[Seri 3] Antara Bule dan Anjing …^^

Salaam,

Hey apa kabar empers semua? Semoga kalian sehat.

Maaf lagi, lama tak muncul di empe. Sampai ada yang nanyain, saya kemana aje. Kangen kali yaah. hehe. Biasalah mahasiswa, kadang hidupnya kayak matahari. Timbul dan tenggelam. Kadang hilang dalam perjalanannya menyusuri ‘lorong gelap’ yang namanya riset. ^^

Baiklah, saya akan melanjutkan Serial Belajar Pada Guru Kehidupan. Ini adalah edisi ketiga. Dengan demikian, bagi anda yang ‘tersesat’ masuk ke dalam jurnal ini, dan ingin tahu bagaimana cerita awal postingan ini, silahkan dibaca juga edisi pengantar, edisi perdana, dan edisi kedua tulisan serial ini. InsyaAllah saya pastikan bahwa anda ‘tersesat ke jalan yang benar’. :-))

Setelah mebahas air dan laut pada edisi sebelumnyha, kali ini saya ingin loncat sub bahasannya dengan memilih tema belajar kepada anjing. Saya sengaja membahas tema ini agar sedikit ‘eye catching’, menarik perhatian anda yang mungkin sebelumnya tidak tertarik membaca serial ini. Minimal anda mengklik judulnya dan kemudian tergelincir ke dalam jurnal saya ini. :-))

Dalam sebuah diskusi keIslaman di Masjid Westall, tempat berkumpulnya kaum muslimin Indonesia dalam berbagai pengajian di sini, seorang muallaf bule yang sudah menikah dengan wanita Indonesia bertanya kepada saya tentang mengapa Islam mengharamkan anjing, atau bahkan terkesan cendrung ummat Islam membenci makhluk yang bernama anjing. Mengapa anjing dianggap najis, dan mengapa kucing tidak.

Tanpa menunggu jawaban saya, sang bule terus bertanya, padahal dibanding berbagai binatang peliaran lainnya, anjing itu menurutnya adalah binantang yang smart, karena bisa dilatih untuk melakukan pekerjaan membantu manusia, seperti menjadi anjing pelacak, anjing entertainer seperti di sirkus.

Dia terus memepertanyakan mengapa. Padahal, menurutnya, anjing adalah juga binatang yang loyal dengan tuannya, dan yang pasti menurutnya anjing juga adalah jenis binatang yang ‘pandai berterima kasih’. Buktinya, jika kita pernah bertemu anjing yang keliatannya galak dan takut menghadapinya. Salah satu cara efektif untuk menghadapinya adalah dengan memberinya makanan. Dan lihatlak setelah itu, sang anjing yang tadinya galak kepada anda, biasanya akan berubah menjadi ‘anjing baik’. Dia dengan cepat mengenal anda sebagai orang baik yang telah memberi sesuatu kepadanya, dan kini saatnya bagi sang anjing untuk berterimakasih dengan ‘menghormati’ anda.

Terus terang saya tertegun dengan pertanyaan sang bule yang memang biasa dengan cara berfikir kritis ini. Saya sendiri belum mendapat penjelasan utuh mengapa (memakan dan juga ‘bergaul’) dengan anjing itu haram, selain penjelasan bahwa air liur anjing itu najis berat, dan karenanya mesti dihindari untuk tidak kontak dengan anjing.

Sambil saya merenung, sang bule juga sudah menyampaikan pertanyaannya berikutnya. Menurutnya bergaul dengan anjing itu jauh lebih aman dibanding jika kita sering dekat-dekat dengan kucing. Dengan kata lain, menurutnya memiliki dan dekat dengan kucing justru berbahaya untuk kesehatan, terutama para ibu hamil, dan kabarnya dari kucing bisa menyebar vurus tertentu yang sangat berbahaya bagi ibu-ibu hamil dan calon bayinya. Terus mengapa Rasul justru lebih menyukai kucing dan cendrung ‘membenci anjing’. Kejarnya. Apakah rasul pernah punya pengalaman trauma, karena digigit anjing, misalnya? Tanyanya lagi.

Wooow, mantap pikir saya. Setelah berfikir agak lama, secara sederhana jawaban saya begini,

“Well bro, to be honest I have never thought such questions before. It was really interesting questions to discuss. However, in the context of understanding Islamic teaching, we can not rely only to our mind. We should start from here (pointing out my chest), our heart, our belief.”

Sungguh jawaban umum yang tidak menjawab esensi pertanyaan sang bule itu kan? Tetapi, untung sang brother bule itu tidak melanjutkan pertanyaanya.🙂

Temans yang baik,

Terlepas dari apa jawaban yang lebih tepat dari pertanyaan sang bule di atas. Saya pikir si bule di atas benar bahwa anjing sebagai makluk Tuhan memiliki beberapa kelebihan seperti yang saya sebutkan di atas, seperti sifat loyal kepada tuannya, pandai berterima kasih, dan yang tak kalah penting adalah ‘smart’, yang dia buktikan bahwa dia bisa ‘belajar’.

Meskipun semua hal yang saya sebut tentang anjing di atas tidak bisa diterima apa adanya, namun saya pikir tidak salah jika kita mengambil inspirasi dari anjing tentang hal-hal di atas. Tentang pandai berterima kasih dan loyal misalnya. Dalam bahasa yang lebih spesifik, ini bisa katakan bahwa kita mesti menjadi makhluk yang pandai bersyukur kepada Tuhan yang telah memberi kita begitu banyak nikmat.

Kalau kita mau jujur, sungguh nikmat Tuhan yang kita terima sangat banyak dan tak terhitung. Tuhan telah memberi begitu banyak sebelum kita meminta. Betapapun mungkin kita mengalami masalah dan sakit dalam kehidupan kita, namun nikmat yang Allah curahkan pasti jauh lebih banyak dari rasa sakit dan masalah itu.

Pertanyaannya, sudah kita benar-benar bersyukur kepada Tuhan? Sudahkah kita menjadi makhluknya yang loyal, yang setia dan istiqamah meniti jalan panjang syariatnya dimanapun dan kapanpun?

Jika kita sesama manusia merasa tidak nyaman dengan sesorang yang tidak pandai berterimakasih setelah kita beri bantuan, misalnya, terus bagaimana dengan rasa terimakasih kita kepada Tuhan?

Haruskah kita kalah pada anjing itu?

Duuh, thanks dog for the inspiration! ^__^ Have a nice weekend everyone!

Salam

p.s. gambar dicomot dari mbah google.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s