Benarkah kau mencintainya?

Salam sahabat empers,

Apa kabar nih? Semoga kita semua hidup dalam cinta yang damai.

Cinta dalam berbagai bentuknya selalu saja membutuhkan pembuktian. Tahukan kalian salah satu bukti nyata dari cinta itu? Pengorbanan adalah salah satunya. Cinta itu butuh bukti berupa pengorbanan. Karenanya mereka yang mengaku mencintai, tetapi tidak mau berkorban untuk sesuatu yang dia cintai, maka cintanya itu tak lebih dari gombal belaka.

Tentang pengorbanan itu, pada satu sisi dia menjadi syarat/bukti cinta, tetapi pada sisi lain dia menjadi akselarator kadar kecintaan kita pada sesuatu yang kita cinta. Dalam dangkalnya cinta kita berbanding lurus dengan kadar pengorbanan yang kita lakukan. Semakin banyak pengorbanan yang kita berikan, maka akan semakin suburlah benih cinta di hati kita. Hukum ini berlaku untuk mencintai apa saja, objek yang sifatnya material berupa manusia dan harta benda, maupun objek non-material, seperti Tuhan.

Dalam konteks itu, kita bisa memahami mengapa seorang ibu biasanya lebih dekat dengan anak-anaknya. Karena pengorbanan sang ibu (yang kemudian melahirkan cinta) lebih banyak terlihat, bahkan sejak sang ibu mengandung anaknya. Ini tidak untuk mengatakan bahwa banyak bapak tidak berkorban dan kemudian tidak mencintai anak-anak mereka.

Alasan di atas jugalah yang menjadi jawaban mengapa ada orang yang pembelaanya terhadap sesuatu sungguh sangat terlihat. Berbicaralah dengan veteran perang RI, maka anda akan menangkap aura yang kuat betapa mereka mencinta republik ini. Karena peluh dan darah mereka pernah menetes demi tegaknya negara ini.

Kembali pada orang-orang di sekeliling kita, mari bertanya, benerkah kita sudah mencintai mereka dengan sebenarnya. Jika anda punya pasangan hidup, sudahkah anda benar-benar mencintai pasangan hidup anda? Iya atau tidak jawabannya akan sangat tergantung pada kadar pengorbanan yang telah kita berikan untuk mereka. Sekali lagi pengorbanan. Bukan hanya kasih sayang dalam bentuk cumbu rayu, dan sejenisnya.

Apa itu pengorbanan? Yaitu saat kita mampu berbuat di luar naluri keegoan kita, atau saat kita bekerja melebihi kadar kemampuan kita. Yaitu saat seorang pasangan mau mengalah demi orang yang dia cintai, saat seorang suami menahan kantuk di malam hari menjaga sang bayi yang belum tertidur agar sang istrinya bisa beristirahat, atau saat seorang istri ikhlas melepas pekerjaan dan karirnya dan fokus bekerja di rumah demi anak-anak dan suaminya. Tentu masih sangat banyak contoh yang kita tambahkan.

Tuhan, ajarkan kami mencintaMu dan mereka dengan cara yang sempurna!

Salam,

* gambar dicomot dari sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s