Rizki Itu Memiliki ‘Matematikanya’ Sendiri

Salaam,

Sahabat empers yth,

Karena berbagai kesibukan, cukup lama saya tidak menulis di jurnal ini. Kangen juga rasanya berbagi dan menemui kalian di sini. ^^

Walaupun rada telat, pada jurnal kali ini saya ingin berbagi pengalaman saya bertemu dan mendengarkan langsung motivator handal, Ipho Santosa, dalam acara seminar 7 Keajaiban Rizki yang diadakan Dompet Dhuafa Republika bekerja sama dengan Indonesian Muslim Community of Victoria (IMCV) di kampus University of Melbourne beberapa waktu yang lalu.

Sekalipun saya telah membaca salah satu buku best sellernya Ipho Santosa, 7 Keajaiban Rizki itu, acara seminar hari itu tetap menarik dan mengesankan. Dengan tampilannya yang cendrung sederhana, Ipho mampu memukau dan meyakinkan para peserta seminar yang kebanyakan berasal dari kalangan permanen residents dan mahasiwa Indonesia yang menetap di Victoria tentang bagaimana rezki itu memiliki matematikanya sendiri.

Diantara kekuatan nilai seminar Ipho adalah karena hampir semua yang dia sampaikan adalah refleksi dari apa yang dia alami sendiri. Dia menjalankan peran sebagai ‘teoritikus’ dan ‘praktisi’ pada saat yang sama. Makanya, tak heran bahwa setiap ‘petuah’ yang dia sampaikan, sangat kuat terasa menghunjam ke jiwa peserta seminar.

Secara umum, Ipho memaparkan poin-poin yang telah dia tulis dalam bukunya, 7 Kejaiban Rizki, bahwa jika anda ingin memperoleh percepatan rizki, baik itu rizki dalam bentuk keuangan, prestasi, jodoh, kesehatan, karir, dan apa saja, maka anda bisa memperolehnya dengan mempraktekkan 7 jurus yang dia tulis dalam buku itu.

Saya tidak akan membahasnya semuanya di sini. Namun diantara poin menarik yang dia sampaikan adalah bahwa percepatan rizki itu sangat tergantung seberapa baik kualitas hubungan dan pengabdian anda dengan apa yang dia sebut ‘sepasang bidadari’.

Sepasang bidadari yang dia maksud adalah dua wanita terhormat yang ada di lingkaran dekat kita, yaitu ibu dan istri (atau suami) kita. Pastikan anda telah melakukan pelayanan terbaik terhadap dua pasang wanita ini, memuliakan mereka, menjaga amanah dan kepercayaan mereka, meminta doa dan restu dari mereka, dan memberikan hak-hak mereka. InsyAllah, lihatlah rizki anda akan ikut mengalir setelah itu. Sebaliknya, jika hubungan anda dengan ‘dua pasang bidadari’ (baca: hubungan dengan keluarga) ini bermasalah, jangan terkejut jika ada banyak pintu rizki yang seakan tertutup untuk anda.

Poin lainnya adalah bagaimana anda mengoptimalkan otak kanan anda. Otak kanan adalah bagian otak yang biasanya kita gunakan untuk berfikir kreatif dan imaginatif. Sementara otak kiri adalah bagian otak yang bisa digunakan untuk berfikir linear, kalkulatif, dan analitis.

Ipho mengkalaim bahwa karena berbagai sebab, selama ini kita cendrung lebih banyak menggunakan otak kiri kita. Sistem pendidikan kita selama ini cendrung lebih mengasah otak kiri. Karenanya banyak orang pintar secara akademis, punya IPK tinggi, bergelar akademis berderet, namun tak pernah menjadi orang kaya. Sementara, para konglomerat, orang-orang berduit, dan para top manager di banyak perusahaan bonafid kebanyakan adalah ‘orang-orang’ kanan. Mereka menguasai ‘pundi-pundi’ keuangan, walau (mungkin) tak memiliki gelar akademis berderet.

Karenanya, mari gunakan otak kana kita, kata Ipho. Memulai usaha, misalnya, jangan terlalu banyak mikirnya di awal. Yang paling penting jalan dulu. Setelah itu, lihatlah otak kanan anda secara ajaib akan bekerja secara kreatif mencari solusi jika anda mengalami kendala dalam proses menjalankan usaha. Jadi, jika anda punya niat memulai bisnis, lakukan sekarang juga. Action dan action!

Dalam konteks penggunaan otak kanan, Ipho juga menjelaskan tips lainnya, yaitu bagaimana kita memperbanyak sedekah dan memberi dalam berbagai bentuk, agar Allah memberi jauh lebih banyak kepada kita. Orang-orang kiri yang berpikir linear, kata Ipho, cendrung berpikiran bahwa kita baiknya punya (kaya) dulu, baru bersedekah. Sebaliknya, orang kanan justru memulai mempercepat rizki itu dengan mengawalinya bersedekah. Semakin banyak anda memberi, maka lihatlah akan semakin besar yang anda dapatkan.

Sebenarnya ini bukanlah poin yang baru. Kalau kita membaca Al-Quran, sejak lama Allah SWT menjanjikan bahwa jika kita bersedekah itu ibarat kita menanam satu bulir padi yang bisa berkembang menjadi tujuh tangkai, dimana pada setiap tangkai akan menghasilkan seratus bulir padi baru. Intinya Allah telah berjanji bahwa Dia pasti akan membalas setiap sedeqah yang kita lakukan dengan balasan berlipat.

Dan dengan caranya, Ipho mampu meyakinkan peserta untuk bersedeqah lebih banyak jika kita menginginkan percepatan rizki kita. Pada satu sesi, setelah acaranya selesai, bahkan ada peserta yang berani membeli satu mushap Al-Quran yang dibawa Ipho seharga $AU 1.500, (sekitar lima belas juta rupiah) dengan niat sedekah dari pembelian mushaf itu akan disalurkan oleh lembaga sosial Dompet Dhuafa (DD) Republika untuk kegiatan kemanusiaan di Indonesia. Dari laporan DD, pada seminar hari itu, lebih dari $AU 30,000 dana sumbangan yang terkumpul dari para peserta, termasuk bebeapa cincin emas, dan perhiasan lainnya. Luar biasa!

Masih banyak sebenarnya poin dari seminar ini. Maaf, saya tidak bisa menjelaskan semuanya di sini. Khawatir kepanjang dan anda bosan membacanya. Jika anda tertarik, silakan dapatkan dan baca bukunya sendiri ya.🙂

Oh ya, dan tahukah anda, saya sendiri juga mengalami satu keajaiban rizki setelah mengikuti seminar ini. Apakah itu? Ehem, gak usalah ya di share di sini. Hehe …

Selamat berakhir pekan buat anda semua. Barakallahulakum!

Salam dari Melbourne yang lagi panas!

AD

p.s. gambar dicomot dari mbah google ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s