[PhD Stories] Melawan Ketidakyakinan

Sahabat semua,

Saya ingin menyampaikan kabar baik terkait perjalanan studi doktoral saya di Monash University Australia. Alhamdulillah, saya telah dinyatakan lulus sidang konfimasi candidature di hadapan panel penguji pada Selasa yang lalu. Sudah lebih seminggu sebenarnya, tapi saya baru sempat menuliskannya sekarang di sini. Bukan karena sibuk belajar sih, tapi lebih karena asyik ‘leyeh-leyeh’ setelah konfirmasi selesai. Lebih tepatnya, asyik menikmati masa ‘break’ dan keluar dari rutinitas belajar yang bikin stress beberapa minggu belakangan.

Bagi kalian yang belum begitu menganal sistem studi doktoral di Australia, berikut saya ceritakan sedikit tentang sidang konfirmasi ini. Pada tahun pertama, mahasiswa PhD biasanya dikategori sebagai mahasiswa yang masih menjalani masa ‘probationary‘ (masa percobaan). Dalam rentang waktu ini, si mahasiswa mempersiapkan proposal penelitiaannya, memepertajam fokus penelitian, memperkuat dan memperkaya literature, memperjelas metode penelitian, dan merancang rencana aksi penelitian itu. Hal itu mereka lakukan, tentu, dengan intens berdiskusi dengan supervisor, dengan sesama mahasiswa PhD di bidang yang sama, atau dengan professor lain di kampus kita yang memiliki research interest yang sama dengan kita. Tidak hanya itu, si mahasiswa juga aktif menghadiri kegitan ilmiah yang rutin diadakan di kampus, seperti seminar, workshop, konferensi ataupun public lecture.

Menjelang akhi satu tahun pertama, mahasiswa PhD ini kemudian diharapkan telah siap menjalani sidang seminar konfirmasi kandidasi mereka. Melihat nature sidang konfirmasi ini, sebenarnya tidak tepat disebut sebagai ‘ujian proposal’, tetapi lebih sebagai kesempatan bagi mahasiswa untuk mendapat masukan konstruktif dari para akademisi di bidangnya, agar rencana penelitiannya layak disebut sebagai sebuah proyek mahasiswa doktoral.

Namun demikian, tetap saja suasana menjelang seminar konfirmasi ini dipenuhi dengan ketegangan, gugup, khawatir, dan takut pada diri mahasiswa. Betapa tidak, sidang ini menentukan masa depan alur penelitian kita. Jika proposal kita dianggap layak, maka kita bisa terus ke tahap berikutnya (data collection, dll), tetapi kalau tidak, banyak hal yang harus tertunda, termasuk semakin memperpanjang masa studi, menambah biaya, dan sebagainya. Karenanya, wajar sidang konfirmasi itu dianggap sebagai satu ‘milestone’ penting yang menentukan perjalanan studi seorang mahasiswa doktoral.

Beberapa hari menjelang sidang konfirmasi ini, saya juga mengalami suasana ‘tekanan perasaan’ seperti ini. Bahwa adakalanya ‘rasa ragu’ atau ‘tidak yakin’ menyapa saya. Tidak hanya saya, bahkan supervisor sayapun kelihatan sedikit ‘tegang’ menunggu hari konfirmasi itu. Bagi supervisor, ‘lulus atau tidak’ mahasiswa bimbingannya pada sidang kondirmasi tentu juga merupakan pertaruhan eksistensi dirinya di hadapan para akademisi lainnya.

Menghadapi tekanan psikologis seperti ini, saya berusaha menenangkan diri saya, berusaha berfikir positif, bahwa InsyAllah semua akan baik-baik aja. Saya berusaha mengumpulkan kepercayaan diri saya, bahwa InsyAllah saya bisa. Diam-diam saya merefleksi ke beberapa episode saya di masa lalu, bahwa saya juga telah pernah mengalami berbagai ujian, tantangan yang tak kalah lebih berat, bahwa saya pernah sukses dalam berbagai perlombaaan, bahwa saya pernah menyampaikan pemikiran saya, tidak hanya dalam banyak forum lokal, tetapi juga nasional, dan bahkan internasional. Saya menguatkan diri saya, sekali lagi, InsyAllah saya bisa.

Tentu saya belajar lebih keras memahami beberapa konsep abstrak yang terus terang dunia baru di bidang saya. Beberapa kali latihan presentasi di hadapan teman-teman dan supervisor saya menjelang hari H. Dan pada malam sebelum hari H seminar itu, saya tidak melakukan apa-apa lagi, kecuali hanya berjalan2 sore keliling kota Clayton, mendengarkan musik kesukaan saya, dan tidur yang cukup.

Pagi menjelang konfirmasi saya datang lebih awal ke ruang seminar. Ditemani supervisor saya, kami mensetup ruangan, membiasakan diri saya dengan suasana ruangan yang lumayan luas itu. Dan akhirnay detik2 presentasi itupun datang. Bismillah, saya pun menyampaikan rencana penelitian saya, dengan berusaha setenang mungkin. Alhamdulillah, singkat cerita, presentasi dan diskusi berjalan lancar.

Setelah diskusi selesai, saya dan hadirin diminta ke luar ruangan. Dan hanya 2 menit, saya kembali lagi setelah dipanggil supervisor saya. Ketua panel, Dr Jill Brown, kemudian mengucapkan ‘Congratulation! You are confirmed. Your proposal is impressive, and your presentation is outstanding. It deserves to present at an international conference”. Katanya.

Alhamdulillah. Tentu saya sangat berbahagia. Tidak hanya karena saya bisa melanjutkan proses penelitian saya ke stage berikutnya. Tapi, yang lebih penting adalah karena saya bisa kembali bertemu dengan keluarga saya secepatnya.🙂 Satu pelajaran adalah bahwa tantangan menjadi mahasiswa PhD tidak hanya terkait dengan bagaimana memahami konsep atau teori yang kadang rumit, tetapi juga bagaimana mengalahkan tekanan atau rasa ketidakyakinan yang muncul dari diri sendiri.

Mohon doa ya kawan2, semoga saya bisa mengatasi berbagai tantangan berikutnya.

* ditulis saat transit di Kuala Lumpur International Airport, menunggu penerbangan selanjutnya  ke tanah air.

* diposting juga di sini

7 thoughts on “[PhD Stories] Melawan Ketidakyakinan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s