Ku Berniat Naik Haji

Salam sahabat empers,

Semalam saya berkesempatan mengisi acara sebuah pengajian dikalangan permanent resident di kota ini. Ini adalah pengajian rutin keluarga yang anggotanya kebanyakan para eksekutif muda Indo yang bekerja secara professional di Melbourne. Berbeda dengan para student yang bekerja partime di sektor casual, para eksekutif itu bekerja full timer sebagai kalangan professional di beberapa bidang, terutama bisnis dan IT. Yah, mereka semacam kalangan ‘ekspaktriat’nya di Australia lah.

Pengajian tadi malam agak berbeda dari biasa, karena ada tiga keluarga (suami istri) anggota pengajian ini yang baru pulang dari ibadah haji. Selain kangen-kangenan dan suasana gembira menyambut para sahabat yang baru pulang menunaikan rukun kelima ini, acara juga diisi dengan semacam penyampaian kesan-kesan dari mereka yang baru pulang. Dan disinilah suasananya menjadi begitu syahdu.

Saya sendiri sudah beberapa kali menghadiri acara penyambutan mereka yang pulang haji, tetapi acara tadi malam saya rasakan agak berbeda. Suasana syahdu dan diiringi air mata itu terjadi ketika semua rekan yang baru pulang menyampaikan secuil pengalaman spiritual mereka dalam perjalanan suci ini. Penggalan pengalaman mereka sungguh genuine, apa adanya, dan saya bisa merasakan bahwa apa yang mereka sampaikan adalah sesuatu yang lahir benar-benar dari kejujuran nurani mereka.

Diantara isak tangis yang tertahan mereka bercerita bagaimana mereka bisa berangkat, dan merasa sangat bersyukur terpilih menjadi salah satu diantara mereka yang berkesempatan mengunjungi baitullah, walau mungkin ada banyak orang lain yang lebih sehat, lebih kaya, dan lebih kuat daripada mereka. Dengan linangan air mata, mereka merefleksi bagimana mereka belajar ikhlas dan tawakkal (total submission) yang seutuhnya kepada kekuasaan Allah SWT, terutama kalangan ibu-ibu muda itu yang masih memiliki anak usia sekolah, saat harus memilih antara Allah dan keluarga ketika memutuskan untuk berangkat menunaikan ibadah haji ini.

Tangis juga tidak terbendung saat mereka merasakan betapa kecilnya mereka terasa saat berbaur dengan jutaan manusia di Arafah, atau saat menceritakan perjuangan mereka yang tidak mudah untuk melontar jumrah dan mencium hajarul aswad. Saya ikut tercekat saat seorang diantara mereka berujar bahwa ternyata untuk mendapatkan sekeping tanah Allah di sorga itu memang tak mudah, dia butuh perjuangan dan pengorbanan.

Ah, Rabb … ku tahu bahwa panggilan-Mu untuk berhaji ini sudah sekian abad yang lalu. Dan sekarang dengarkanlah ya Rabb, bahwa aku dan keluarga berniat naik haji, mengunjungi-Mu di Baitullah, Makkah Al-Mukkarramah secepatnya. Mudahkanlah ya Allah! Bismmillah!

Terimakasih kepada teman-teman pengajian An-Nur yang sudah menginspirasi.

#saya sengaja menulis tema ini, agar niat ini semakin kuat, sekaligus mohon doa dari sahabat semua#

p.s. gambar dicomot dari sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s