan marah, jengkel, dan sakit hati? Penyebabnya bisa banyak. Mulai dari yang sederhana, seperti salah komunikasi, cemburu, merasa diabaikan, sampai pada taraf serius, berupa perasaan telah dikianati. Kalau kita belajar dari beberapa rumah tangga yang kandas di tengah jalan, barangkali kita akan menemukan beberapa faktor di atas sebagai pemicu masalah mereka.

Sahabat mpers,

Kita tentu tidak ingin bahtera rumah tangga yang telah kita bangun itu harus kandas di tengah jalan. Karenanya mari berusaha agar bahtera cinta kita itu tetap bertahan sampai ke pulau tujuan. Meniadakan masalah sampai titik nol sepertinya mustahil. Adanya masalah yang kadang muncul, seperti rasa marah dan jengkel dengan pasangan adalah normal adanya. Dia ibarat satu warna yang akan menambah indahnya warna warni kehidupan keluarga kita.

Namun yang paling penting adalah bagaimana bersikap yang tepat jika pasangan kita marah. Kita mesti bisa mengelola rasa ini dengan benar. Yang sering saya lakukan adalah dengan berusaha terlebih dahulu menyampaikan maaf kepada istri jika saya melihat adalah gejala tidak normalnya hubungan kami yang barangkali disebabkan oleh kesalahan saya. Walau terus-terang, meminta maaf terlebih dahulu itu berat.

Kemudian, seorang ustadz dulu pernah mengingatkan bahwa dalam keadaan seburuk apapun kondisi hubungan anda dengan pasangan anda, pastikan bahwa anda tetap tidur seranjang dengan pasangan anda. Walau mungkin cuma berhadapan punggung. Itu jauh lebih baik jika anda memutuskan pisah ranjang apalagi kalau sampai pisah rumah. Sekali anda memutuskan untuk menjauhi pasangan anda, ingatlah di sana syeithan bisa terus berbisik, agar anda terus menjauh dan menjauh. *Na’udzubillah*

Semoga semua kita menjadi pasangan yang berbahagia di dalam redho Allah SWT.

*ditulis sebagai nasehat untuk diri sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s