[Seri 2] Belajar Kepada Laut

Salam,

Sahabat empers yang baik. Bertemu kembali dengan saya untuk melanjutkan serial Belajar Pada Guru Kehidupan. Bagi anda yang baru berkunjung, silakan juga baca edisi pengantar dan edisi perdana serial bersambung ini. Punten ya, rada telat. Karena saya harus ‘mencuri-curi’ waktu di sela proyek penulisan thesis saya untuk meneruskan penulisan ini.

Kali ini saya akan membahas laut. Kalian semua pasti pernah mengunjungi laut kan? Apa yang anda rasakan ketika berkunjung dan bermain ke laut?

Umumnya kita datang ke laut dengan niat mencari kedamaian, bertamasya dan menghilangkan segala beban stress yang berhari-hari mungkin mengimpit kita sebelumnya. Kita berharap bahwa dengan bermain ke laut, segala beban itu bisa hilang. Tergantikan perasaan senang, ringan, dan damai.

Ya begitulah. Dari dulu Tuhan telah menciptakan lautan dan pantai sebagai sumber inspirasi kedamaian. Laut seakan menjadi pelabuhan jiwa-jiwa yang gelisah. Memandangi samudera luas membiru, membiarkan kaki kita diterjang ombak di tepi pantai, atau bahkan berenang di dalam arus ombak itu, atau ketika kita berjalan menapaki pasir yang memutih itu, diiring hembus angin pantai dengan baunya yang khas, semuanya seperti menjadi orkestra sangat indah yang bisa mendatangkan kedamaian jiwa dan raga.

Di titik inilah, kita bisa belajar dari laut dengan segala perniknya. Laut senantiasa setia menjadi tempat manusia ‘menumpahkan rasa dan gundah’. Tempat manusia ‘mencari kedamaian’. Laut senantiasa ada di sana menunggu dengan segala eksotikanya.

Kita mesti juga bisa belajar menjadi ‘laut’ bagi kehidupan di sekitar kita. Dalam konteks anak, al-quran menggunakan istilah ‘qurrata a’yun’ (penyejuk mata). Artinya anak yang baik (anak di sini tentu tidak harus bermakna baby yang masih balita, tetapi juga kita-kita yang sudah dewasa) kudu bisa menjadi ‘penyejuk mata’ bagi orang tua kita dan tentu juga orang-orang di sekitar kita.

Di samping itu, sebagaimana halnya laut yang memberi kedamaian dan kenyamanan bagi manusia yang mendatanginya, sebagai manusia saya pikir kita juga mesti belajar memainkan peran ini. Menjadi manusia yang mendamaikan dan menentramkan. Menjadi ‘tempat berlabuh’ orang-orang di sekitar kita. Menjadi manusia yang mau mendengar dan berusaha memberikan jalan keluar dari orang-orang di sekita kita.

Sahabat,

Kembali ke laut. Selain dimensi keindahan dan kedamaian yang diberikan laut. Diantara sifat utama laut yang lain adalah karakternya yang senantiasa memberi, bahkan dengan pemberian yang berkelimpahan kepada manusia. Pemberian yang tak pernah berhenti.

Kita semua tahu bahwa, misalnya, laut dijadikan sebagai sumber utama kehidupanratusan ribu nelayan dan keluarganya. Dengan izin Tuhan, laut seperti menjadi lumbung perikanan raksasa yang tak pernah habis.Belum lagi, kita berbicara kekayaan yang lain, seperti mutara, minyak lepas pantai, terumbu karang, dan pesona wisata alam bawah laut.

Pernahkah laut meminta pamrih? Nyaris tidak pernah menurut saya. Kerjanya hanya memberi dan memberi. Tak peduli apakah manusia mau memberi balik atau tidak.

Maka dalam konteks ini, sebagai manusia kita mesti belajar kepada laut dalam hal ‘memberi tanpa pamrih’. Kalau mau lebih jujur dengan jiwa kita, ketahuilah bahwa sesungguhnya dalam memberilah kita menerima. Kebahagiaan kita sesungguhnya adalah saat kita bisa memberi, bukan saat menerima.

Apalagi, Tuhan itu maha adil. Yakinlah bahwa segala apa yang kita berikan sesungguhnya akan kembali kepada kita. Ketika kita memberi kebaikan, maka kebaikan itu akan kembali kepada kita. Demikian juga sebaliknya.

Contoh sederhana, jika anda memberi senyum kepada seseorang, bahkan kepada orang yang tidak kenal sekalipun, hampir dipastikan bahwa yang bersangkutan akan membalas juga dengan senyuman. Apalagi kalau kita berbuat kebaikan lebih dari sekedar senyuman. Tuhan pasti akan mengganjarnya dengan kebaikan berlipat.

Terus kemudian, kenapa masih banyak diantara kita yang masih berat memberi?

Sebenarnya saya masih ingin membahas pelajaran lain dari laut, seperti laut yang imun dari kotoran, yang bisa membersihkan diri, juga tentang ‘filosofi ombak’. Namun, saya cukupkan dulu sampai di sini. Khawatir kepanjangan🙂

Silakan ditambahkan dan dikomentari.

Salam damai!

p.s. gambar dicomot dari mbah google.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s