Long Distance Love

Berpisah dengan pasangan hidup dalam beberapa waktu yang cukup lama bukanlah hal yang mudah untuk dijalani. Ada banyak tantangan yang mesti dihadapi. Salah satunya adalah bagaimana tetap menjaga cinta antara pasangan itu tetap bersemi dan produktif. Dalam kondisi seperti ini, komitmen dan kesetiaan antar dua pasangan itu mengalami ujiannya yang sesungguhnya.

Betapa tidak. Ketika jarak yang membentang luas itu memisahkan anda, maka hanya komitmen dan kesetiaan diantara pasanganlah yang bisa mendekatkannya secara spiritual. Sebaliknya, jika dua itu tidak dimililiki oleh salah satu atau keduanya, maka bukan tidak mungkin jalan cinta kedua pasangan ini akan mengalami masalah. Perselingkuhan, bahkan perceraian bisa saja menjadi hantu menakutkan yang siap menunggu di ujung jalan panjang itu. Na’duzubillah.

Sekitar tiga tahun yang lalu, saya sempat membaca kumpulan cerita mereka yang, karena beragam alasan, terpaksa memilih hidup berpisah dengan pasangan mereka. Cerita itu terangkum dalam buku karangan Imazahra, dkk dengan judul Long Distance Love. Review saya tentang buku itu bisa dibaca di sini. Dan hari ini, ternyata saya kemudian menjadi pelaku dengan tema yang sama untuk ke sekian kalinya. ^^

Iya, karena alasan dinas, kerja, dan sekolah beberapa kali saya harus berpisah dengan keluarga dan orang-orang yang saya cintai. Ketika dulu kami bekerja pada dua kota yang berbeda, kami hanya bertemu satu kali seminggu. Ketika saya training menjelang keberangkatan studi masters saya di Autralia, kami hanya bertemu satu bulan sekali. Dan yang paling lama adalah ketika saya studi masters saya di Monash antara tahun 2006-2007, saya hanya sempat berkunjung enam bulan sekali. Dan hari ini, kami kembali harus berpisah sementara untuk waktu yang belum defenitif. Mudah-mudahan tidak terlalu lama.

Pasti ada plus minus dari pilihan ini. Agar jarak yang membentang luas itu tidak kemudian menjadi masalah, sebisanya saya tetap menjaga komunikasi dengan keluarga. Beruntung kemajuan teknologi bisa membantu memudahkan komunikasi dengan biaya yang semakin murah. Barangkali dalam kondisi seperti ini, kualitas komunikasi jauh lebih penting dari kuantitasnya.

Di atas segalanya, komitmen, kepercayaan, dan kesetiaan menjadi kata kuncinya. Sepanjang tiga syarat tersebut masih terjaga dengan rapi, maka InsyaAllah jauhnya jarak tidak akan menjadi kendala berarti. Karena sejatinya memang cinta itu sesungguhnya tidak mengenal jarak.

Salam,

p.s. gambar dicomot dari sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s