[Xenophobia] “Bunuh Aja Sekalian!”

Butir embun pagi yang bergelantungan pada rerumputan basah itu terlihat berkilau keemasan saat ditempa sinar mentari pagi yang menyeruak dari sela-sela dedaunan pohon aneka jenis yang tumbuh subur di pebukitan kampung. Desa kecil yang berlokasi di kaki bukit barisan dan berpenghuni sekitar 200 KK itu kelihatan sangat damai dan tentram. Mayoritas penduduknya adalah para petani yang bekerja dengan bercocok tanam pada sawah dan ladang di sekitar desa itu. Sebagian lagi adalah pedagang. Mereka yang bekerja di sektor lain, seperti pegawai pemerintahan atau buruh pabrik bisa dihitung dengan jari.

Suasana kas perkampungan sangat terasa pagi itu. Tidak ada kebisingan ala kota besar, seperti Jakarta. Yang terdengar hanyalah suara anak-anak kampung yang berkejaran dan berlarian dengan riang untuk mandi pagi di sungai Batang Tarusan yang membelah kampung. Lengking suara khas mereka yang menjerit senang saat melompat dan mencebur ke sungai yang masih jernih itu menambah syahdunya suasana khas ala desa yang damai.

Desa itu bernama, kampung Talawi, yang berada dalam lingkup Kenagarian Barung-Barung Belantai Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Di sinilah darah saya tertumpah. Air dan tanah kampung inilah yang telah berjasa membesarkan saya. Ada ribuan kenangan yang berserakan di setiap jengkal tanah kampung kecil ini. Berbagai memori indah terpahat pada rimba belantara bukit barisan di sekitar kampung, dimana saya menghabiskan masa kecil saya bermain bersama teman-teman seusia saya; mencari buah durian jika musimnya tiba, berburu rusa, menangkap burung, mencari kayu bakar, dan mengembala kambing. Jiwa saya juga pernah terpaut pada persawahan yang hijau membentang ketika musim semai atau yang menguning di musim panen tiba. Juga pada air sungainya yang masih jernih, tempat favorit saya menghabiskan waktu sepulang sekolah, bermain air dan atau menangkap ikan.

Setelah tamat kuliah dan menikah (dengan gadis yang bukan orang Minang), saya dan keluarga tidak lagi menetap di kampung ini. Kami memilih tinggal di kota Padang, tempat dimana saya pernah mengelola sebuah lembaga pendidikan Bahasa. Tetapi keindahan kampung halaman tetap menjadi alasan kerinduan saya untuk secara rutin pulang kampung. Tidak hanya untuk mengunjungi kedua orangtua saya dan bersilaturrahim dengan keluarga besar, juga untuk menapak tilas berbagai keindahan masa kecil saya. Pulang kampung bagi saya adalah cara yang efektif untuk ‘escape’ dari rutinitas pekerjaan.

Pagi itu adalah hari Minggu dimana saya sedang berada di kampung karena bisa libur dari pekerjaan. Dengan riang saya menuju kedai kecil tidak jauh dari rumah orangtua saya untuk membeli santapan untuk sarapan pagi. Ketan goreng pisang adalah menu favorit saya. Ada juga beberapa menu yang lain, seperti lontong pecal dan bubur kacang hijau (kami menyebutnya ‘bubur kacang padi’).

Di kedai ini saya juga sempat bertemu dengan beberapa bapak-bapak orang kampung saya. Memang diantara budaya orang Minang, terutama yang lak-laki, adalah mereka biasanya pergi ngopi dan duduk di ‘lapau’ (kedai kopi) pada pagi dan malam hari. Mereka bisa menghabiskan waktu satu sampai dua jam nongkrong di kedai kopi ini. Selain sarapan pagi, obrolan di kedai kopi ini bisa melebar kemana-mana. Mulai dari gossip tertentu tentang kejadian atau isu di kampung itu, sampai pada pembicaraan berat, seperti diskusi politik tingkat tinggi ala anggota parlemen pusat. Kami menyebut kebiasaan ngobrol di kedai kopi ini dengan ‘carito lapau’ (bercerita panjang lebar di kedai kopi).

Dari kepala kampung yang saya temui di kedai kopi pagi itu, saya diberitahu bahwa sehari sebelumnya kampung kami telah kedatangan rombongan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari sebuah perguruan tinggi Islam di provinsi kami. Mereka akan menetap dan beraktivitas di kampung kami selama lebih kurang tiga bulan. Direncanakan bahwa pada malam hari Minggu itu akan ada penyambutan resmi dari warga kampung kami di balairung nagari. Bapak kepala kampung itu sekaligus mengundang saya untuk hadir. Sayapun menyanggupi untuk hadir pada acara penyambutan mahasiswa KKN itu.

—oo—

Sekitar jam 7 malam saya sudah hadir di balairung nagari untuk bersiap ikut dalam prosesi penyambutan mahasiswa KKN tersebut. Saya lihat beberapa tetua kampung dan pengurus nagari sudah hadir di lokasi acara. Di pojok sebelah kanan saya perhatikan beberapa lelaki muda berjas yang wajahnya saya tidak familiar sedang berkumpul. Tidak jauh dari mereka juga ada sekelompok perempuan muda berjilbab memakai jas dengan warna sama. Sepertinya mereka adalah para mahasiswa yang bakal melakukan KKN di kampung kami. Malam itu mereka semua memakai jas seragam kampus mereka.

Saya mengambil tempat duduk di barisan kedua kursi yang telah diatur berjejer rapi. Beberapa bapak-bapak orang kampung saya sudah ada di barisan itu. Setelah mengucapkan salam, sayapun menyapa bapak-bapak itu. Kamipun kemudian tenggelam dalam pembicaraan tentang keadaan kampung kami selama saya tidak menetap di kampung.

Sekitar lima belas menit kemudian, bapak wali nagari dan ditemani oleh bapak kepala kampungpun sampai di tempat acara. Itu pertanda bahwa acara penyambutan sudah siap untuk dilaksanakan. Para undangan lainpun mulai mengambil tempat yang sudah disediakan. Seorang lelaki setengah baya berjas rapi yang juga saya tidak kenal terlihat duduk mendampingi bapak wali nagari. Mungkin lelaki itu adalah pak dosen para mahasiswa itu.

Protokol baru saja akan mengumumkan bahwa acara akan segera dimulai, ketika tiba-tiba saya mendengar ada suara perempuan mengeluh sakit dari barisan kursi seblah kanan tadi. Sepertinya suara itu datang dari salah seorang mahasiswi dalam kelompok mahasiswa KKN itu. Suara keluhan itu terdengar cukup keras, sehingga para hadirin semua melihat ke arah sumber suara.

Mahasiswi berjas itu terlihat memegang perutnya, wajahnya kelihatan pucat. Dia berusaha menahan rasa sakit sambil menggigit bibirnya sendiri. Spontan, teman-temannya yang lain mendekatinya. Berusaha bertanya, apa yang dia rasakan, sambil beberapa temannya yang lain memegang dan memijit pundaknya. Dia hanya menjawab singkat dengan nada setengah meringis, ‘sakit sekali di hulu hatiku’, katanya. Dari apa yang saya lihat, saya menduga bahwa mahasiswi ini mungkin sedang sakit perut serius yang saya tidak tahu sebabnya apa.

Melihat kejadian itu, dan karena acara akan dimulai, bapak dosen pembimbingnya berinisiatif untuk mengantar dulu si mahasiswi yang sakit ini pulang ke rumah kos mereka selama KKN yang tidak jauh dari lokasi acara malam itu. Sang dosen memerintahkan seorang mahasiswi dan seorang mahasiswa mengantar si mahasiswi yang sakit. Acarapun kemudian dilanjutkan.

Selesai acara penyambutan yang diisi dengan beberapa kata sambuatan dan sedikit perkenalan dari rombongan mahasiswa KKN itu, saya berniat untuk langsung pulang. Tetapi ketika saya akan mengambil motor saya untuk pulang, saya dengar ada suara teriakan histeris dan sedikit ribut dari sebuah rumah tidak jauh dari motor saya parkir. Teriakan histeris itu ternyata datang dari rumah kosan mahasiswa KKN tadi. Beberapa masyarakat saya lihat datang ke rumah itu. Sayapun ingin tahu apa yang terjadi.

Setelah saya masuk, saya lihat beberapa mahasiswi KKN tadi menangis mengelilingi temannya si mahasiswi tadi yang masih menahan sakit. Yang paling mengejutkan saya adalah ketika salah seorang mahasiswa itu berteriak cukup keras kepada masyarakat yang hadir dengan bahasa Minang,

“Manga kok dak dibunuah se sakalian kawan kami ko? [kenapa gak dibunuh aja sekalian kawan kami ini?],” teriaknya dengan setengah melotot kepada hadirin. Dia mengulang teriakan ini sampai tiga kali.

Hadirin berbisik dan saling pandang satu sama lain. Awalnya saya tidak paham dengan apa yang terjadi, tetapi dari bisikian beberapa masyarakat yang saya dengar, saya mulai mengerti kenapa mahasiswa itu berteriak. Saya memberanikan diri maju mendekati kumpulan mahasiswa itu. Setelah mengucapkan salam dan sedikit memperkenalkan diri, saya pegang pundak si mahasiswa sambil mengatakan,

‘Istighfar, kawan’! Tak baik menuduh masyarakat seperti itu.’

‘Ayo yang sakit ini kita obati, dan kita doakan semoga cepat sembuh’.

Entah kekuatan apa yang menginspirasi, saya kemudian mengambil alih kendali. Saya berbicara dengan pak dosen pembimbing mereka, berunding sebentar dengan bapak kepala kampung yang saya lihat juga ikut datang ke rumah itu. Kami memutuskan untuk segera membawa si mahasiswi yang sakit perut serius itu malam itu juga ke rumah sakit Painan, yang berlokasi sekitar 40 km dari desa kami.

Pendek cerita, Alhamdulillah, setelah memperoleh pengobatan dan perawatan dari dokter jaga di Unit Gawat Darurat, si mahasiswi mulai kelihatan membaik. Rasa sakitnya mulai berkurang. Tiga hari setelah itu, dia sudah dinyatakan sembuh oleh dokter, dan bisa melanjutkan aktivitas KKNnya di kampung kami.

–oo—


Mungkin anda bertanya-tanya, mengapa si mahasiswa tadi berteriak, dan bahkan secara sarkastik meminta temannya dibunuh saja. Saya menyadari jawabannya takkala mendengar bisik-bisik sebagian masyarakat pada malam kejadian itu. Para mahasiswa itu ternyata menduga (lebih tepatnya berprasangka buruk) bahwa sakitnya teman mereka malam itu adalah akibat ulah warga kampung saya yang mereka yakini banyak yang memiliki ilmu hitam (black magic).

Praduga seperti ini berawal jauh sebelum mereka sampai di kampung kami. Segera setelah mereka tahu bahwa penempatan KKN mereka di daerah Pesisir Selatan, sebagian besar diantara mereka pernah mendapat pesan atau cerita dari teman-teman mereka di kampus atau dikosan yang mengingatkan mereka agar berhat-hati ketika memasuki daerah Pesisir Selatan. Kunon daerah ini dianggap berbahaya untuk pendatang seperti mereka, karena (sekali lagi) diyakini bahwa dikampung kami ada banyak orang yang ahli black magic, seperti guna-guna, ‘gasiang tingkurak’ (sejenis santet), atau bahkan racun tertentu yang bisa membunuh seseorang yang tidak disukai.

Cerita dari mulut kemulut yang entah siapa yang memulainya ini berhasil sedemikian rupa mengalahkan akal sehat sebagian mahasiswa yang notabene para calon intelektual itu. Alam bawah sadar mereka kemudian teracuni dengan cerita ‘kesaktian’ kampung kami, dan kemudian persepsi mereka terbentuk bahwa kampung kami adalah kampung yang perlu diwaspadai, dan segala sesuatu bisa saja terjadi terhadap mereka, jika mereka tidak berhati-hati. Persepsi buruk inilah kemudian yang menjadi akar ketakutan dan kekhawatiran mereka.

Inilah barangkali salah satu contoh dari apa yang disebut dengan Xenophobia itu. Persepsi itu telah melahirkan rasa takut yang akut, bahkan telah membunuh rasionalitas para anak muda terdidik itu. Sehingga saat mereka dalam kondisi panik menyaksikan teman mereka yang meraung menahan sakit. Alam bawah sadar mereka yang digerakkan oleh persepsi awal yang sudah terbentuk tadi kemudian dengan cepat bekerja bahwa sakitnya teman mereka pasti disebabkan karena ulah jahat orang kampung saya. Dan tuduhan dalam bentuk teriakan si mahasiswa malam itupun terjadi.

Padahal saat saya langsung bertanya kepada dokter yang mendiagnosa si mahasiswi malam itu, sang dokter mengatakan bahwa diduga si mahasiswa mengidap penyakit magh kronis. Kelelahan, ketidakteraturan pola makan dan beban psikologis yang bersangkutan beberapa hari menjelang mahasiswi itu sampai di kampung kami, menurut dokter, diduga telah memicu penyakit itu kambuh pada malam kejadian itu.

Setelah kejadian ini, para mahasiswa itu secara resmi telah meminta maaf kepada warga kampung kami. Mereka akhirnya bisa beradaptasi dengan baik bersama masyarakat dan bisa menyelesaikan program KKN mereka dengan sukses.

Jadi, para empers sekalian. Berhati-hatilah dengan berita ‘galau’ tentang sesuatu, karena kalau tidak disaring sedemikian rupa, berita itu akan membangun persepsi kita. Dan ingat bahwa respon kita terhadap sebuah kejadian, sangat ditentukan oleh persepsi awal kita kepada kejadian itu.

Di atas segalanya, bagi emper yang mau mencoba indahnya ranah Minang, bermain dan berkelanalah ke kampung kami. InsyAllah orangnya pada baik-baik kok. Hehehe.

One more, believe me that the beutiful land of Minangkabau is one of the recommended places for you to visit before you die. :-))

“Selamat Ramadhan untuk semua anda yang akan menjalaninya!



Tulisan ini diikutkan dalam lomba tentang Xenophobia yang diadakan oleh emper mbak Wayan Lessy, sebagaimana informasi dan pengumuman dalam link ini.

* Cerita ini adalah kejadian nyata sekitar sepuluh tahun yang lalu, dengan beberapa tambahan seperlunya.
* Foto sebagian dokumen pribadi, dan sebagian lagi diambil dari sini , sini, dan dari sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s