[Seri 1] Belajar Kepada Air

Salam,

Sahabat semua. Seperti yang saya janjikan pada postingan saya sebelumnya, bahwa saya berniat untuk membuat tulisan bersambung, yang saya beri tema Serial Belajar Pada Guru Kehidupan, maka sekarang saya akan mulai dengan edisi pertama, yaitu belajar kepada air.

Barangkali sebagian diantara kita juga sudah pernah membaca tentang bagaimana sifat-sifat air dan apa yang bisa kita ambil pelajaran dari air.

Hemat saya, pelajaran utama dari air adalah pelajaran tentang kebermanfaatan. Semua kita tahu bahwa air adalah salah satu sumber utama kehidupan kita, setelah udara. Airlah yang membuat kehidupan di jagad raya ini bisa terus bertahan. Tanaman akan cepat layu dan kemudian mati jika tidak bertemu air dalam waktu tertentu. Binatang juga akan mati kehausan jika tidak bertemu air. Tidak terkecuali manusia. Pendeknya, kehidupan ini membutuhkan keberadaan air. Ketiadaan air sama dengan ketiadaan kehidupan.

Dengan demikian, sebagai manusia, mestinya sifat kebermanfaatan air ini bisa menginspirasi kita agar juga bisa menjadi makluk yang bermanfaat untuk kehidupan di sekitar kita. Siapapun dan apapun embel-embel kemanusiaan kita, mestinya keberadaan kita dirasakan manfaatnya oleh lingkungan kita, tidak hanya manusia di sekililing kita, juga bagi hewan dan tumbuhan.

Karenanya sangat tepat ketika kanjeng nabi megatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain. Kalau dulu orang-orang di sekitar kita semua tersenyum gembira melihat dan menyambut kelahiran kita, maka nanti saatnya kita tersenyum meninggalkan dunia fana ini, ketika orang yang kita tinggalkan menangisi kepergian kita. Dan itu hanya mungkin terjadi ketika kehidupan kita dirasakan manfaatnya oleh orang lain. Bukan sebaliknya.

Sahabat yang baik,

Sifat dasar air yang lain adalah bahwa air biasanya akan berusaha mengalir ke tempat yang rendah untuk sampai ke tujuan akhirnya, bertemu muara.Air dimanapun akan berusaha konsisten bergerak menuju kerendahan ini. Dia aka terus mengalir menuju muara, walau ada halangan merintang atau walau alirannya tidak selalu berjalan mulus. Ketika gerakannnya terhalang, mungkin dia akan berheti sejenak. Tapi berhentinya aliran air tadi bukan berarti dia menyerah. Yang dilakukan air adalah berhenti untuk mengumpulkan kekuatan, agar ketika sudah sampai waktunya dia bisa terus mengalir dengan cara membobol benda yang menghalanginya.

Dengan demikian, dari sini kita belajar bagaimana pentingnya konsistensi usaha yang pantang menyerah untuk mencapai sebuah tujuan. Dalam hidup, tentu kita punya cita-cita dan impian. Namun, sunnatullah kehidupan adalah biasanya usaha untuk mencapai impian kita itu tidak selalu berjalan mulus. Biasanya ada saja kendala yang menghalanginya. Dengan belajar kepada air, semestinya kita juga tidak mudah menyerah ketika berhadapan dengan satu persoalan. Kita boleh saja berhenti sejenak untuk mengumpulkan energi atau memikirkan strategi baru. Dan kemudian terus mengayunkan langkah menggapai impian-impian kita.

Barangkali dilain waktu ada diantara kita yang pernah bertemu lempengan batu yang berlubang atau cekung. Setelah diperhatikan, ternyata lekung di batu tersebut adalah akibat tetes air di atasnya. Kapan air yang sejatinya lembut itu bisa melubangi atau bahkan memecahkan batu yang keras? Yaitu saat air yang lembut itu terus menetes, dan menetes. Itulah konsistensi.

Sahabat,

Kalau tadi kita bicara bahwa air itu adalah sumber kehidupan, namun di lain waktu air juga bisa menjadi sumber penyakit. Air bisa menjadi sumber kehidupan yang baik, jika dia terus mengalir. Air mengalir itulah air yang sehat, suci dan mensucikan. Namun, jika air benar-benar berhenti total, tergenang, dan tidak lagi bergerak, maka saat itulah air berpotensi menjadi sumber penyakit. Tempat bersarangnya bintik-bintik nyamuk, dan untuk kemudian bisa membahayakan kehidupan di sekitarnya.

Nah, jika kita ingin menjadi sumber kehidupan yang baik untuk dunia di sekitar kita, jangan pernah berhenti untuk bekerja dan beramal untuk kebaikan, apapun bentuknya. Dengan amal yang terus menerus seperti inilah, eksistensi kita akan membawa manfaat bagi dunia di sekitar kita. Sebaliknya, ketika kita berhenti berbuat baik (baca: amal sholeh), maka hati-hatilah bahwa diamnya kita bisa saja menjadi awal keburukan bagi diri kita, dan kemudian bisa berdampak pada dunia di sekitar kita.

Sungguh, seringkali dalam hidup ini kita harus memilih antara dua pilihan; bergerak bersama kebaikan, atau berhenti dan kemudian menjadi penyakit untuk kehidupan. Karenanya, pilihlah menjadi air yang terus mengalir sampai ke muara, jangan menjadi air tergenang yang menjadi sarang nyamuk.

Demikian edisi pertama ya. Sila ditambahkan dan dikomentari. Sampai ketemu pada edisi berikutnya🙂

Wallahu a’lam,

Salam

p.s. gambar dicomot dari mbah google.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s